Hadits Yang Sangat Lemah Tentang Keutamaan Mengunjungi Orang Kaya dan Orang Miskin

بسم الله الرحمن الرحيم

     عن أبي هريرة  قال: قال رسول الله : ((زِيارَةُ الْغَنِيِّ كَاْلقائِمِ الصَّائِمِ، وَزِيارَةُ الْفَقِيْرِ كَالْجِهادِ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَيَعْدِلُ خُطَاهً فِي سَبِيْلِ اللهِ ))

     Dari Abu Hurairah  beliau berkata: Rasulullah  bersabda: “Mengunjungi orang yang kaya (keutamaannya) seperti orang yang shalat lagi berpuasa, dan mengunjungi orang yang miskin (keutamaannya) seperti berjihad di jalan Allah dan sebanding dengan langkah-langkah (kaki) di jalan Allah ”.

Hadits ini dikeluarkan oleh imam Abu Mansur ad-Dailami kitab beliau “Musnadul firdaus”[1] dengan sanad beliau dari ‘Ubaid bin Hisyam al-Jurjaani, dari Muhammad bin al-Azhar, dari ‘Abdul Mun’im bin Nu’aim, dari ‘abdul Gafur, dari Ismail bin ‘Ulayyah, dari Makhul, dari abu Hurairah , dari Rasulullah .

Hadits adalah hadits yang sangat lemah, karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama ‘Abdul Mun’im bin Nu’aim al-Uswari, imam Ibnu Hajar berkata tentangnya: “Dia ditinggalkan (riwayat haditsnya, karena kelemahannya yang sangat parah)”[2].

Dalam sanadnya juga ada perawi yang bernama Muhammad bin al-Azhar al-Jauzajani, imam Ahmad berkata tentangnya: “Janganlah kamu menulis (riwayat hadits) darinya, karena dia selalu meriwayatkan hadits dari para pendusta dan meninggalkan hadist-hadist (riwayat) para perawi yang terpercaya”. Ibnu ‘Adi berkata: “Dia tidak dikenal dan selalu meriwayatkan hadits dari para perawi yang lemah”[3].

Dalam sanad hadits ini juga ada kelemahan lain, yaitu terputusnya sanad, karena Makhul tidak pernah berjumpa dengan shahabat abu Hurairah , sebagaimana penjelasan imam ad-Daraquthni dan dibenarkan oleh imam al-‘Ala-i[4].

Dikarenakan derajat hadits ini yang sangat lemah maka sama sekali tidak boleh dinisbatkan kepada Rasulullah , dan sama sekali tidak bisa dijadikan argumentasi atau sandaran untuk menetapkan keutamaan mengunjungi orang kaya dan orang miskin.

Agama Islam tidak menjadikan keutamaan seorang hamba hanya dilihat pada kekayaan atau kemiskinannya, karena dua hal tersebut tidak dicela atau dipuji pada zatnya. Ukuran kemuliaan seorang hamba di sisi Allah  adalah keimanan dan ketakwaannya. Allah  berfirman:

{إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ}

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu” (QS al-Hujuraat: 13).

Maka orang kaya yang lebih besar rasa syukurnya lebih utama dibanding orang miskin yang lebih sedikit kesabarannya, dan demikian pula sebaliknya.

Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan dua murid beliau: Imam Ibnul Qayyim[5] dan Ibnu Muflih al-Maqdisi[6].

Cukuplah bagi kita semua, hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah  tentang keutamaan mengunjungi saudara kita sesama muslim, karena keimanan dan ketakwaannya, sebagai perwujudan rasa cinta kepadanya karena Allah .

Misalnya, hadits riwayat Abu Hurairah  dari Rasulullah , tentang seorang yang mengunjungi saudara yang dicintainya karena Allah , maka Allah  mengutus padanya malaikat yang kemudian berkata padanya: “Sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana Engkau mencintai saudaramu karena-Nya”[7].

Juga hadits lain dari Rasulullah , tentang keutamaan orang yang mengunjungi saudaranya karena Allah , bahwa malaikat menyeru kepadanya: “Kamu telah berbuat baik, perjalananmu baik, dan kamu telah mengambil tempat tinggalmu di surga”[8].

 

وصلى الله وسلم وبارك و أنعم على عبده ورسوله نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين

Kota Kendari, 9 Rabi’ul akhir 1433 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

 


[1] Dinukil oleh Ibnu Hajar dalam “al-Gara-ibul multaqathah min musnadil firdaus” (no. 384 – Disertasi S2).

[2] Kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 320).

[3] Lihat kitab “al-Kaamil fi dhu’afaa-ir rijaal” (6/132).

[4] Lihat kita “Jaami’ut tahshiil” (hal. 285).

[5] Dalam kitab “’Uddatush shaabiriin” (hal. 146 dan 149).

[6] Dalam kitab “al-Aadaabusy syar’iyyah” (3/468-469).

[7] HSR Muslim (no. 2567).

[8] HR at-Tirmidzi (no. 2008) dan Ibnu Majah (no. 1443), dinyatakan hasan oleh imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *