Meniti Ilmu di Atas Manhaj Salaf [03]: Nasihat untuk Para Pengikut Manhaj Salaf

Nasihat untuk para pengikut manhaj Salaf

Dari keterangan di atas, jelaslah bagi kita bahwa di antara keistimewaan terbesar yang ada pada manhaj salaf adalah perhatian dan semangat besar mereka dalam mempelajari dan mengamalkan petunjuk Alquran dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka seharusnya kita yang menisbatkan diri kepada manhaj ini berusaha untuk mengikuti petunjuk mereka ini, agar kita termasuk ke dalam golongan “orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka dengan kebaikan” dan mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena kalau bukan kita – terlebih lagi para penuntut ilmu di antara kita – yang semangat mempelajari dan mengamalkan petunjuk Alquran dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka siapa lagi?

Marilah kita camkan bersama nasihat Imam Al-Khatiib Al-Baghdadi([1]) tentang adab-adab utama yang seharusnya dimiliki oleh para penuntut ilmu, beliau berkata, “Seyogyanya para penuntut ilmu hadits (berusaha) membedakan dirinya dari kebiasaan orang-orang awam dalam semua urusan (tingkah laku dan sikap)nya, dengan (berusaha) mengamalkan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semaksimal mungkin, dan membiasakan dirinya mengamalkan sunnah-sunnahnya, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzaab: 21).”

Kemudian Al-Khatiib Al-Baghdadi membawakan beberapa atsar (riwayat) dari ulama Salaf, di antaranya ucapan Imam Al-Hasan Al-Bashri, “Dulu jika seseorang menuntut ilmu agama, maka tidak lama kemudian terlihat (pengaruh ilmu tersebut) pada sifat khusyu’ (tunduk)nya (kepada Allah), tingkah lakunya, ucapannya, pandangannya dan (perbuatan) tangannya.”

Juga atsar dari Imam Ahmad bin Hambal, ketika ada seorang penuntut ilmu yang bermalam di rumah beliau, maka Imam Ahmad menyiapkan air (untuk berwudhu), kemudian paginya Imam Ahmad datang kepada tamunya tersebut dan mendapati air yang beliau siapkan tidak berkurang sama sekali, maka beliau berkata, “Subhanallah (Mahasuci Allah)! Seorang penuntut ilmu tidak melakukan wirid (zikir dan shalat) di malam hari?!!”

Inilah petunjuk para ulama Salaf dalam menjalankan agama ini, yang kita mengaku menisbatkan diri kepada manhaj mereka, akan tetapi sudahkah kita menerapkan petunjuk mereka ini dalam diri kita?

Maka, semoga tulisan ini menjadi koreksi dan penambah motivasi bagi kita untuk lebih semangat mencari ilmu yang bermanfaat([2]) dan berusaha melatih diri mengamalkan ilmu tersebut, serta tidak lupa banyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar kita dimudahkan menempuh manhaj yang lurus ini.

Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan berdoa kepada Allah Ta’ala semoga Dia senantiasa melimpahkan taufik dan petunjuk-Nya kepada kita semua agar kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mengikuti petunjuk para ulama Salaf dengan kebaikan, serta menjadikan kita tetap istiqamah di atas manhaj tersebut sampai akhir hayat kita nantinya, aamin.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 16 Rabi’ul awwal 1429 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim Al-Buthoni, M.A.
Artikel www.manisnyaiman.com


([1]) Dalam kitab beliau Al- Jaami’ li Akhlaaqir Raawi wa Aadaabis Saami’ (1/215).

([2]) Mengenai ilmu yang bermanfaat dan syarat-syarat untuk mendapatkannya, silahkan baca tulisan kami yang berjudul “Ilmu yang Bermanfaat”.

1 comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *