Memahami Makna “Kedekatan” dan “Kebersamaan” Allah

Memahami aqidah Islam dan iman kepada Allah  dengan benar merupakan sebab utama sempurnanya amal kebaikan dan bertambahnya kemuliaan diri seorang hamba lahir dan batin. Karena keimanan yang benar dan keyakinan yang lurus dalam hati merupakan motivator dan pendorong kuat bagi seluruh anggota badan untuk melakukan amal-amal kebaikan dan ketaatan kepada Allah .

Oleh karena itu, Rasulullah  menggambarkan baik atau buruknya perbuatan anggota badan manusia, setelah taufik dari Allah , sangat bergantung kepada baik atau buruknya keyakinan dan keimanan yang terdapat di dalam hatinya[1]. Rasulullah  bersabda:

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia”[2].

Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata: “Dalam hadits ini terdapat isyarat bahwa kebaikan amal perbuatan anggota badan seorang hamba, berpalingnya dari perbuatan yang diharamkan (oleh Allah ) dan berhati-hatinya terhadap perkara yang syubhat (tidak jelas/samar hukumnya), (itu semua terwujud) sesuai dengan benarnya keyakinan (dalam) hati hamba tersebut.

Kalau hati seorang hamba bersih (dari kotoran dan keyakinan yang rusak) dan tidak ada padanya kecuali kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada hal-hal yang dicintai-Nya, serta rasa takut kepada-Nya dan kepada hal-hal yang dimurkai-Nya, (maka pada saat itulah) perbuatan semua anggota badannya akan baik. Kemudian itu akan menjadikannya menjauhi semua perbuatan yang diharamkan (oleh Allah ), bahkan berhati-hati terhadap perkara yang syubhat karena khawatir terjerumus ke dalam perkara yang haram.

(Sebaliknya) kalau hati seseorang rusak (karena keyakinannya salah) dan telah dikuasai keinginan memperturutkan hawa nafsu dan menurutinya meskipun dalam hal-hal yang dimurkai Allah, (maka pada saat itulah) akan rusak perbuatan semua anggota badan serta mudah tertarik kepada semua perbuatan maksiat dan perkara yang syubhat, sesuai dengan dominasi hawa nafsu dalam hatinya”

Oleh karena itu ada (ulama) yang berkata: “Hati manusia adalah raja (pemimpin/penggerak) bagi seluruh anggota badannya, sedangkan seluruh anggota badannya adalah prajurit bagi hati. Mereka selalu taat, mengikuti dan melaksanakan perintah-perintahnya, serta tidak pernah melanggar titahnya. Maka kalau raja ini baik, tentu para prajuritnya akan baik, (sebaliknya) kalau raja ini buruk, tentu para prajuritnya akan sama buruknya”.

Tidaklah bermanfaat di sisi Allah (pada hari kiamat kelak) kecuali hati yang bersih, sebagaimana firman-Nya:

{يَوْمَ لا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ، إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ}

“(Yaitu) di hari (kiamat) harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS asy-Syu’araa’: 88-89)”[3].

Di samping itu, keimanan yang benar dan keyakinan yang lurus, ibaratnya seperti sebuah pondasi yang sangat kokoh dan kuat sehingga mampu menopang semua amal-amal kebaikan besar yang dibangun di atasnya.

Dalam menggambarkan hal ini, Imam Ibnul Qayyim – semoga Allah merahmatinya – berkata: “Barangsiapa yang ingin meninggikan bangunannya maka hendaknya dia menguatkan dan mengokohkan pondasinya, serta bersungguh-sungguh memperhatikannya. Karena sesungguhnya ketinggian bangunan sesuai dengan kadar kekuatan dan kekokohan pondasinya. Maka amal perbuatan dan (tinggi-rendahnya) derajat (dalam Islam) adalah bangunan yang pondasinya adalah keimanan, semakin kuat pondasi tersebut maka dia akan (mampu) menopang bangunan yang berdiri di atasnya, kalaupun (terjadi) sedikit kerusakan pada bangunan maka (akan) mudah diperbaiki. (Adapun) jika pondasinya tidak kuat, maka bangunan tidak akan (bisa) ditegakkan (di atasnya) serta tidak kokoh, dan jika (terjadi) sedikit (saja) kerusakan pada pondasi tersebut maka bangunan akan roboh atau (minimal) hampir roboh.

Orang yang mengenal (Allah  dan agama-Nya) perhatian (utama)nya (tertuju pada upaya) perbaikan dan penguatan pondasi (imannya), sedangkan orang yang jahil (tidak paham agama) akan (berusaha) meninggikan bangunan tanpa (memperhatikan perbaikan) pondasi, sehingga tidak lama kemudian bangunan tersebut akan roboh. Allah  berfirman:

{أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ}

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan(-Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam?” (QS At Taubah:109).

(Permisalan) pondasi (iman) bagi amal perbuatan (dalam Islam) adalah seperti kekuatan (fisik) pada badan manusia, jika kekuatan (fisiknya) prima maka dia akan mampu menopang badan dan melindunginya dari banyak (macam) penyakit, dan (sebaliknya) jika kekuatan (fisiknya) lemah maka dia tidak akan kuat menopang badan dan (menyebabkan) berbagai (macam) penyakit dengan cepat (menyerang) badan tersebut.

Maka topanglah (dirikanlah) bangunan (amal)mu di atas kokohnya pondasi iman, (yang) kalaupun (terjadi) sedikit kerusakan pada bagian atas dan atap bangunan, maka mudah bagimu untuk memperbaikinya daripada (jika terjadi) kerusakan (pada bagian) pondasi.

Pondasi amal ini adalah dua perkara: (yang pertama): ma’rifah (pengenalan dan pengetahuan) yang benar terhadap Allah, perintah-Nya (syariat-Nya), serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Yang kedua: memurnikan ketundukan (ketaatan) kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya , dan tidak kepada yang lainnya.

Inilah pondasi paling kuat yang melandasi bangunan amal seorang hamba, dan sesuai dengan (kekuatan) pondasi itulah bangunan akan (bisa) ditinggikan sesuai dengan keinginannya”[4].

 

Allah  Maha dekat dan bersama hamba-Nya

Di antara pembahasan yang sangat penting dalam masalah aqidah dan iman kepada Allah  adalah pembahasan tentang makna kedekatan dan kebersamaan Allah  dengan makhluk-Nya. Memahami pembahasan ini dengan benar dan sesuai dengan pemahaman para ulama Ahlus sunnah, di samping akan mengokohkan iman dan keyakinan seorang hamba, juga akan memudahkannya, dengan taufik Allah , untuk meraih kedudukan dan kemuliaan yang agung di sisi-Nya, sebagai buah manis dari keimanan yang benar terhadap dua sifat Allah  yang maha tinggi ini.

Allah  maha dekat dan Dia  memiliki sifat ‘dekat’ dengan hamba-Nya dengan kedekatan yang sesuai dengan kemahatinggian dan kemahaagungan-Nya. Allah  berfirman:

{وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ، فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ}

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku maha dekat. Aku akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS al-Baqarah: 186).

Dalam ayat lain, Dia  juga berfirman:

{وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ}

“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada sembahan (yang benar) bagimu selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku maha dekat lagi maha memperkenankan (doa hamba-Nya)” (QS Huud: 61).

Allah  maha dekat dengan kedekatan yang khusus bagi hamba-hamba-Nya yang taat beribadah, mencintai, selalu berdoa dan mengikuti petunjuk-Nya. Inilah sifat maha dekat yang sesuai dengan kemahatinggian dan kemahaagungan-Nya, hakikatnya tidak bisa dijangkau pikiran manusia, karena terbatasnya ilmu mereka, akan tetapi pengaruh positifnya dapat kita rasakan, berupa limpahan kebaikan, rahmat, perhatian dan taufik-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Termasuk pengaruh positif sifat maha agung ini adalah pengabulan doa bagi hamba-hamba-Nya yang memohon dan ganjaran pahala bagi hamba-hamba-Nya yang taat beribadah[5].

Demikian pula halnya dalam memahami sifat ‘kebersamaan’ Allah  dengan mahluk-Nya. Allah  bersama hamba-hamba-Nya dengan kebersamaan yang sesuai dengan kemahatinggian dan kemahaagungan-Nya. Dan ini tidak berarti bahwa Dia  ada di semua tempat di bumi ini, karena Allah  maha tinggi di atas semua mahluk-Nya dan dia beristiwaa’ (tinggi berada) di atas ‘Arsy-Nya.

Allah  berfirman dalam al-Qur-an tentang sifat ketinggian-Nya di atas ‘Arsy-Nya dan kebersamaan-Nya dengan makhluk-Nya, yang kedua sifat maha mulia ini tidak bertentangan:

{هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ، يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا، وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ}

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia beristiwaa’ (tinggi berada) di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang ke luar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS al-Hadiid: 4).

