Idola Keluarga Muslim (Seri 3): Menjadikan Diri Sebagai Teladan dalam Keluarga

Menjadikan diri sebagai teladan dalam keluarga

Termasuk teladan yang utama bagi keluarga kita adalah diri kita sendiri, karena tentu saja kita adalah orang yang paling dekat dengan mereka dan paling mudah mempengaruhi akhlak dan tingkah laku mereka. Maka, menampilkan teladan yang baik dalam sikap dan tingkah laku di depan anggota keluarga adalah termasuk metode pendidikan yang paling baik dan utama. Bahkan, para ulama menjelaskan bahwa pengaruh yang ditimbulkan dari perbuatan dan tingkah laku yang langsung terlihat terkadang lebih besar dari pada pengaruh ucapan (lihat Al-Mu’in ‘ala Tahshili Adabil ‘Ilmi, hal. 50 dan Ma’alim fi Thariqi Thalabil ‘Ilmi, hal. 124).

Hal ini disebabkan jiwa manusia itu lebih mudah mengambil teladan dari contoh yang terlihat di hadapannya, dan menjadikannya lebih semangat dalam beramal serta bersegera dalam kebaikan (lihat keterangan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsir beliau, hal. 271).

Dalam hal ini, Imam Ibnul Jauzi membawakan sebuah ucapan seorang ulama salaf yang terkenal, Ibarahim al-Harbi (beliau adalah imam besar, penghafal hadits, Syaikhul Islam Ibrahim bin Ishak bin Ibrahim bin Basyir al-Baghdadi al-Harbi (wafat 285 H), biografi beliau dalam Siyaru A’alamin Nubala’, 13/356). Dari Muqatil bin Muhammad al-‘Ataki, beliau berkata, “Aku pernah hadir bersama ayah dan saudaraku menemui Abu Ishak Ibrahim al-Harbi, maka beliau bertanya kepada ayahku, ‘Mereka ini anak-anakmu?’ Ayahku menjawab, ‘Iya.’ (Maka) beliau berkata (kepada ayahku), ‘Hati-hatilah! Jangan sampai mereka melihatmu melanggar larangan Allah, sehingga (wibawamu) jatuh di mata mereka.’” (Kitab Shifatush Shafwah, 2/409).

Syaikh Bakr Abu Zaid, ketika menjelaskan pengaruh tingkah laku buruk seorang ibu dalam membentuk kepribadian buruk anaknya, beliau berkata, “Jika seorang ibu tidak memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), tidak menjaga kehormatan dirinya, sering keluar rumah (tanpa ada alasan yang dibenarkan agama), suka berdandan dengan menampakkan (kecantikannya di luar rumah), senang bergaul dengan kaum lelaki yang bukan mahram-nya, dan lain sebagainya, maka ini (secara tidak langsung) merupakan pendidikan (yang berupa) praktik (nyata) bagi anaknya, untuk (mengarahkannya kepada) penyimpangan (akhlak) dan memalingkannya dari pendidikan baik yang membuahkan hasil yang terpuji, berupa (kesadaran untuk) memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), menjaga kehormatan dan kesucian diri, serta (memiliki) rasa malu, inilah yang dinamakan dengan ‘pengajaran pada fitrah (manusia)'” (Kitab Hirasatul Fadhiilah, hal. 127-128).

-Bersambung insya Allah

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A.
Artikel www.manisnyaiman.com

Artikel terkait:

Idola Keluarga Muslim (Seri 1): Fenomena Pemilihan Idola dalam Masyarakat

Idola Keluarga Muslim (Seri 2): Memilih Teladan dan Idola yang Baik Bagi Keluarga

1 comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *