Keutamaan Mentadabburi/Merenungkan Ayat-Ayat Al-Qur-an

Allah ﷻ berfirman:

{كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ}

“Ini adalah sebuah kitab (al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah (kebaikan yang berlimpah), supaya mereka merenungkan (makna) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS Shaad: 29).

Ayat yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan mentadabburi ayat-ayat al-Qur-an, memahami maknanya, serta menghayati petunjuknya, agar menjadi sebab keberkahan dan kebaikan bagi diri manusia, lahir dan batin.

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari رحمه الله berkata: “Allah ﷻ memotivasi hamba-hamba-Nya untuk mengambil pelajaran dari ayat-ayat al-Qur-an (dengan merenungkannya), berupa nasehat-nasehat (yang bermanfaat) dan bukti-bukti (kebenaran)”. Kemudian beliau menyebutkan ayat tersebut  di atas[1].

Beberapa mutiara faidah yang dapat kita ambil dari ayat ini:

– Makna mentadabburi (merenungkan) al-Qur’an adalah memfokuskan mata hati terhadap kandungan maknanya serta menghimpun pikiran untuk merenungkan dan memahaminya. Inilah maksud (tujuan) diturunkannya al-Qur’an, bukan hanya sekedar dibaca (lafazhnya) tanpa pemahaman dan penghayatan”[2].

– Imam al-Hasan al-Bashri رحمه الله berkata: “Demi Allah, bukanlah mentadabburi al-Qur’an (hanya) dengan menghafal huruf-huruf (lafazh)nya tapi melalaikan hukum-hukum (kandungan)nya. Sampai-sampai salah seorang dari mereka berkata: “Aku telah membaca al-Qur’an) seluruhnya”, tapi tidak terlihat pada dirinya (aplikasi terhadap al-Qur’an) dalam akhlak dan perbuatannya”[3].

– Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di رحمه الله berkata: “Mentadabburi (merenungkan dan menghayati) al-Qur’an adalah termasuk cara dan sarana terbesar untuk menumbuhkan dan menguatkan keimanan. Allah ﷻ berfirman (beliau menyebutkan ayat di atas)… Maka mengeluarkan keberkahan al-Qur’an, di mana yang terpenting di antaranya adalah menumbuhkan keimanan, cara dan metodenya adalah dengan merenungkan dan menghayati ayat-ayatnya”[4].

– Mengajarkan al-Qur-an dengan bacaan yang benar dan merenungkan kandungan maknanya adalah metode dan manhaj para Shahabat –radhiyallahu ‘anhum- dalam mendidik generasi yang datang setelah mereka, yaitu para Tabi’in. sebagaimana pernyataan dari Imam besar dari generasi Tabi’in, Abu ‘Abdirrahman ‘Abdullah bin Habib as-Sulami al-Kufi: “Kami mempelajari al-Qur’an dari suatu kaum (para Shahabat); ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Abdullah bin Mas’ud dan selain mereka berdua, mereka menyampaikan kepada kami bahwa dulunya ketika mereka mempelajari (al-Qur’an) dari Rasulullah ﷺ sepuluh ayat, maka mereka tidak akan melewati ayat-ayat tersebut sampai memahami kandungan isinya, dalam ilmu dan amal. Mereka berkata: “kami (dulu) belajar al-Qur’an, memahami kandungannya dan pengamalannya secara keseluruhan”[5].

– Imam Ibnul Qayyim رحمه الله, ketika menjelaskan makna firman Allah ﷻ:

{الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ}

“Orang-orang yang telah kami beri (turunkan) al-kitab (al-Qur’an) kepada mereka, mereka mentilawah (membaca)nya dengan tilawah yang sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi (dunia dan akhirat)” (QS al-Baqarah: 121).

Beliau berkata رحمه الله: “Tilawah al-Qur’an meliputi tilawah (membaca) lafazhnya dan tilawah (memahami) makna (kandungan)nya. Tilawah makna al-Qur’an lebih mulia (utama) daripada sekedar tilawah lafazhnya. Dan orang-orang yang memahami kandungan al-Qur’an merekalah ahli al-Qur’an, yang terpuji di dunia dan akhirat, karena merekalah ahli yang sejati dalam membaca dan mengikuti (petunjuk) al-Qur’an”[6].

 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

 

Kota Kendari, 29 Muharram 1440 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

[1] Kitab “Tafsir ath-Thabari” (1/60).

[2] Keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Madaarijus saalikiin” (1/451).

[3] Dinukil oleh Imam Ibnu Katsir رحمه الله  dalam kitab “Tafsir Ibni Katsir” (4/43).

[4] Kitab “at-Taudhiih wal bayaan li syajaratil iimaan (hlmn 51).

[5] Dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam “Daqa-iqut tafsiir” (2/227) dan adz-Dzahabi dalam “Siyaru a’laamin nubalaa’” (4/269).

[6] Kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/42).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>