Arti ‘kebersamaan’ Allah  dengan makhluk-Nya adalah kebersamaan yang sesuai dengan kemahatinggian-Nya, yang mengandung arti bahwa Allah  meliputi semua makhluk-Nya dengan pengetahuan-Nya, penglihatan-Nya, pengawasan-Nya, pendengaran-Nya, kekuasaan-Nya dan sifat-sifat maha sempurna Allah  lainnya yang merupakan makna Rububiyah-Nya[6].

Inilah makna yang dijelaskan oleh para Imam Ahli tafsir dari kalangan Ahlus sunnah wal jama’ah, ketika menafsirkan ayat ini:

Imam Muhammad bin Jarir ath-Thabari berkata: “(Artinya): Dialah yang maha menyaksikan kalian semua wahai manusia, di manapun kalian berada maka Dia maha mengetahui keadaan, perbuatan, kesibukan dan diammu, sedangkan Dia (maha tinggi) di atas ‘Arsy-Nya di atas langit ke tujuh”[7].

Imam Ibnu Katsir berkata: “Artinya: Dia maha mengawasi kalian lagi menyaksikan perbuatan-perbuatan kalian, kapan dan di manapun kalian berada, di darat maupun di laut, di waktu malam maupun siang, di dalam rumah atau di tempat yang sunyi. Pengetahuan-Nya meliputi semua mahluk-Nya secara menyeluruh, semua dalam pengawasan dan pendengaran-Nya. Dia mendengar (semua) ucapan serta meyaksikan (semua) keadaan kalian. Dan Dia mengetahui apa yang kalian tampakkan dan rahasiakan”[8].

Syaikh ‘Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di berkata: “Kebersamaan Allah (dalam ayat ini maknanya) kebersamaan (dengan) pengetahuan dan pengawasan-Nya (terhadap semua makhluk-Nya)”[9].

 

Penafsiran yang sesuai dengan manhaj Salaf

Penafsiran dan makna yang dijelaskan oleh para ulama ini sama sekali tidak bertentangan dengan kaidah agung dari para ulama Salaf, seperti Imam al-Auza’i, Malik bin Anas dan Sufyan ats-Tsauri, dalam memahami nama-nama dan sifat Allah , yaitu mengartikannya sesuai dengan makna zhahir (tekstual)nya dalam bahasa Arab, tanpa menyelewengkan maknanya dan tanpa menyerupakannya dengan makhluk[10].

Karena makna ini sangat sesuai dengan makna ‘kebersamaan’ dalam bahasa Arab, bahkan juga bahasa Indonesia.

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin berkata: “Lafazh ‘al-ma’iyyah’ (artinya: bersama) dalam bahasa ‘Arab (mengandung arti) kebersamaan mutlak, artinya lebih luas dari apa yang disangka oleh sebagian orang. Lafazh ini kadang bisa berarti ‘bercampur’, kadang berarti ‘bersama di satu tempat’, kadang juga berarti ‘kebersamaan mutlak’ meskipun tempatnya berbeda. Maka lafazh ini memiliki tiga arti:

1- Contoh ‘al-ma’iyyah’ yang mengandung arti ‘bercampur’: Orang yang berkata: “Berikanlah aku minuman susu bersama air”, artinya: susu yang dicampur dengan air.

2- Contoh ‘al-ma’iyyah’ yang mengandung arti ‘bersama di satu tempat’: Ucapan anda: “Aku melihat Zaid bersama Ahmad berjalan berdua dan singgah berdua”.

3- Contoh ‘al-ma’iyyah’ yang tidak berarti ‘bercampur’ dan tidak berarti ‘bersama di satu tempat’: Orang yang berkata: “Panglima itu selalu bersama pasukannya”, meskipun dia di ruang komandonya (sedangkan pasukannya di luar) tapi dia selalu mengarahkan (dan mengawasi) mereka. Maka ini tidak mengandung arti ‘bercampur’ atau ‘bersama di satu tempat’”[11].

Untuk point yang ketiga, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan contoh ucapan musafir yang berjalan di malam hari: “Kami terus berjalan dan Rembulan bersama kami”¸ atau “Bintang bersama kami”[12]. Padahal bulan dan bintang ada di langit, tapi karena cahayanya yang menyertai perjalanan musafir tersebut maka disebut bersamanya[13].

Bahkan contoh dalam bahasa Indonesia lebih memperjelas makna ini. Misalnya, kita pernah mendengar khathib (penceramah) di waktu hari Raya mengatakan di awal ceramahnya: “Pada hari ini, kaum Muslimin di negeri ini bersama-sama melaksanakan shalat ‘ied (hari raya) sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah ”.

