Mengembalikan Kejayaan Umat Islam (Seri 1)

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Kejayaan Islam dan umatnya adalah harapan yang harus ada dalam benak semua orang yang benar-benar beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari kemudian. Karena diantara perkara yang bisa membatalkan keislaman seseorang adalah merasa senang dengan kejatuhan dan kemunduran agama Islam dan justru tidak mengharapkan kejayaan dan ketinggian Islam tersebut[1]. Sebagaimana termasuk konsekwensi keimanan seorang muslim adalah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh saudaranya sesama muslim, dengan turut merasa prihatin dan berduka atas semua penderitaan yang mereka alami, kemudian berusaha membantu meringankan beban mereka, minimal dengan berdoa, serta berusaha mencari jalan keluar terbaik untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam kecintaan dan kasih sayang di antara mereka adalah seperti satu badan, jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh (anggota) tubuh lainnya ikut merasakan (sakit tersebut) karena susah tidur dan demam[2].”

Dalam hadits shahih lainnya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

“Tidaklah sempurna keimanan seseorang sampai dia menyukai (kebaikan) untuk saudaranya (sesama muslim) sebagaimana dia menyukai (kebaikan tersebut) untuk dirinya sendiri[3].”

Bukan merupakan rahasia lagi, apa yang kita dengar dan saksikan pada jaman sekarang ini, yaitu kondisi yang memprihatinkan dan penderitaan yang menimpa kaum muslimin di berbagai penjuru dunia saat ini, berupa penindasan, penganiayaan, penghinaan dan lain-lain. Semua ini seolah-olah mengesankan bahwa agama Islam ini bukanlah agama yang tinggi dan mulia, dan tidak adanya pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kaum muslimin, sehingga mereka tidak memiliki daya dan kekuatan untuk menghadapi musuh-musuh mereka.

Padahal dalam banyak ayat Alquran Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa ketinggian, kemuliaan dan kejayaan serta pertolongan dari-Nya hanyalah diperuntukkan bagi agama-Nya yang benar dan bagi orang-orang yang berpegang teguh dengan agama ini.

Dalil-dalil yang Menunjukkan Kejayaan dan Ketinggian Umat Islam

Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,

{هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ}

“Dialah (Allah Subhanahu wa Ta’ala) yang mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya (agama itu) atas semua agama (lainnya), walupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.” (QS. At-Taubah:33, dan QS. Ash Shaff:9).

Dalam ayat lain Dia berfirman,

{وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لا يَعْلَمُونَ}

“…Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, milik Rasul-Nya dan milik orang-orang yang beriman, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahaminya.” (QS. Al Munaafiquun: 8).

Juga dalam firman-Nya,

{وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ}

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu (benar-benar) beriman.” (QS. Ali ‘Imraan: 139).

Dan dalam firman-Nya,

{وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ}

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa, mereka senantiasa menyembah-Ku (samata-mata) dan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.” (QS. An Nuur:55).

Syarat Terwujudnya Janji Allah tersebut

Akan tetapi, kalau kita perhatikan dan renungkan dengan seksama ayat-ayat tersebut di atas, kita dapati bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya menyebutkan janji-Nya untuk memberikan kemuliaan, ketinggian dan pertolongan-Nya bagi kaum muslimin, tetapi Dia Subhanahu wa Ta’ala juga mengisyaratkan adanya syarat yang harus dipenuhi oleh kaum muslimin agar janji Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut dapat terwujud. Syarat itu adalah berpegang teguh dengan petunjuk dan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan kembali kepada Alquran dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dengan pemahaman dan pengamalan yang benar.

Dalam ayat yang pertama Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan “Azh Zhuhur” (kemenangan/kejayaan) bagi agama ini dengan petunjuk dan agama yang benar yang di bawa oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alahi wa sallam. Ini berarti bahwa umat Islam tidak akan mendapatkan kemenangan dan kejayaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan dalam ayat tersebut, kecuali jika mereka berpegang teguh dengan petunjuk dan agama yang benar tersebut. Makna petunjuk dan agama yang benar adalah ilmu yang bermanfaat dan amalan shaleh[4].

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam menafsirkan ayat di atas berkata, “…Adapun agama Islam sendiri, maka sifat (yang Allah sebutkan dalam ayat) ini (kemenangan dan ketinggian) akan terus ada padanya di setiap waktu, karena tidak mungkin ada yang mampu mengalahkan dan melawannya, (kalau ada yang berusaha untuk melawannya) maka Allah akan mengalahkannya dan menjadikan ketinggian serta kemenangan untuk agama ini. Sedangkan orang-orang yang menisbatkan diri kepada agama ini (kaum muslimin), jika mereka menegakkan agama ini, dan mengambil petunjuk serta bimbingan dari cahayanya untuk kebaikan agama dan (urusan) dunia mereka, maka demikian pula tidak ada seorangpun yang mampu melawan mereka, dan mereka pasti akan mengalahkan pemeluk agama lainnya, (akan tetapi) jika mereka tidak memperdulilkan agama ini, dan hanya mencukupkan diri dengan menisbatkan diri kepadanya (tanpa berusaha memahami dan mengamalkannya dengan benar), maka yang demikian tidak bermanfaat bagi mereka (untuk menguatkan kedudukan mereka), (bahkan) ketidakperdulian mereka terhadap agama ini merupakan sebab (utama) kekalahan dan kerendahan mereka di hadapan musuh-musuh mereka, kenyataan ini diketahui oleh orang yang mencermati keadaan manusia dan mengamati kondisi kaum muslimin di awal (kedatangan Islam) sampai di akhirnya[5].”

Demikian pula dalam ayat yang kedua Allah ‘Azza wa Jalla menggandengkan “Al ‘Izzah” (kemuliaan) dengan ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alahi wa sallam serta keimanan yang benar. Sebagaimana dalam ayat yang ketiga Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan “Al ‘Uluw” (ketinggian) juga dengan keimanan yang kuat dan benar.

Kemudian, lebih jelas dalam ayat yang keempat Allah menyebutkan bahwa janji kekuasaan di muka bumi, keteguhan agama dan keamanan hanya Allah peruntukkan bagi orang-orang yang beriman (dengan benar) dan mengerjakan amal shaleh, yang mana landasan utama iman yang benar dan amal shaleh yang terbesar adalah mentauhidkan (mengesakan) Allah dalam beribadah dan menjauhi perbuatan syirik, sehingga Allah menyebutkan keadaan orang-orang yang terwujud pada mereka janji Allah tersebut, “…Mereka senantiasa menyembah-Ku (samata-mata) dan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun.”

Imam Ibnu Katsir ketika mengomentari ayat di atas berkata, “Ini adalah janji dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bahwa Dia akan menjadikan umat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam penguasa di muka bumi, yaitu pemimpin umat manusia, yang dengan mereka akan baik (keadaan) seluruh negeri dan semua manusia akan tunduk. Dan Dia akan menggantikan rasa takut mereka kepada manusia menjadi rasa aman, bahkan (merekalah yang menjadi) penegak hukum bagi manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewujudkan janji-Nya ini – dan hanya milik-Nyalah segala puji dan karunia –, karena sebelum Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam wafat Allah telah menundukkan untuk beliau negeri Mekkah, Khaibar, Bahrain, dan seluruh daratan Arab, serta semua wilayah Yaman…(Kemudian) para sahabat radhiallahu ‘anhum karena mereka setelah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam adalah orang-orang yang paling kuat dalam melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan paling taat kepada-Nya, maka (besarnya) pertolongan (yang Allah berikan kepada) mereka sesuai dengan (besarnya ketaatan) mereka. Mereka menegakkan kalimat (agama) Allah di belahan bumi bagian timur maupun barat, maka Allah benar-benar meneguhkan mereka (dengan pertolongan besar), sehingga mereka berhasil menguasai seluruh umat manusia dan berbagai negeri. Dan tatkala umat Islam sepeninggal mereka kurang dalam melaksanakan perintah Allah, maka kejayaan merekapun berkurang sesuai dengan (kurangnya ketaatan) mereka[6].”

Kesimpulannya, janji yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sampaikan dalam Alquran untuk memberikan kejayaan, kemulian dan pertolongannya bagi kaum muslimun adalah janji yang benar dan tidak akan dilanggar, dengan catatan jika syarat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tentukan dipenuhi oleh kaum muslimin. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati diri-Nya dalam Alquran dengan firman-Nya,

{وَعْدَ اللَّهِ لا يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ}

“(Sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Ruum:6).

Juga dengan firman-Nya,

{وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثاً}

“Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah.” (QS. An-Nisaa': 87).

-Bersambung insya Allah

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim Al-Buthani, M.A.
Artikel www.manisnyaiman.com


[1] Lihat kitab Taisiirul Wushul Syarhu Tsalaatsatil Ushul (hal. 40).

[2] HR. Muslim (4/1999) dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu.

[3] HR. Bukhari 1/14 dan Muslim (1/67) dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.

[4] Taisiirul Kariimir Rahmaan, (hal. 631).

[5] Taisiirul Kariimir Rahmaan, (hal. 631).

[6] Tafsir Ibnu Katsir (3/401).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>