Keutamaan Menundukkan Hawa Nafsu Karena Allah ﷻ

عَنْ فَضَالَةَ بن عُبَيْدٍ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: « الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ »

Dari Fadhalah bin ‘Ubaid رضي الله عنه beliau berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang yang berjihad/berjuang dengan sungguh-sungguh (yang sebenarnya) adalah orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menundukkan hawa nafsunya di jalan Allah ﷻ – dalam riwayat lain: dalam ketaatan kepada Allah –”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menundukkan hawa nafsunya dalam rangka mengikuti ketaatan kepada Allah ﷻ.

Inilah salah satu sifat mulia orang-orang yang akan menjadi penghuni Surga dan dengan ini mereka dipuji dalam al-Qur’an. Allah ﷻ berfirman:

{وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبّهِ وَنَهَى النفس عَنِ الهوى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى}

“Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya (Allah ﷻ) dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (mereka)” (QS an-Naazi’aat: 40-41).

Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata: “Jihad/perjuangan seorang hamba (menundukkan hawa) nafsunya adalah jihad yang paling sempurna”…kemudian beliau menukilkan ayat di atas[2].

Beberapa faidah penting yang dapat kita petik dari hadits ini:

– Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dengan berjihad/berjuang menundukkan (hawa) nafsu adalah mencegah/melawan nafsu dari keinginannya untuk (selalu) menyibukkan diri dengan selain ibadah (ketaatan kepada Allah ﷻ)”[3].

– Berusaha menundukkan nafsu dari keinginannya yang buruk adalah syarat mutlak untuk meraih takwa yang hakiki. Imam besar dari generasi Tabi’in Maimun bin Mihran berkata: “Seorang hamba tidak akan mencapai takwa sehingga dia melakukan muhasabatun nafsi (introspeksi terhadap keinginan jiwa untuk mencapai kesucian jiwa) yang lebih ketat daripada seorang pedagang yang selalu mengawasi sekutu dagangnya (dalam masalah keuntungan dagang), oleh karena itu ada yang mengatakan: jiwa manusia itu ibaratnya seperti sekutu dagang yang suka berkhianat, maka kalau anda tidak selalu mengawasinya, dia akan pergi membawa hartamu (sebagaimana jiwa akan pergi membawa agamamu)”[4].

Salah seorang ulama salaf berkata: “Berakhir perjalanan orang-orang yang mencari (keridhaan Allah ﷻ) ketika mereka telah menundukkan (hawa) nafsu mereka”[5].

– Imam Ibnul Qayyuim rahimahullah berkata: “Orang-orang yang menempuh jalan (untuk mencari keridhaan) Allah ﷻ, meskipun jalan dan metode yang mereka tempuh berbeda-beda, (akan tetapi) mereka sepakat (mengatakan) bahwa nafsu (jiwa) manusia adalah penghalang (utama) bagi hatinya untuk sampai kepada (ridha) Allah , (sehingga) seorang hamba tidak (akan) mencapai (kedekatan) kepada Allah ﷻ kecuali setelah dia (berusaha) menentang dan menguasai nafsunya (dengan melakukan tazkiyatun nufus)”[6].

– Allah ﷻ melimpahkan taufik dan pertolongan kepada hamba-Nya dalam semua kebaikan tergantung dari besar/kecilnya kesabaran dan kesungguhan hamba tersebut dalam berjuang menundukkan hawa nafsunya. Allah ﷻ berfirman:

{وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ}

“Dan orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami berikan hidayah (taufik) kepada mereka (dalam menempuh) jalan-jalan Kami.Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS al-‘Ankabuut: 69).

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “(Dalam ayat ini) Allah ﷻ menggandengkan hidayah (dari-Nya) dengan perjuangan dan kesungguhan (manusia), maka orang yang paling sempurna (mendapatkan) hidayah (dari Allah ﷻ) adalah orang yang paling besar perjuangan dan kesungguhannya”[7].

– Termasuk do’a yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ untuk memohon kepada Allah ﷻ agar nafsu kita dibersihkan dari keinginannya yang buruk adalah: “Ya Allah, anugerahkanlah kepada jiwaku ketakwaannya, dan sucikanlah jiwaku (dengan ketakwaan itu), Engkau-lah Sebaik-baik Yang Mensucikannya, Engkau-lah Yang Menjaga dan Melindunginya”[8].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 28 Rajab 1436 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

[1] HR Ahmad (6/21,22), Ibnu Hibban (11/203) dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam “Shahih al-jaami’ ash-shagiir” (1/201 dan 1/1163).

[2] Dinukil oleh Imam Ibnu Hajar dalam “Fathul Baari” (11/338).

[3] Kitab “Fathul Baari” (11/337-338).

[4] Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab beliau “Ighaatsatul lahfaan” (hal. 147- Mawaaridul amaan).

[5] Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Ighaatsatul lahfaan” (1/75).

[6] Kitab “Ighaatsatul lahfaan” (hal. 132 – Mawaaridul amaan).

[7] Kitab “al-Fawa-id” (hlmn 59).

[8] HSR Muslim dalam “Shahih Muslim” (no. 2722).

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *