Islam dan Kebebasan

بسم الله الرحمن الرحيم

     Banyak manusia yang hidup di dunia ini menginginkan kehidupan yang bebas dan tidak terkekang dengan berbagai aturan. Sampai-sampai karena kuatnya keinginan ini mereka tidak lagi mengindahkan norma-norma agama, sebab mereka menganggap agama sebagai belenggu semata.

Meskipun faktanya, kebebasan yang tanpa batas mustahil terwujud di dunia ini. Karena perbuatan yang dilakukan oleh manusia sering dipengaruhi oleh dorongan hawa nafsu, sehingga ketika seseorang meninggalkan norma-norma agama otomatis dia akan terjerumus mengikuti aturan hawa nafsunya yang dikendalikan oleh setan, dan ini merupakan sumber malapetaka terbesar bagi dirinya. Karena hawa nafsu manusia selalu menggiring kepada keburukan dan kerusakan, sebagaimana firman Allah:

{إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي}

“Sesungguhnya nafsu (manusia) itu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku” (QS Yuusuf:53).

Dan firman-Nya

{وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَوَاتُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ}

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu manusia, maka pasti binasalah langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka peringatan (untuk) mereka (al-Qur’an) akan tetapi mereka berpaling dari peringatan tersebuat” (QS al-Mu’minuun:71). Continue reading

Hakikat Tasawwuf

Pendahuluan

Istilah “sufi” atau “tasawwuf” tentu sangat dikenal dikalangan kita, terlebih lagi dikalangan masyarakat awam, istilah ini sangat diagungkan dan selalu diidentikkan dengan kewalian, kezuhudan dan kesucian jiwa. Bahkan mayoritas orang awam beranggapan bahwa seseorang tidak akan bisa mencapai hakikat taqwa tanpa melalui jalan tasawwuf. Opini ini diperkuat dengan melihat penampilan lahir yang selalu ditampakkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai ahli tasawwuf, berupa pakaian lusuh dan usang, biji-bijian tasbih yang selalu di tangan dan bibir yang selalu bergerak melafadzkan dzikir, yang semua ini semakin menambah keyakinan orang-orang awam bahwasanya merekalah orang-orang yang benar-benar telah mencapai derajat wali (kekasih) Allah .

Sebelum kami membahas tentang hakikat tasawwuf yang sebenarnya, kami ingin mengingatkan kembali bahwa penilaian benar atau tidaknya suatu pemahaman bukan cuma dilihat dari pengakuan lisan atau penampilan lahir semata, akan tetapi  yang menjadi barometer adalah sesuai tidaknya pemahaman tersebut dengan Al-Qur’an dan As Sunnah menurut pemahaman para ulama salaf (ahlus sunnah wal jama’ah). Sebagai bukti akan hal ini kisah khawarij, kelompok yang pertama menyempal dalam islam yang diperangi oleh para shahabat Rasulullah   dibawah pimpinan ‘Ali Bin Abi Thalib   berdasarkan perintah Rasulullah  . Padahal kalau kita melihat pengakuan lisan dan penampilan lahir kelompok khawarij ini maka tidak akan ada seorangpun yang menduga bahwa mereka menyembunyikan penyimpangan dan kesesatan yang besar dalam batin mereka,  sebagaimana yang digambarkan Rasulullah   ketika beliau menjelaskan ciri-ciri kelompok khowarij ini, beliau   bersabda: “…Mereka (orang-orang khawarij) selalu mengucapkan (secara lahir) kata-kata yang baik dan indah, dan mereka selalu membaca Al Qur’an tapi (bacaan tersebut) tidak melampaui tenggorokan mereka (tidak masuk ke dalam hati mereka)…”([1]), dan dalam riwayat yang lain beliau  bersabda: “… Bacaan Al Qur’an kalian (wahai para sahabatku) tidak ada artinya jika dibandingkan dengan bacaan Al Qur’an mereka, (demikian pula) shalat kalian tidak ada artinya jika dibandingkan dengan shalat mereka, (demikian pula) puasa kalian tidak ada artinya jika dibandingkan dengan puasa mereka”([2]), maka pada hadits yang pertama Beliau  menjelaskan tentang ciri-ciri mereka yang selalu mengucapkan kata-kata yang baik dan indah tapi cuma di mulut saja dan tidak masuk ke dalam hati mereka, dan pada hadits yang ke dua Beliau  menerangkan tentang penampilan lahir mereka yang selalu mereka tampakkan untuk memperdaya manusia, yaitu kesungguhan dalam beribadah yang bahkan sampai kelihatannya melebihi kesungguhan para Sahabat  dalam beribadah (karena memang para Sahabat  berusaha keras untuk menyembunyikan ibadah mereka karena takut tertimpa Riya’) Continue reading

Keindahan Al-Asma-Ul-Husna

بسم الله الرحمن الرحيم

     Berbicara tentang keindahan al-Asma-ul husna (nama-nama Allah  yang maha indah) berarti membicarakan suatu kemahaindahan yang sempurna dan di atas semua keindahan yang mampu digambarkan oleh akal pikiran manusia.

