Kemuliaan Pembawa Hadits Nabi (Seri 2- Habis)

Maraatib (tingakatan/tahapan) dalam menuntut ilmu agama

Dalam hadits yang agung ini, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam juga mengisyaratkan tentang maraatib (tingakatan/tahapan) yang harus ditempuh dalam menuntut ilmu agama, agar ilmu yang dipelajari benar-benar dapat dipahami dengan baik dan bermanfaat bagi orang yang mempelajarinya.

Tahapan-tahapan ilmu tersebut adalah:

  • Mendengarkan/menyimak ilmu dari sumbernya, sumber ilmu yang utama adalah Alquran dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Dan termasuk dalam hal ini membaca dan menelaah kitab-kitab ilmu agama yang bersumber dari wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut.
  • Berusaha memahami dan meresapi kandungan maknanya, agar ilmu itu benar-benar menetap dalam hati dan tidak hilang.
  • Berusaha menjaga dan menghafalnya, agar tidak dilupakan.
  • Menyebarkan dan menyampaikannya kepada umat, supaya kebaikan dan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebar dan diamalkan dalam kehidupan manusia, karena ilmu agama itu ibaratnya seperti perbendaharaan harta yang terpendam dalam tanah, kalau tidak segera dikeluarkan maka harta itu terancam akan musnah[1].

Dalam hal ini, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata, “Menyampaikan sunnah (hadits) Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam kepada umat lebih utama daripada menyampaikan (melontarkan) anak panah ke leher musuh (berperang melawan musuh-musuh Islam. Karena menyampaikan (melontarkan) anak panah ke leher musuh mampu dilakukan oleh mayoritas manusia, adapun menyampaikan sunnah (hadits) Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam (kepada umat) hanyalah bisa dilakukan oleh waratsatul Anbiya’ (orang-orang yang mewarisi ilmu para Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dengan tekun mempelajarinya) dan orang-orang yang menggantikan (tugas) mereka (dalam mempelajari, memahami dan menyebarkan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala) di umat-umat mereka. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk (golongan) mereka, dengan anugerah dan kemurahan-Nya[2].”

Kemudian, sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam di akhir hadits ini, …Terkadang orang yang membawa ilmu agama menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya…”, ini menunjukkan salah satu manfaat besar dari menyampaikan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam kepada umat.

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam (di akhir hadits) ini merupakan peringatan akan pentingnya menyampaikan (petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam kepada umat). Karena terkadang orang yang disampaikan kepadanya (hadits Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam) lebih paham (makna hadits tersebut) daripada orang yang menyampaikannya, sehingga orang tersebut mendapatkan (manfaat besar) dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam (yang disampaikan kepadanya) melebihi yang didapatkan si penyampai. Atau (bisa juga) diartikan bahwa orang yang disampaikan kepadanya (hadits Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam) lebih paham (makna hadits tersebut) daripada orang yang menyampaikannya, maka ketika dia mendengarkan hadits tersebut, dia akan mengartikannya dengan sebaik-baik kandungan makna, menarik kesimpulan (hukum-hukum) fikh, dan memahami kandungan (yang benar) dari hadits tersebut[3].”

Fawa’id hadits

  • Besarnya perhatian dan semangat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam untuk memberikan bimbingan kebaikan kepada umatnya, untuk kemuliaan mereka di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

{لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ}

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kalanganmu sendiri, berat terasa olehnya apa-apa yang menyusahkanmu, sangat menginginkan (petunjuk dan kebaikan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.” (QS. At-Taubah: 128).

  • Peringatan untuk memberikan perhatian besar dalam mempelajari hadits Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, baik secara riwayah (yang berhubungan dengan periwayatan/perawi dalam sanad hadits) maupun dirayah (makna dan kandungan hadits).
  • Keutamaan menekuni ilmu hadits Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, karena Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam mendokan kebaikan bagi orang-orang yang menekuninya.
  • Anjuran untuk menyebarkan dan mendakwahkan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam kepada umat.
  • Agungnya kemuliaan dan keutamaan para ulama ahli Hadits.
  • Anjuran untuk menjaga dan menghafal hadits Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.
  • Al-Jaza’u min jinsil ‘amal (balasan yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia adalah sesuai dengan jenis perbuatan mereka).
  • Keutamaan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, karena merekalah orang yang paling pertama dan sungguh-sungguh dalam mendengarkan, memahami dan menyampaikan hadits Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam kepada umat ini, maka merekalah yang paling berhak untuk mendapatkan kemuliaan doa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam ini.
  • “Barangsiapa yang mengajak (manusia) untuk (melakukan) kebaikan, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang yang melakukannya[4].”
  • Mendoakan kebaikan yang berupa kecerahan dan keindahan rupa bagi orang yang mempelajari dan mendakwahkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.
  • Larangan menyembunyikan ilmu dan petunjuk kebaikan.
  • Hadits ahad (hadits yang hanya diriwayatkan oleh perawi yang jumlahnya sedikit) adalah dalil dan hujjah (argumentasi) yang wajib diamalkan kandungannya, karena Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dalam hadits ini tidak mensyaratkan jumlah yang banyak bagi orang yang mendengar dan menyampaikan hadits-hadits beliau shallallahu ‘alahi wa sallam.
  • Kebaikan manusia lahir dan batin hanyalah dicapai dengan memahami dan mengamalkan petunjuk Allah shallallahu ‘alahi wa sallam dalam Alquran dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.
  • Fungsi utama petunjuk yang dibawa oleh Rasullullah shallallahu ‘alahi wa sallam sebagai pembersih penyakit hati dan kotoran jiwa manusia.
  • Mempelajari, memahami, menghafal dan menyampaikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam adalah termasuk sebab utama terjaganya kemurnian sunnah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, dan ini termasuk makna firman Allah Ta’ala,

{إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ}

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran[5], dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS.  Al-Hijr: 9).

  • Keutamaan dan kemuliaan mempelajari ilmu agama.
  • Hadits Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam yang shahih adalah sumber pengambilan hukum-hukum fikih.
  • keutamaan menggabungkan antara menghafal hadits Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan memahami kandungan maknanya[6].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, 11 Dzulqa’dah 1430 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim Al-Buthani, M.A.
Artikel www.ManisnyaIman.com


[1] Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam kitab Miftahu Daaris Sa’aadah, (1/71-72).
[2] Kitab Jala-ul Afhaam, (hal. 415).
[3] Kitab Miftahu Daaris Sa’aadah, (1/72).
[4] HR. Muslim (no. 1893).
[5] Termasuk di dalamnya sunnah Rasulullah r, karena sunnah adalah penjelas makna Al-Qur’an.
[6] Lihat kitab Dirasatu Hadits: nadhdharallahu imraan sami’a maqaalati… (3/368-375).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>