Renungan Tentang Agungnya Ilmu (Seri 2)

Kisah para ulama salaf dan bukti nyata keagungan ilmu

Sebagai penutup, untuk memperjelas dan melengkapi keterangan di atas, kami akan bawakan beberapa atsar (riwayat) dari biografi para ulama Ahlus sunnah, yang menunjukkan kepada kita besarnya kecintaan dan penghormatan manusia kepada orang-orang yang berilmu, yang bahkan melebihi penghormatan mereka kepada orang-orang yang memiliki harta dan kekuasaan duniawi:

Atsar yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (1/559) (no.817) dari ‘Amir bin Waatsilah bahwa Naafi’ bin ‘Abdil Haarits –yang dijadikan oleh ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu sebagai gubernur wilayah Mekkah– pernah menemui ‘Umar di daerah ‘Asfan, maka ‘Umar bertanya kepadanya, “Siapa yang engkau jadikan penggantimu memimpin penduduk lembah itu (Mekkah)?” Naafi’ berkata, “Ibnu Abza[1].” “‘Umar bertanya (lagi), “Siapa Ibnu Abza itu?” Naafi’ berkata, “(Dia adalah) salah seorang bekas budak dari kalangan kami.” (Maka) ‘Umar berkata, “Engkau menjadikan seorang bekas budak yang memimpin mereka?” Naafi’ berkata, “(Aku memilih dia karena) dia adalah seorang yang (ahli) membaca Alquran dan memiliki ilmu tentang syariat Islam.” (Maka) ‘Umar berkata, “Ketahuilah, sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, ‘Sesungguhnya, Allah akan meninggikan (derajat) suatu kaum dengan kitab (Alquran) ini[2] dan akan merendahkan (derajat) kaum lainnya dengan kitab ini[3] (pula).’”

– Dalam kitab Siyaru A’laamin Nubala’ (2/437) Imam Adz-Dzahaby membawakan sebuah atsar dari Abu Salamah bahwa suatu hari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bangkit menuju ke arah Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu kemudian memegang (menuntun) hewan tunggangan beliau, maka Zaid berkata, “Menyingkirlah wahai putra paman Rasulullah radhiallahu ‘anhu!” Ibnu ‘Abbas pun berkata, “Sungguh beginilah (cara) kami memperlakukan orang-orang yang berilmu dan lebih senior di antara kami.”

– Atsar yang diriwayatkan oleh Imam Ibnul Jauzy dalam kitab beliau Shifatush Shafwah (2/212) dalam biografi seorang imam besar dari kalangan Tabi’in, ‘Atha’ bin Abi Rabah, dari Ibrahim bin Ishak Al-Harby dia berkata, “‘Atha’ bin Abi Rabah dulunya adalah seorang budak (berkulit) hitam milik seorang wanita penduduk Mekkah, (bentuk) hidungnya seperti kacang tanah. (Suatu hari) Amirul Mukminin (khalifah) Sulaiman bin ‘Abdil Malik bersama dua putranya datang menemui beliau (untuk bertanya tentang masalah manasik haji), kemudian duduklah mereka bertiga menghadap beliau yang (pada waktu itu) sedang melakukan shalat (sunnah), setelah selesai shalat (barulah) beliau menghadap kearah mereka, maka tidak henti-hentinya mereka bertanya kepada beliau tentang manasik haji, sampai (akhirnya) beliau memunggungi mereka, kemudian Sulaiman bin ‘Abdil Malik berkata kepada kedua putranya, ‘Berdirilah,’ maka mereka pun berdiri, lalu dia berkata, ‘Wahai kedua putraku, janganlah kalian malas dalam menuntut ilmu, karena sungguh aku tidak bisa melupakan (bagaimana) hinanya kita di hadapan budak (berkulit) hitam ini.’”

Atsar yang diriwayatkan diriwayatkan oleh Imam Abul Hajjaj Al-Mizzy dalam kitab beliau Tahdziibul Kamaal (5/169,  cet. Muassatur Risaalah) dalam biografi Imam ‘Atha’ bin Abi Rabah, dari Al-Ashma’i dia berkata, “(Suatu hari) ‘Atha’ bin Abi Rabah masuk (ke istana menemui) ‘Abdul Malik bin Marwan (khalifah) yang (pada waktu itu) sedang duduk di atas singgasananya dan di sekelilingnya para pembesar dari setiap suku, kejadian ini (berlangsung) di Mekkah ketika ‘Abdul Malik (menunaikan ibadah) haji di masa pemerintahannya. Maka ketika ‘Abdul Malik melihat ‘Atha’, dia (langsung) berdiri (menyambut) dan mengucapkan salam kepadanya, (bahkan) kemudian dia mendudukkan ‘Atha’ bersamanya di atas singgasana, lalu dia duduk dihadapan ‘Atha’ dan berkata kepadanya, ‘Wahai Abu Muhammad (‘Atha’), apa keperluanmu?’ Maka ‘Atha’ berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, bertakwalah kepada Allah di tanah haram Allah (Mekkah) dan tanah haram Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta perhatikanlah kemakmurannya. Bertakwalah kepada Allah terhadap keturunan (para sahabat) Muhajirin dan Anshar, karena sesungguhnya dengan sebab merekalah engkau (bisa) mencapai kedudukan ini. Bertakwalah kepada Allah terhadap para pejuang Islam yang berjihad di garis perbatasan, karena sesungguhnya mereka adalah benteng (pelindung) kaum muslimin. Perhatikanlah keadaan kaum, karena engkau sendirilah yang akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka. Bertakwalah kepada Allah terhadap orang-orang ada di depan pintumu (yang ingin menemuimu), janganlah engkau melalaikan mereka dan menutup pintumu di hadapan mereka (tidak mau menemui mereka).’ Maka ‘Abdul Malik menjawab, ‘Akan aku lakukan.’ Kemudian ‘Atha’ bangkit dan (ingin) pergi, tapi ‘Abdul Malik menahannya dan berkata, ‘Wahai Abu Muhammad, yang engkau minta tadi adalah kebutuhan orang lain dan kami telah penuhi kebutuhan itu, kebutuhanmu sendiri apa?’ Maka ‘Atha’ berkata, ‘Aku tidak punya kebutuhan apapun kepada makhluk.’ Kemudian dia keluar, lalu ‘Abdul Malik berkata, ‘Ini adalah kemuliaan (yang ‘sesungguhnya), ini adalah kedudukan tinggi (yang sebenarnya).’”

Atsar yang juga diriwayatkan oleh Imam Adz-Dzahaby dalam Siyaru A’lamin Nubala’ (8/384) dalam biografi seorang imam besar dari kalangan atba’ut tabi’in, ‘Abdullah bin Al-Mubarak, dari Asy’ats bin Syu’bah Al-Mishshiishy dia berkata, “(Suatu hari Khalifah) Harun Ar-Rasyid berkunjung ke (daerah) Ar-Raqqah, (kemudian datang ‘Abdullah bin Al-Mubarak ke daerah tersebut), maka orang-orang pun berlarian di belakang ‘Abdullah bin Al-Mubarak sehingga sandal-sandal mereka terlepas dan debu beterbangan. Maka, (ketika itu) budak wanita (yang telah mempunyai anak) dari Harun Ar-Rasyid menengok dari bangunan tinggi pada sebuah istana (yang terbuat dari) papan dan berkata, ‘Ada apa?’ Orang-orang pun menjawab, ‘(Ada) seorang yang berilmu (‘Abdullah bin Al-Mubarak) dari Khurasan (baru) datang.’ Maka, wanita tersebut berkata, ‘Demi Allah, inilah kerajaan (kekuasaan yang sebenarnya), bukan (seperti) kekuasaan Harun Ar-Rasyid yang tidak mampu menghimpun manusia, kecuali (dengan bantuan) para prajurit dan pengawal.’”