Betapa tidak, Dia  adalah zat maha indah dan sempurna dalam semua nama dan sifat-Nya, yang karena kemahaindahan dan kemahasempurnaan inilah maka tidak ada seorang makhlukpun yang mampu membatasi pujian dan sanjungan yang pantas bagi kemuliaan-Nya.

Rasulullah  menggambarkan hal ini dalam sebuah doa beliau yang terkenal:

لا أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَما أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Aku tidak mampu menghitung/membatasi pujian/sanjungan terhadap-Mu, Engkau adalah sebagaimana (pujian dan sanjungan) yang Engkau peruntukkan bagi diri-Mu sendiri”[1]. Continue reading

Hadits Yang Sangat Lemah Tentang Shalat Hajat

بسم الله الرحمن الرحيم

     عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : « مَنْ كَانَتْ لَهُ إِلَى اللَّهِ حَاجَةٌ أَوْ إِلَى أَحَدٍ مِنْ بَنِى آدَمَ فَلْيَتَوَضَّأْ وَلْيُحْسِنِ الْوُضُوءَ ثُمَّ لِيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ لْيُثْنِ عَلَى اللَّهِ وَلْيُصَلِّ عَلَى النَّبِىِّ  ثُمَّ لْيَقُلْ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، لاَ تَدَعْ لِى ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ حَاجَةً هِىَ لَكَ رِضًا إِلاَّ قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ »

     Dari ‘Abdullah bin Abi Aufa  beliau berkata: Rasulullah  bersabda: “Barangsiapa yang memiliki hajat (kebutuhan) kepada Allah atau kepada salah seorang manusia, maka hendaknya dia berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu shalat dua rakaat, kemudian hendaknya dia memuji Allah dan bershalawat atas Nabi , lalu dia membaca (doa): “Tiada sembahan yang benar selain Allah Yang Maha Penyantun lagi Maha Mulia, maha suci Allah Penguasa ‘Arsy yang agung, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, aku memohon kepada-Mu sebab-sebab (turunnya) rahmat-Mu, ketetapan pengampunan-Mu, ketaatan dalam semua amal kebaikan, dan penjagaan dari semua dosa, Janganlah Engkau membiarkan (ada) dosa pada diriku kecuali Engkau ampuni, kegundahan kecuali Engkau hilangkan dan hajat (kebutuhan) yang sesuai dengan keridhaan-Mu kecuali Engkau tunaikan, wahai Zat Yang Maha Pemurah”. Continue reading

Hadits Dah’if (lemah) Tentang Tahlilan Untuk Orang Mati

     عن أبي هريرة  قال: قال رسول الله : ((زَوِّدوا موتاكم لا إله إلا الله))

     Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah  bersabda: “Bekalilah orang yang meninggal dunia dari kalian dengan (kalimat) laa ilaaha illallah (tidak ada sembahan yang benar selain Allah)”.

Hadits ini dinisbatkan oleh imam as-Suyuthi[1] dan al-Muttaqi al-Hindi[2] kepada imam al-Hakim dalam kitab “at-Taarikh” karya beliau.

Imam Abu Mansur ad-Dailami dalam kitab beliau “Musnadul firdaus”[3] meriwayatkan hadits ini dengan sanad beliau dari jalur imam al-Hakim, dari jalur Ma’an bin ‘Isa, dari Yazid bin ‘Abdil Malik, dari Yazid bin Ruman, dari bapaknya, dari Abu Hurairah .

Hadits ini adalah hadits yang lemah, karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama Yazid bin ‘Abdil Malik an-Naufali, imam Ahmad berkata tentangnya: “Hadits (yang diriwayatkannya) lemah, dia meriwayatkan hadits-hadist yang mungkar (lemah)”. Imam Abu Zur’ah ar-Razi berkata: “Hadits (yang diriwayatkannya) lemah”. Imam Abu Hatim ar-Razi berkata: “Hadits (yang diriwayatkannya) lemah, (riwayat) haditsnya sangat diingkari”. Imam an-Nasa-i berkata: “Dia ditinggalkan (riwayat haditsnya karena kelemahannya yang fatal)”[4]. Imam Ibnu Hajr berkata: “(Riwayat haditsnya) lemah”[5].

Hadits ini dihukumi sebagai hadits yang lemah oleh syaikh al-Albani[6].

Kedudukan hadits ini yang lemah menjadikannya sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai dalil/argumentasi untuk menetapkan keutamaan melakukan tahlilan untuk orang yang meninggal dunia. Di samping itu, banyak ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah  yang justru menegaskan bahwa seorang manusia yang telah meninggal dunia, maka terhentilah amal perbuatannya dan terputuslah aliran pahala untuknya, kecuali amal-amal yang diusahakannya selama hidupnya di dunia. Allah U berfirman:

{أَلاَّ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى. وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى}

“(Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seorang manusia tidak akan memperoleh selain apa yang diusahakannya” (QS an-Najm: 38-39).

Dalam hadits yang shahih, Rasulullah  bersabda: “Jika seorang manusia mati maka terputuslah (pahala) amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah yang terus mengalir (pahalanya karena diwakafkan), ilmu yang terus diambil manfaatnya (diamalkan sepeninggalnya), dan anak shaleh yang selalu mendoakannya”[7].

Bahkan hadits-hadits shahih dari Rasulullah  menjelaskan bahwa kalimat syahadat laa ilaaha illallah (tidak ada sembahan yang benar selain Allah) dan Muhammadur Rasulullahí’ (Nabi Muhammad  adalah rasul/utusan Allah)[8] dianjurkan untuk diucapkan oleh seorang muslim sebelum meninggal dunia dan menjadikan kalimat tersebut sebagai akhir dari ucapannya sebelum menghembuskan nafas yang terakhir. Ini juga termasuk ciri utama orang yang meraih husnul khatimah (meninggal dunia di atas kebaikan)[9].

Dari Mu’adz bin Jabal  dia berkata: Rasulullah  bersabda: “Barangsiapa yang ucapan terakhirnya (sebelum meninggal dunia) kalimat ‘Laa ilaaha illallah’ (tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah) maka dia akan masuk surga”[10].

Oleh karena  itu, dianjurkan bagi seorang muslim untuk menuntun orang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat syahadat ini, agar itu menjadi akhir ucapannya[11], sebagaimana sabda Rasulullah : “Tuntunlah orang yang akan meninggal dunia di antara kalian (untuk mengucapkan kalimat) ‘Laa ilaaha illallah’ (tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah)”[12].

 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

KotaKendari, 14 Jumadal Akhir 1433 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

 

 


[1] Dalam kitab “al-Jaami’ush shagiir” (no. 3179- Dha’iiful jaami’’ush shagiir).

[2] Dalam kitab “Kanzul ‘ummaal” (no. 42579).

[3] Dinukil oleh Ibnu Hajar dalam “al-Gara-ibul multaqathah min musnadil firdaus” (no. 382 – Disertasi S2).

[4] Semua dinukil oleh imam al-Mizzi dalam “tahdziibul kamaal” (32/199).

[5] Kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 559).

[6] Dalam kitab “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifati wal maudhuu’ah” (8/149, no. 3670).

[7] HSR Muslim (no. 1631).

[8] Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (8/267).

[9] Lihat kitab “Ahkaamul jana-iz” (hal. 48).

[10] HR Abu Dawud (no. 3116), Ahmad (5/247) dan al-Hakim (1/503), dinyatakan shahih oleh al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi, dan dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani karena dikuatkan dari jalur dan riwayat lain. Lihat kitab “Irwa-ul galiil” (3/150).

[11] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (4/45) dan “Bahjatun naazhiriin” (2/171).

[12] HSR Muslim (no. 916 dan 917).

Sikap Wara: Berhati-hati dan Menjauhi Harta Yang Haram

بسم الله الرحمن الرحيم

     Siapa yang tidak kenal dengan Abu Bakar ash-Shiddiq? Sahabat Rasulullah  yang mulia sangat terkenal karena banyak memiliki keutamaan dan sifat-sifat mulia dalm Islam. Sampai-sampai shahabat ‘Umar bin al-Khattab  memuji beliau dengan mengatakan: “Seandainya keimanan Abu Bakar  ditimbang dengan keimanan penduduk bumi (selain para Nabi dan Rasul) maka sungguh keimanan beliau  lebih berat dibandingkan keimanan penduduk bumi”[1].

