Keutamaan Selalu Menjaga Wudhu Dan Shalat Dua Rakaat Sesudahnya

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada Bilal رضي الله عنه ketika di waktu shalat subuh: “Wahai Bilal, sampaikanlah kepadaku amal shaleh yang kamu kerjakan dan paling diharapkan manfaatnya (di sisi Allah ﷻ) dalam Islam, karena sesunguhnya tadi malam (dalam mimpi) aku mendengar suara sandalmu (langkah kakimu) di depanku di dalam Surga”. Maka Bilal berkata: “Tidaklah aku mengamalkan satu amal shaleh dalam Islam yang paling aku harapkan manfaatnya (di sisi Allah ﷻ) lebih dari (amal shaleh yaitu) tidaklah aku berwudhu dengan sempurna pada waktu malam atau siang, kecuali aku mengerjakan shalat dengan wudhu itu sesuai dengan apa yang ditetapkan Allah bagiku untuk aku kerjakan”[1].

Hadits yang agung ini menjelaskan besarnya keutamaan orang yang selalu menjaga wudhunya dengan selalu memperbaharuinya setiap kali batal dan keutamaan mengerjakan shalat sunnah setelahnya, karena ini termasuk sebab yang memudahkan orang tersebut untuk masuk surga dengan rahmat dan karunia Allah ﷻ. Imam al-Bukhari mencantumkan hadits ini dalam bab: “Keutamaan selalu berwudhu di waktu malam dan siang, serta keutamaan shalat (sunnah) setelah berwudhu di waktu malam dan siang”[2].

Dalam riwayat lain dari Buraidah bin al-Hushaib رضي الله عنه bahwa Bilal رضي الله عنه berkata kepada Rasulullah ﷺ: “Wahai Rasulullah, tidaklah aku melakukan perbuatan dosa kecuali aku melaksanakan shalat dua rakaat (untuk bertaubat kepada Allah ﷻ) dan tidaklah aku ditimpa hadats (sesuatu yang membatalkan wudhu) kecuali aku segera berwudhu pada waktu itu”. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Karena amal shaleh inilah (kamu mendapatkan balasan tinggi tersebut)”[3].

Beberapa mutiara faidah yang dapat kita petik dari hadits ini:

– Mimpi para Nabi ﷺ adalah wahyu dari Allah ﷻ dan pasti kebenarannya[4].

– Imam an-Nawawi berkata: “Dalam hadits ini terdapat keutamaan shalat setelah berwudhu dan ini adalah shalat sunnah (anjuran dan tidak wajib). Shalat ini boleh dikerjakan di waktu-waktu larangan; ketika matahari terbit, ketika tegak lurus (di tengah-tengah langit) dan ketika terbenam, juga setelah shalat subuh dan ashar, karena shalat ini adalah shalat yang ada sebabnya, inilah pendapat kami[5].

– Anjuran untuk mengerjakan shalat sunnah setelah berwudhu, supaya wudhu tersebut tidak luput dari tujuannya[6].

– Anjuran untuk selalu dalam keadaan suci dan menjaga wudhu, karena orang yang selalu menjaga wudhunya maka dia akan bermalam dalam keadaan suci, dan barangsiapa yang bermalam dalam keadaan suci maka dia selalu di atas kebaikan[7].

– Hadits ini juga menunjukkan keutamaan amal shaleh yang dikerjakan secara tersembunyi dan itu lebih utama daripada amal shaleh yang dikerjakan secara terang-terangan[8].

– Sebagaimana hadits ini juga menunjukkan tingginya kedudukan dan agungnya keutamaan shahabat yang mulia, Bilal bin Rabah رضي الله عنه , sebagaimana judul bab yang dicantumkan oleh Imam al-Bukhari[9].

– Peristiwa yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits ini adalah yang beliau ﷺ lihat dalam mimpi, sebagaimana penjelasan Imam at-Tirmidzi[10].

– Perbuatan yang dikerjakan oleh shahabat Rasulullah ﷺ dan tidak diingkari oleh beliau ﷺ adalah termasuk Sunnah yang disyariatkan dalam Islam, karena Rasulullah ﷺ tidak mungkin mendiamkan dan membenarkan perbuatan yang salah[11].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 19 Rajab 1437 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

[1] HSR al-Bukhari (1/386) dan Muslim (no. 2458).

[2] Kitab “Shahih al-Bukhari” (1/385).

[3] HR at-Tirmidzi (5/620), Ahmad (5/360), Ibnu Khuzaimah (2/213) dan al-Hakim (1/457), dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Khzaimah, al-Hakim dan Syaikh al-Albani.

[4] Lihat kitab “Majmuu’ul fataawa” (17/532) dan “Raudhatul muhibbiin” (hlmn 352).

[5] Kitab “Syarhu shahih Muslim” (16/13).

[6] Lihat kitab “Riyaadhus shaalihiin” (2/312).

[7] Lihat kitab “Riyaadhus shaalihiin” (2/312).

[8] Ibid.

[9] Kitab “Shahih al-Bukhari” (3/1371).

[10] Lihat kitab “Sunan at-Tirmidzi” (5/620).

[11] Lihat kitab “Taudhiihul afkaar” (1/274).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>