Tentu ini bukan berarti mereka semua melaksanakan shalat ‘ied di tempat/tanah lapang yang satu, karena masing-masing melaksanakannya di daerahnya sendiri, tapi karena harinya sama, perhatiannya sama, kegembiraannya sama dan semangatnya sama maka dikatakan “bersama-sama melaksanakan shalat ‘ied (hari raya)”.

Demikian pula misalnya, ketika seorang penyiar televisi berkata kepada para pemirsa: “Marilah kita bersama mendengarkan dan menyimak pidato kenegaraan bapak Presiden”. Tentu tidak berarti semua pemirsa mendengarkan dan menyimak dalam satu ruangan, karena masing-masing berada di rumahnya sendiri-sendiri, tapi karena perhatian mereka sama, meskipun mereka tidak berdekatan, maka dikatakan mereka bersama mendengarkan dan menyimaknya.

Berdasarkan keterangan di atas, jelas bahwa makna ‘kedekatan’ dan ‘kebersamaan’ Allah  tidaklah seperti yang dipahami oleh orang-orang yang bodoh dan sesat, bahwa Allah  dzat-Nya ada di semua tempat di bumi ini, maha suci Allah  dari sifat-sifat buruk yang mereka katakan. Karena Allah  Dialah yang mengabarkan tentang diri-Nya dalam banyak ayat al-Qur’an bahwa Dia  maha tinggi di atas semua makhluk-Nya dan Dia  beristiwaa’ (tinggi berada) di atas ‘Arsy-Nya[14].

Tidak ada pertentangan antara sifat ‘kedekatan’ dan ‘kebersamaan’ Allah  dengan sifat ‘maha tinggi’-Nya, karena Dia  tidak serupa dengan makhluk-Nya dalam semua sifat kesempurnaan-Nya. Allah  berfirman:

{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ}

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS asy-Syuura: 11).

Maka Allah  maha tinggi dalam ‘kedekatan’-Nya dan maha dekat dalam ‘ketinggian’-Nya”[15].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sungguh termasuk dalam hal yang telah kami sebutkan tentang iman kepada Allah, (yaitu) mengimani berita yang Allah sampaikan dalam al-Qur’an dan Rasulullah  dalam hadits-hadits yang mutawatir (sangat banyak jalur periwayatannya), serta disepakati oleh para ulama Salaf (Ahlus sunnah wal jama’ah), bahwa Allah  maha tinggi di atas langit ke tujuh, di atas ‘Arsy-Nya (dan) terpisah dari makhluk-Nya. Dan Dia  bersama makhluk-Nya di manapun mereka berada, Dia maha mengetahui apa yang mereka perbuat.

Sebagaimana Allah menggabungkan antara dua sifat ini (maha tinggi dan bersama makhluk-Nya) dalam firman-Nya:

{هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ، يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا، وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ}

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia beristiwaa’ (tinggi berada) di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang ke luar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS al-Hadiid: 4).

Bukanlah makna firman-Nya “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada” bahwa Dia  bercampur dengan makhluk-Nya, karena makna yang demikian tidak mesti (bukan makna satu-satunya) dalam bahasa ‘Arab[16], dan ini bertentangan dengan kesepakatan para ulama Salaf serta tidak sesuai dengan fitrah yang Allah tetapkan pada makhluk-Nya.

Bahkan Bulan yang merupakan salah satu tanda-tanda (kekuasaan dan kebesaran) Allah dan termasuk makhluk-Nya yang kecil, tempatnya di langit tapi dia bersama musafir dan selainnya (dengan cahayanya) di mana saja dia berada.

Allah  maha tinggi di atas ‘Arsy-Nya, maha mengawasi, maha menyaksikan dan meliputi semua makhluk-Nya dengan pengetahuan-Nya, serta makna-makna Rububiyah-Nya yang lain”[17].

 

Makna umum dan khusus

Para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah membagi sifat al-ma’iyyah (kebersamaan Allah ) dengan makhluk-Nya menjadi dua bagian, berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur-an dan hadits Rasulullah , yaitu yang bersifat umum dan khusus[18]:

  1. al-Ma’iyyah al-‘aammah (kebersamaan-Nya yang bersifat umum)

Artinya kebersamaan-Nya yang mengandung arti bahwa Allah  meliputi semua makhluk-Nya dengan pengetahuan-Nya, penglihatan-Nya, pengawasan-Nya, pendengaran-Nya, kekuasaan-Nya dan sifat-sifat maha sempurna Allah  lainnya yang merupakan makna Rububiyah-Nya. Sebagaimana penjelasan yang kami nukilkan dari para ulama Ahli tafsir di atas. Kebersamaan ini meliputi semua makhluk-Nya, yang beriman maupun kafir, dan yang taat maupn durhaka[19].