Kisah berikut ini mengambarkan tingginya keutamaan Abu Bakar  dan besarnya kehati-hatian beliau dalam masalah halal dan haram:

Dari ‘Aisyah  bahwa ayah beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq  memiliki seorang budak yang setiap hari membayar setoran kepada Abu Bakar  (berupa harta atau makanan) dan beliau  makan sehari-hari dari setoran tersebut. Suatu hari, budak tersebut membawa sesuatu (makanan), maka Abu Bakar  memakannya. Lalu budak itu berkata kepada beliau : “Apakah anda mengetahui apa yang anda makan ini?”. Abu Bakar  balik bertanya: “Makanan apa ini?”. Budak itu berkata: “Dulu di jaman Jahiliyah, aku pernah melakukan praktek perdukunan untuk seseorang (yang datang kepadaku), padahal aku tidak bisa melakukannya, dan sungguh aku hanya menipu orang tersebut. Kemudian aku bertemu orang tersebut, lalu dia memberikan (hadiah) kepadaku (yaitu) makanan yang anda makanan ini”. Maka (setelah mendengar itu) Abu Bakar  (segera) memasukkan tangan (jari) beliau (ke dalam mulut/kerongkongan beliau) lalu beliau memuntahkan semua makanan dalam perut beliau”[2]. Continue reading

Menghidupkan Sunnah Rasulallah

بسم الله الرحمن الرحيم

     Seorang muslim yang mengaku mencintai Rasulullah , semestinya dia selalu berusaha untuk meneladani sunnah beliau  dalam kehidupannya, terlebih lagi jika dia mengaku sebagai ahlus sunnah. Karena konsekwensi utama seorang yang mengaku mencintai beliau  adalah selalu berusaha mengikuti semua petunjuk dan perbuatan beliau . Allah  berfirman:

{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ ويَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ}

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran:31). Continue reading

Mencintai dan Mengagungkan Sunnah Rasulullah

بسم الله الرحمن الرحيم

     Sunnah Rasulullah , yang berarti segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah , baik ucapan, perbuatan maupun penetapan beliau [1], memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam, karena Allah  menjadikan sunnah Rasulullah  sebagai penjelas dan penjabar dari al-Qur’an yang mulia, yang merupakan sumber utama syariat Islam. Oleh karena itu, tanpa memahami sunnah Rasulullah  dengan baik, seseorang tidak mungkin dapat menjalankan agama Islam dengan benar.

     Allah  berfirman:

{وَأَنزلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نزلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ}

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka (dari Allah ), supaya mereka memikirkan” (QS an-Nahl:44). Continue reading

Hadits Palsu Tentang Cara Menghadapi Penguasa Yang Zhalim

بسم الله الرحمن الرحيم

Hadits Palsu Tentang Cara Menghadapi Penguasa Yang Zhalim

     عن زيد بن ثابت t قال: سمعتُ رسول الله: ((سيكون في آخر الزمان أمراء جورة، فمن خاف سِجْنَهم وسيفَهم وسوطهم فلا يأمرهم ولا يَنهَهم))

     Dari Zaid bin Tsabit, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Akan ada di akhir jaman nanti para penguasa yang zhalim (suka menganiaya), barangsiapa yang takut terhadap penjara, pedang dan cambuk para penguasa tersebut maka janganlah dia memerintahkan (kebaikan) kepada mereka dan melarang mereka (dari keburukan)”.

 

Hadits ini dikeluarkan oleh imam Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam “Tarikh Ashbahan”[1] dan imam ad-Dailami dalam “Musnadul Firdaus”[2] dengan sanad mereka berdua dari jalur Isma’il bin Yahya bin ‘Ubaidillah bin Thalhah at-Taimi al-Madani, dari Mis’ar bin Qidam, dari al-Qasim bin ‘Abdir Rahman, dari Sa’id bin al-Musayyab, dari Zaid bin Tsabit t, dari Rasulullah r.

Hadits ini adalah hadits palsu, karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama Isma’il bin Yahya bin ‘Ubaidillah bin Thalhah at-Taimi al-Madani, imam Ibnu ‘Adi berkata tentangnya: “Dia meriwayatkan hadits-hadits yang batil (palsu) dari perawi-perawi yang terpercaya”[3]. Imam Ibnu Hibban berkata: “Dia termasuk orang yang meriwayatkan hadits-hadits palsu dari perawi-perawi yang terpercaya, juga hadits-hadits yang tidak ada asalnya dari perawi-perawi yang kuat, tidak dihalalkan sama sekali meriwayatkan hadits dan berhujjah dengannya”[4]. Imam adz-Dzahabi berkata: “(Dia meriwayatkan) hadits-hadits batil (palsu) dari Abu Sinan asy-Syaibani, Ibnu Juraij dan Mis’ar (bin Qidam)”[5].

