Keutamaan Menaati Perintah Rasulullah

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ  أَنَّ رَسُولَ الله  قَالَ: « كُلُّ أُمَّتِيْ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ، إِلاَّ مَنْ أَبَى »، قَالُوا: يَا رَسُولَ الله، وَمَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : « مَنْ أَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ أَبَى » رواه البخاري.

Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah  bersabda: “Semua umatku akan masuk Surga, kecuali orang yang enggan”. Para Shahabat  bertanya: Siapakah yang enggan, wahai Rasulullah ?. Beliau  bersabda: “Barangsiapa yang menaatiku maka dia akan masuk Surga, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka sungguh dialah yang enggan”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan tingginya kemuliaan orang yang selalu menaati perintah dan mengikuti petunjuk Rasulullah  dalam semua ucapan dan perbuatan beliau . Bahkan ini merupakan sebab utama meraih kecintaan Allah  dan kedudukan mulia di sisi-Nya. Allah  berfirman:

{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ}

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran:31).

Imam Ibnu Katsir berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemutus perkara) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, akan tetapi dia tidak mengikuti jalan (petunjuk) Rasulullah , maka dia adalah orang yang berdusta dalam pengakuan tersebut dalam masalah ini, sampai dia mau mengikuti syariat dan agama (yang dibawa oleh) Nabi Muhammad  dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaannya”[2].

Sebagaimana menyelisihi perintah dan petunjuk Rasulullah  adalah sebab utama keburukan di dunia dan azab Neraka yang pedih di akhirat. Allah  berfirman:

{فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ}

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah (petunjuk) Rasulullah  takut akan ditimpa fitnah (keburukan dan kesesatan) atau ditimpa azab (Neraka) yang pedih” (QS an-Nuur: 63).

Beberapa faidah penting yang dapat kita petik dari hadits di atas:

– Semangat mengikuti perintah Rasulullah  merupakan ciri iman yang sempurna kepada Allah  dan hari akhir. Allah  berfirman:

{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا}

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS al-Ahzaab:21).

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di ketika menjelaskan makna ayat di atas berkata: “Teladan yang baik (pada diri Rasulullah ) ini, yang akan mendapatkan taufik (dari Allah ) untuk mengikutinya hanyalah orang-orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan) di hari akhir. Karena (kesempurnaan) iman, ketakutan pada Allah, serta pengharapan balasan kebaikan dan ketakutan akan siksaan Allah, inilah yang memotivasi seseorang untuk meneladani (petunjuk) Rasulullah ”[3].

– Arti “menaati Rasulullah ” adalah mengikuti petunjuk beliau , dengan mengerjakan segala perintah dan menjauhi semua larangan beliau , serta membenarkan semua yang beliau  sampaikan. Sedangkan arti “durhaka kepada beliau ” adalah melanggar larangan atau tidak membenarkan berita yang beliau  sampaikan[4].

– Orang yang durhaka kepada Rasulullah  berarti dia mengikuti hawa nafsunya dan menyimpang dari jalan Allah  yang lurus[5].

– Orang yang enggan masuk Surga dan akan masuk Neraka adalah orang kafir yang tidak mau mengikuti agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad , atau orang muslim yang berbuat maksiat, selain syirik, karena dia terancam masuk Neraka meskipun tidak kekal di dalamnya[6].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 23 Jumadal akhirah 1435 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

[1] HSR al-Bukhari (no. 6/2655, no. 6851).

[2]Tafsir Ibnu Katsir (1/477).

[3]Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 481).

[4] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (5/12).

[5] Ibid

[6] Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>