Inilah makna ‘kebersamaan’ Allah  dalam firman-Nya:

{هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ، يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا، وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ}

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia beristiwaa’ (tinggi berada) di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang ke luar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS al-Hadiid: 4).

  1. al-Ma’iyyah al-khaashshah (kebersamaan-Nya yang bersifat khusus)

Artinya kebersamaan-Nya yang lebih khusus karena disertai dengan pertolongan-Nya, taufik-Nya, penjagaan-Nya, dan perlindungan-Nya[20]. Kebersamaan ini khusus bagi hamba-hamba Allah  yang beriman dan memiliki sifat-sifat mulia.

Kebersamaan Allah  yang bersifat khusus ini juga terbagi dua:

A- Yang dikaitkan dengan sifat-sifat mulia, seperti sifat sabar, takwa, ihsan, dan lain-lain.

Allah  berfirman:

{إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ}

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS an-Nahl: 128).

Juga dalam firman-Nya:

{إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ}

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS al-Baqarah: 153).

B- Yang dikaitkan dengan orang-orang tertentu, yaitu hamba-hamba-Nya yang sempurna keimanan mereka. Kebersamaan ini lebih khusus dan lebih utama dibandingkan yang pertama.

Allah  berfirman tentang nabi Muhammad  dan shahabatnya, Abu Bakar ash-Shiddiq t:

{ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا}

“Sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada temannya: “Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita” (QS at-Taubah: 40).

Juga firman-Nya kepada dua Nabi-Nya yang mulia, Musa u dan Harun u:

{لا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى}

“Allah berfirman: “Jangan kamu berdua takut, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat” (QS Thaahaa: 46)[21].

Adapun sifat al-qurb (kedekatan Allah ) dengan makhluk-Nya, maka di antara para ulama Ahlus sunnah, ada yang membaginya menjadi dua macam, yaitu umum dan khusus, sebagaimana sifat al-ma’iyyah (kebersamaan Allah)[22].

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata: “Ketahuilah bahwa (sifat) ‘kedekatan’ Allah  ada dua macam: umum dan khusus. ‘Kedekatan’ Allah  yang (bersifat) umum (artinya) kedekatan-Nya dengan semua makhluk-Nya, dengan ilmu-Nya. Inilah yang dimaksud dalam firman-Nya :

{وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ}

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS Qaaf: 16).

Dan ‘Kedekatan’ Allah  yang (bersifat) khusus yaitu kedekatan-Nya dengan hamba-hamba yang beribadah kepada-Nya (dengan menerima ibadah mereka dan memberikan ganjaran pahala yang terbaik), dengan hamba-hamba yang berdoa kepada-Nya dengan mengabulkan permohonan mereka, dan dengan hamba-hamba yang mencintai-Nya (dengan memuliakan dan merahmati mereka). Inilah yang dimaksud dalam firman-Nya :

{وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ}

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku maha dekat. Aku akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku” (QS al-Baqarah: 186).

Kedekatan Allah ini mengandung arti kelembutan-Nya (limpahan kebaikan dari-Nya), pengabulan-Nya terhadap doa mereka dan pemenuhan-Nya terhadap segala keinginan mereka. Oleh karena itulah, nama-Nya “al-Qariib” (yang maha dekat) digandengkan-Nya dengan nama-Nya “al-Mujiib” [23] (yang maha mengabulkan doa)”[24].

Akan tetapi, di antara para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah ada juga yang membatasi sifat al-qurb (kedekatan Allah ) hanya yang bersifat khusus saja. Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid beliau, Imam Ibnu Qayyimil Jauziyyah, juga cenderung dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin[25].

Pendapat ini berdalil dengan ayat-ayat al-Qur-an dan hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah , di mana dalil-dalil tersebut hanya menyebutkan ‘kedekatan’ Allah  dengan hamba-hamba-Nya yang beriman, berdoa, beribadah dan melakukan ketaatan kepada-Nya. Dan Allah  tidak mungkin dekat dengan orang-orang kafir dan durhaka kepada-Nya[26].

Di antara dalil-dalil tersebut:

– Firman Allah  dalam ayat di atas QS al-Baqarah: 186

– Firman Allah  dalam QS Huud: 61:

{وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ}

“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh u. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah (semata-mata), sekali-kali tidak ada bagimu Ilah (sembahan yang benar) selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabb-ku maha dekat lagi maha mengabulkan (doa hamba-Nya)” (QS Huud: 61).

– Sabda Rasulullah  kepada para Shahabat y ketika mereka mengangkat suara dalam bertakbir: “Rendahkanlah (suara kalian) pada dirimu sendiri, karena sesungguhnya kalian tidak menyeru kepada (Dzat) yang tuli dan jauh, (tetapi) sesungguhnya kalian menyeru kepada (Dzat) yang maha mendengar lagi maha dekat, dan Dia bersama kalian”[27].

– Sabda Rasulullah : “Sedekat-dekatnya seorang hamba dari Rabb-nya (Allah ) adalah ketika hamba itu sedang sujud, maka perbanyaklah doa (ketika sujud dalam shalat)”[28].

– Sabda Rasulullah : “Barangsiapa yang mendekatkan diri kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta, dan barangsiapa yang mendekatkan diri kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa. Jika hamba-Ku menghadapkan diri kepada-Ku dengan berjalan maka akan menghadap kepadanya dengan harwalah (berjalan cepat)”[29].

Adapun ayat-ayat al-Qur-an yang digunakan sebagai dalil untuk menunjukkan adanya ‘kedekatan’ Allah  yang bersifat umum, seperti firman-Nya:

{وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ}

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS Qaaf: 16).

Juga firman-Nya:

{وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لا تُبْصِرُونَ}

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tapi kamu tidak melihat” (QS al-Waqi’ah: 85).

Maka yang dimaksud dengan ‘kedekatan’ dalam dua ayat ini adalah ‘kedekatan’ para Malaikat Allah  dengan manusia, bukan ‘kedekatan’ Allah  dengan semua manusia, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama Ahlus sunnah[30], wallahu a’lam.

 

Faidah agung dan dampak positif mengimani dua sifat mulia ini

Di awal tulisan ini telah kami jelaskan bahwa keimanan yang benar di dalam hati merupakan sebab utama yang menggerakkan anggota badan manusia untuk semangat melakukan kebaikan dan ketaatan kepada Allah . Tidak terkecuali keimanan yang benar terhadap dua sifat Allah  yang agung ini.

Terlebih lagi, ketika kita merenungkan dan menghayati dengan seksama makna yang khusus dari dua sifat Allah  yang mulia ini. Tentu ini semua akan semakin menambah semangat dan kesungguhan kita untuk selalu menetapi dan meningkatkan amal ketaatan.

Coba renungkan makna hadits qudsi di bawah ini, yang menjelaskan betapa agungnya ganjaran dan keutamaan yang Allah  berikan bagi hamba-hamba-Nya yang mendapatkan karunia ‘kedekatan’ dan ‘kebersamaan’-Nya yang khusus.

Dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal shaleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam), dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal tambahan (yang dianjurkan dalam Islam) sehingga Aku-pun mencintainya. Lalu jika Aku telah mencintai seorang hamba-Ku, maka Aku akan selalu membimbingnya dalam pendengarannya, membimbingnya dalam penglihatannya, menuntunnya dalam perbuatan tangannya dan meluruskannya dalam langkah kakinya. Jika dia memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepadanya”[31].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang menjadi wali Allah  (kekasih Allah ), yaitu orang yang selalu menetapi ketaatan dan ketakwaan kepada Allah  dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah  menganugerahkan kepadanya kebersamaan-Nya yang khusus[32]yang mengandung arti pertolongan-Nya, taufik-Nya, penjagaan-Nya, dan perlindungan-Nya pada pendengaran, penglihatan, ucapan lisan, langkah kaki dan perbuatan semua anggota badannya lahir dan batin[33]. Sehingga mereka selalu berada di atas keridhaan-Nya dan terhindar dari segala keburukan[34].

Imam Ibnul Qayyim, ketika menjelaskan salah satu keutamaan besar berdzikir kepada Allah , berdasarkan sabda Rasulullah  bahwa Allah  berfirman: “Aku bersama hamba-Ku ketika dia berdzikir kepada-ku dan kedua bibirnya bergerak dengan (menyebut dan mengagungkan kebesaran)-Ku”[35].

Beliau berkata: “Sesungguhnya orang yang berdzikir (kepada Allah) dekat dengan (Dzat) yang disebutnya (Allah ) dan Dia  selalu ‘bersama’nya. Kebersamaan ini adalah kebersamaan yang khusus, berbeda dengan kebersamaan (dengan) pengetahuan dan pengawasan-Nya yang (bersifat) umum. Ini adalah kebersamaan (yang mengandung makna) kedekatan, perlindungan, kecintaan, pertolongan dan taufik… ‘Kebersamaan (khusus)’ yang dianugerahkan kepada orang yang berdzikir (kepada Allah ) adalah ‘kebersamaan’ yang tiada taranya. Kebersamaan ini lebih khusus dibandingkan dengan ‘kebersamaan’ yang didapatkan oleh orang yang berbuat ihsan dan orang yang bertakwa. Kebersamaan ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dan tidak bisa dijelaskan sifatnya (karena kemuliaannya yang sangat tinggi), (karena) ini hanya bisa diketahui dengan merasakan (keindahan dan kenikmatannya)”[36].

Renungkanlah keutamaan dan kemuliaan besar ini! Tidaklah ini menambah semangat dan kesungguhan kita untuk berdzikir kepada Allah dengan benar, menetapi ketaatan kepada-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya guna meraih keutamaan besar tersebut?

Keutamaan dan kemuliaan besar ini benar-benar sangat tinggi dan tiada taranya, sebagaimana ucapan Imam Ibnul Qayyim di atas. Bahkan inilah kenikmatan tertinggi di dunia yang digambarkan oleh salah seorang ulama salaf dalam ucapannya: “Sungguh kasihan orang-orang yang cinta dunia, mereka (pada akhirnya) akan meninggalkan dunia ini, padahal mereka belum merasakan kenikmatan yang paling besar di dunia ini”, maka ada yang bertanya: “Apakah kenikmatan yang paling besar di dunia ini?”, Ulama ini menjawab: “Cinta kepada Allah, merasa tenang ketika mendekatkan diri kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, serta merasa gembira ketika berdzikir dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya”[37].

Inilah kebahagiaan sejati yang berlomba-lomba dikejar oleh hamba-hamba Allah  yang shaleh di dunia, karena barangsiapa yang telah meraih ‘kedekatan dan ‘kebersamaan’ Allah yang khusus, maka kebaikan dan kemuliaan apa yang luput darinya? Kebutuhan dan keinginan apa yang tidak terpenuhi pada dirinya?

Oleh karena itulah, Rasulullah  menggambarkan tentang shalat yang merupakan ibadah agung saat hamba bermunajat, dekat dan bersama Rabb-nya, sebagai sumber kebahagiaan hati dan keindahan jiwa yang tiada taranya, dalam sabda beliau  : “Allah menjadikan qurratul ‘ain (penyejuk/penghibur hati) bagiku pada (waktu aku melaksanakan) shalat”[38].

Imam Ibnul Qayyim memaparkan tingginya kenikmatan dan keindahan ini dalam penuturan beliau: “Cinta kepada Allah , mengenal-Nya (dengan memahami kandungan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna), selalu berdzikir kepada-Nya, merasa tenang dan damai (ketika mendekatkan diri) kepada-Nya, mengesakan-Nya dalam mencintai, takut, berharap, berserah diri dan mendekatkan diri (kepada-Nya), dengan menjadikan semua itu satu-satunya yang menguasai pikiran, tekad dan keinginan seorang hamba, inilah surga dunia (yang sebenarnya) dan kenikmatan yang tiada taranya (jika dibandingkan dengan) kenikmatan (dunia). Inilah penyejuk hati hamba-hamba yang mencintai (Allah ) dan (kebahagiaan) hidup orang-orang yang mengenal-Nya”[39].

Di samping itu, keimanan yang benar terhadap dua sifat yang mulia ini akan menjadikan tawakal (penyandaran hati), pengharapan dan ketakutan seorang hamba kepada Allah  semakin kuat dan sempurna. Karena jika Allah  dekat dan bersama seorang hamba-Nya dengan ‘kebersamaan’ yang khusus maka mungkinkah dia akan takut kepada makhluk sedangkan Dzat yang maha kuat dan maha perkasa dekat dan bersama dirinya? Mungkinkah dia akan bersandar kepada selain-Nya padahal Dzat yang maha kuasa atas segala sesuatu senantiasa menolongnya dan melindunginya dari segala keburukan? Dan mungkinkah dia akan berharap kepada makhluk sedangkan Dzat yang di tangan-Nyalah segala kebaikan dalam urusan dunia dan akhirat selalu mengabulkan permohonannya dan memenuhi kebutuhannya?

Inilah di antara hikmah agung yang diisyaratkan dalam hadits qudsi di atas: “…Jika dia memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepadanya”[40].

 

Penutup

Inilah gambaran tingginya kemuliaan memahami dan mengimani dengan benar tentang kemahaindahan nama-nama Allah  dan kemahasempurnaan sifat-sifat-Nya. Semakin dalam kita menggali dan menyelami kandungan maknanya, maka semakin besar pula kemuliaan dan keutamaan yang kita raih dari karunia Allah , serta semakin sempurna pula semangat dan kesungguhan kita dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Imam Ibnul Qayyim berkata: “Orang yang paling sempurna dalam penghambaan diri (kepada Allah ) adalah orang yang menghambakan diri (kepada-Nya) dengan (memahami kandungan) semua nama dan sifat-Nya yang (bisa) diketahui oleh manusia”[41].

Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi kita semua untuk semakin bersungguh-sungguh berusaha dan berdoa memohon taufik dari Allah  agar Dia memudahkan kita meraih kedudukan dan kemuliaan yang agung ini, serta semua kedudukan tinggi dan mulia dalam agama-Nya, dengan rahmat dan karunia-Nya. Sesungguhnya Dia  maha pembuka pintu-pintu kebaikan dan maha kuasa atas segala sesuatu.

 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

 

Kota Kendari, 25 Rajab 1435 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

 

[1] Lihat keterangan imam an-Nawawi dalam kitab “Syarhu Shahiihi Muslim” (11/29).

[2] HSR al-Bukhari (no. 52) dan Muslim (no. 1599).

[3] Kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 119 – Iqaazhul himam).

[4]Kitab “Al Fawa-id” (hal. 175).

[5]Lihat kitab “Fiqul asma-il husna” (hal. 289).

[6]Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin dalam “Syarhul ‘aqiidatil waasithiyyah” (1/401-402).

[7]Kitab “Jaami’ul bayaan ‘an ta’wiili aayil Qur-aan” (11/670).

[8]Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (4/389).

[9]Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 837).

[10]Lihat kitab “al-’Uluw lil ‘Aliyyil Gaffaar” (hal. 140), “Tafsir Ibnu Katsir” (1/409) dan “al-Qawa-‘idul mutsla” (hal. 75).

[11]Kitab “Syarhul ‘aqiidatil waasithiyyah” (1/408). Lihat juga ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam “Majmuu’ul fata-wa” (5/103).

[12]Kitab “Majmuu’ul fata-wa” (5/103).

[13]Lihat kitab “Syarhul ‘aqiidatil waasithiyyah” (1/403).

[14]Sifat istiwaa’ Allah I terdapat dalam 7 ayat al-Qur’an.

[15]Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin dalam kitab “Syarhul ‘aqiidatil waasithiyyah” (1/402).

[16]Karena makna kata ‘bersama’ dalam bahasa ‘Arab ada tiga, sebagaimana penjelasan yang lalu (hlmn 6).

[17]Kitab “al-‘Aqiidatul waasithiyyah” (hal. 12).

[18]Lihat “Mada-rijus saalikiin” (2/265), “Tafsir Ibnu Katsir” (2/781) dan “Syarhul ‘aqiidatil waasithiyyah” (1/401).

[19]Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin dalam “Syarhul ‘aqiidatil waasithiyyah” (1/401-402).

[20]Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (2/781) dan “Syarhul ‘aqiidatil waasithiyyah” (1/402).

[21]Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin dalam “Syarhul ‘aqiidatil waasithiyyah” (1/401).

[22]Lihat kitab “Syarhul ‘aqiidatil waasithiyyah” (2/90).

[23]Dalam firman Allah U QS Huud: 61.

[24]Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 384).

[25]Lihat kitab “Syarhul ‘aqiidatil waasithiyyah” (2/91-92).

[26]Ibid (hlmn 90).

[27]HSR al-Bukhari (no. 3968) dan Muslim (no. 2704) dari Abu Musa al-Asy’ari t.

[28]HSR Muslim (no. 482) dari Abu Hurairah t.

[29]HSR al-Bukhari (no. 6970) dan Muslim (no. 2675) dari Abu Hurairah t.

[30]Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/285) dan “Syarhul ‘aqiidatil waasithiyyah” (2/91).

[31] HSR al-Bukhari (no. 6137).

[32] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam kitab “al-Jawaabul kaafi” (hal. 131).

[33] Lihat kitab “Syarhu shahih Muslim” (15/151) dan “Faidhul Qadiir” (2/240).

[34] Lihat kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 519).

[35] HR Ahmad (2/540) dan Ibnu Hibban (3/97), dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani dalam “Shahiihul jaami’ish shagiir” (no. 1906).

[36] Kitab “al-Waabilush shayyib” (hal. 93).

[37]Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Igaatsatul lahfaan” (1/72).

[38] HR Ahmad (3/128) dan an-Nasa-i (7/61), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani.

[39]Kitab “al-Waabilush shayyib” (hal. 70).

[40] HSR al-Bukhari (no. 6137).

[41] Kitab “Madaarijus saalikiin” (1/420).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>