Hadits ini dihukumi sebagai hadits palsu oleh imam asy-Syaukani dengan beliau mencantumkannya dalam kitab beliau yang menghimpun hadits-hadits palsu[6], dan beliau berkata: “Dalam sanad hadits ini ada seorang (perawi) pendusta”. Demikian pula al-Fatani mencantumkannya dalam kitab beliau yang menghimpun hadits-hadits palsu[7], dan beliau berkata: “Dalam sanad hadits ini ada (seorang perawi yang bernama) Isma’il (bin Yahya bin ‘Ubaidillah bin Thalhah at-Taimi al-Madani), (dia adalah) seorang pendusta”.

 

Kedudukan hadits ini yang palsu menjadikannya sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai dalil/argumentasi untuk mendiamkan dan tidak menasehati penguasa yang berbuat zhalim dan sewenang-wenang. Karena dalam hadits yang shahih Rasulullah  bersabda: “Barangsiapa di antara kamu yang melihat kemungkaran maka hendaknya dia merubahnya dengan tangannya, kalau dia tidak mampu maka dengan lisannya (ucapannya), kalau dia tidak mampu maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman”[8].

Bahkan perbuatan menasehati penguasa yang zhalim dengan cara yang benar adalah termasuk jihad yang paling utama, sebagaimana sabda Rasulullah: “Jihad yang paling utama adalah kalimat yang benar di hadapan penguasa/pemimpin yang zhalim”[9].

Cuma perlu diingatkan di sini bahwa cara yang benar untuk menasehati penguasa/pemerintah adalah dengan menyampaikan nasehat tersebut secara sembunyi-sembunyi dan langsung kepada penguasa yang bersangkutan, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits ini: “…kalimat yang benar di hadapan penguasa/pemimpin yang zhalim”. Jadi bukannya di sampaikan di hadapan orang umum yang sama sekali tidak berkepentingan dengan nasehat tersebut, karena ini merupakan perbuatan ghibah (menggunjing) yang tercela dalam agama Islam, yaitu menyebutkan keburukan saudara sesama muslim di belakangnya[10].

Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang ingin menasehati seorang penguasa, maka janganlah dia menyampaikan (nasehat tersebut) secara terang-terangan (di depan orang umum), akan tetapi hendaknya dia mengambil tangannya dan menyampaikannya secara tersembunyi, kalau diterima (nasehat) darinya maka itulah (yang diharapkan), kalau tidak (diterima) maka dia telah menunaikan kewajibannya”[11].

 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 16 Ramadhan 1433 H

 Abdullah bin Taslim al-Buthoni

 

 

 


[1] (2/108).

[2] Dinukil oleh Ibnu Hajar dalam “al-Gara-ibul multaqathah min musnadil firdaus” (no. 419 – Disertasi S2).

[3] Kitab “al-Kamil fi dhu’afaa-ir rijaal” (1/302).

[4] Kitab “al-Majruuhiin minal muhadditsiin” (1/126).

[5] Kitab “Miizaanul i’tidaal” (1/415).

[6] Kitab “al-Fawa-idul majmuu’ah fil ahaadiitsil maudhuu’ah” (hal 210, no. 13).

[7] Kitab “Tadzkiratul maudhuu’aat” (hal. 183).

[8] HSR Muslim (no. 49).

[9] HR Ahmad (3/19, 3/61 dan 4/315), Abu Dawud (2/527), at-Tirmidzi (4/471), an-Nasa-i (7/161), Ibnu Majah (2/1329) dan al-Hakim (4/551), dinyatakan shahih oleh imam al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani karena jalur periwayatannya banyak dan saling menguatkan, (lihat “ash-Shahiihah” no. 491).

[10] Sebagaimana yang dijelaskan dalam sabda Rasulullah r HSR Mualim (no. 2589).

[11] HR Ahmad (3/403), al-Hakim (3/329) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab “as-Sunnah” (no. 1096 – Zhilaalul jannah), dinyatakan shahih oleh imam al-Hakim dan syaikh al-Albani.

Al-‘Afuw, Yang Maha Pemaaf

Makna al-Afuw secara bahasa

     Ibnu Faris menjelaskan bahwa asal kata nama ini menunjukkan dua makna, salah satunya adalah meninggalkan sesuatu[1].

     Ibnul Atsir berkata: “Nama Allah “al-‘Afuw” adalah fa’uul dari kata al-‘afwu (memaafkan) yang berarti memaafkan perbuatan dosa dan tidak menghukumnya, asal maknanya: menghapus dan menghilangkan[2].

     Al-Fairuz Abadi berkata: “al-‘Afwu adalah pemaafan dan pengampunan Allah atas (dosa-dosa) makhluk-Nya, serta tidak memberikan siksaan kepada orang yang pantas (mendapatkannya)[3].

Continue reading