Atsar[4] yang diriwayatkan oleh Imam Abul Hajjaj Al-Mizzy dalam kitab beliau Tahdziibul Kamaal (5/169) dalam biografi Imam ‘Atha’ bin Abi Rabah, dari Muhammad bin Muslim Az-Zuhry dia berkata, “Aku (pernah) datang menemui (Khalifah) ‘Abdul Malik bin Marwan, lalu dia bertanya, ‘Dari mana engkau datang wahai Zuhry?’ Aku menjawab, ‘Dari Mekkah.’ Dia bertanya (lagi), ‘Siapa yang engkau tinggalkan (di sana) memimpin Mekkah dan penduduknya?’ Aku menjawab, ‘‘Atha’ bin Abi Rabah.’ Dia berkata, ‘(Apakah) dia dari (kalangan) orang Arab (asli) atau dari (kalangan) orang-orang bekas budak?’ (Maka) aku menjawab, ‘(Dia) dari kalangan bekas budak.’ Dia berkata (lagi), ‘Dengan apa dia memimpin mereka?’ Aku menjawab, ‘Dengan agama (ketaatan beribadah) dan riwayat (pengetahuan tentang hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). (Maka) dia berkata, ‘Sesungguhnya orang yang taat beribadah dan memiliki pengetahuan tentang hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memang pantas untuk memimpin (manusia), siapakah yang memimpin penduduk Yaman?’ Aku menjawab, ‘Thaawus bin Kaisan.’ Dia bertanya (lagi), ‘(Apakah) dia dari (kalangan) orang Arab (asli) atau dari (kalangan) orang-orang bekas budak?’ (Maka) aku menjawab, ‘(Dia) dari kalangan bekas budak.’ Dia berkata (lagi), ‘Dengan apa dia memimpin mereka?’ Aku menjawab, ‘Dengan apa yang dimiliki ‘Atha’.’ (Maka) dia berkata, ‘Sungguh dia pantas untuk itu, siapakah yang memimpin penduduk Mesir?’ Aku menjawab, ‘Yazid bin abi Habiib.’ Dia bertanya (lagi), ‘(Apakah) dia dari (kalangan) orang Arab (asli) atau dari (kalangan) orang-orang bekas budak?’ (Maka) aku menjawab, ‘(Dia) dari kalangan bekas budak.’ Dia bertanya (lagi), ‘Siapakah yang memimpin penduduk Syam?’ Aku menjawab, ‘Makhul.’ Dia bertanya (lagi), ‘(Apakah) dia dari (kalangan) orang Arab (asli) atau dari (kalangan) orang-orang bekas budak?’ (Maka) aku menjawab, ‘(Dia) dari kalangan bekas budak, (dulunya) dia seorang budak dari (suku) Nauby kemudian dibebaskan oleh seorang wanita dari (suku) Hudzail.’ (Kemudian) dia bertanya, ‘Siapakah yang memimpin penduduk Jazirah?’ Aku menjawab, ‘Maimun bin Mihran.’ Dia bertanya (lagi), ‘(Apakah) dia dari (kalangan) orang Arab (asli) atau dari (kalangan) orang-orang bekas budak?’ Aku menjawab, ‘(Dia) dari kalangan bekas budak.’ Dia bertanya (lagi), ‘Siapakah yang memimpin penduduk Khurasan?’ Aku menjawab, ‘Adh-Dhahhak bin Muzahim.’ Dia bertanya (lagi), ‘(Apakah) dia dari (kalangan) orang Arab (asli) atau dari (kalangan) orang-orang bekas budak?’ Aku menjawab, ‘(Dia) dari kalangan bekas budak.’ (Kemudian) dia bertanya (lagi), ‘Siapakah yang memimpin penduduk Bashrah?’ Aku menjawab, ‘Al-Hasan Al-Bashry.’ Dia bertanya (lagi), ‘(Apakah) dia dari (kalangan) orang Arab (asli) atau dari (kalangan) orang-orang bekas budak?’ Aku menjawab, ‘(Dia) dari kalangan bekas budak.’ (Akhirnya) dia berkata, ‘Celaka engkau, lalu siapa yang memimpin penduduk Kufah?’ Aku menjawab, ‘Ibrahim An-Nakha’i.’ Dia bertanya (lagi), ‘(Apakah) dia dari (kalangan) orang Arab (asli) atau dari (kalangan) orang-orang bekas budak?’ Aku menjawab, ‘(Dia) dari (kalangan) orang Arab (asli).’ (Maka) dia berkata, ‘Celakah engkau Wahai Zuhri, engkau telah membuatku merasa lega (dengan ucapanmu yang terakhir), demi Allah sungguh orang-orang bekas budak akan memimpin orang-orang Arab (asli) di negeri (Arab) ini, sehingga (nantinya) mereka akan berceramah di atas mimbar-mimbar dan dan orang-orang Arab (duduk mendengarkan) di bawah mimbar.’ (Maka) akupun berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, (semua itu sebabnya) tidak lain adalah diin (agama), barangsiapa yang menjaganya, maka dia akan menjadi pemimpin (umat), dan barangsiapa yang tidak menghiraukannya, maka dia akan direndahkan.’”

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا الحمد لله رب العالمين

Madinah, 7 Shafar 1428 H (24 feb 2007)

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim Al-Buthany, M.A.
Artikel www.manisnyaiman.com


[1] Nama lengkapnya Sa’id bin ‘Abdir Rahman bin Abza Al-Khuza’i maulaahum Al-Kuufy, beliau adalah seorang dari kalangan tabi’in yang tsiqah (terpercaya) dalam meriwayatkan hadits (lihat kitab Taqriibut Tahdziib hal. 188, cet. Daaru Ibni Rajab).

[2] Yaitu dengan mengimani, mengagungkan dan mengamalkan kandungan maknanya secara ikhlas (kitab Faidhul Qadiir, 2/302).

[3] Yaitu dengan tidak mengimani dan mengamalkan kandungannya (ibid).

[4] Sanad atsar ini sangat lemah, karena ada seorang perawinya yang bernama Al-Walid bin Muhammad Al-Muwaqqary, Ibnu Hajar mensifatinya sebagai seorang yang matruk (ditinggalkan riwayatnya), Lihat kitab Taqriibut Tahdziib (hal. 539).

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *