Keutamaan Menyambung Shaf Dalam Shalat Berjama’ah

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «مَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ» رواه أبو داود، والنسائي وغيرهما، وهو حديث صحيح.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang menyambung shaf (dalam shalt berjama’ah) maka Allah akan menyambungnya (dengan limpahan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutus shaf maka Allah akan memutuskan (rahmat-Nya dari)nya”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan menyambung shaf dalam shalat berjama’ah, karena ini merupakan sebab besar meraih limpahan rahmat Allah ﷻ dan kedudukan mulia di sisi-Nya[2]. Continue reading

Keutamaan Mengucapkan Salam Dengan Lafazh Salam Yang Lengkap

بسم الله الرحمن الرحيم

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رضي الله عنه  قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ ثُمَّ جَلَسَ، فَقَالَ النَّبِىُّ: «عَشْرٌ ». ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ، فَقَالَ: « عِشْرُونَ ». ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ، فَقَالَ « ثَلاَثُونَ » صحيح رواه أبو داود والترمذي وغيرهما.

Dari ‘Imran bin Hushain رضي الله عنه  dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata: as-Salaamu ‘alaikum (semoga keselamatan dari Allah tercurah untukmu). Lalu Rasulullah ﷺ membalas salam orang tersebut, kemudian orang tersebut duduk dan Rasulullah ﷺ bersabda: “(Dia mendapatkan) sepuluh kebaikan”. Kemudian datang orang lain kepada beliau ﷺ lalu berkata: as-Salaamu ‘alaikum warahmatullah (semoga keselamatan dan rahmat dari Allah tercurah untukmu). Lalu Beliau ﷺ membalas salam orang tersebut, kemudian orang tersebut duduk dan Rasulullah ﷺ bersabda: “(Dia mendapatkan) dua puluh kebaikan”. Kemudian datang lagi orang lain kepada beliau ﷺ lalu berkata: as-Salaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh (semoga keselamatan, rahmat dan keberkahan dari Allah tercurah untukmu). Lalu Beliau ﷺ membalas salam orang tersebut, kemudian orang tersebut duduk dan Rasulullah ﷺ bersabda: “(Dia mendapatkan) tiga puluh kebaikan”[1]. Continue reading

Keutamaan Mengucapkan Salam Kepada Setiap Muslim Yang Dikenal Maupun Tidak Dikenal

بسم الله الرحمن الرحيم

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضي الله عنه : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيََ: أَيُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ؟ قَالَ: « تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ » متفق عليه

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash رضي الله عنه  bahwa ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ: Apakah (amal dalam) Islam yang paling baik? Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “(Yaitu) kamu memberi makan (orang yang membutuhkan) dan mengucapkan salam kepada orang (muslim) yang kamu kenal maupun tidak kamu kenal”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan mengucapkan salam kepada setiap muslim yang dikenal maupun tidak dikenal, karena ini termasuk amal kebaikan yang paling utama dalam Islam dan sebab besar untuk masuk Surga, dengan taufik dari Allah ﷻ. Continue reading

Keutamaan Mengasuh Dan Mendidik Anak Perempuan Dengan Baik

Dari Ummul mu’minin ‘Aisyah رضي الله عنه, beliau berkata: “(Suatu hari) seorang perempuan miskin datang ke rumahku dengan membawa dua anak perempuannya, maka aku memberikan makanan kepadanya tiga buah kurma. Lalu dia memberikan sebuah kurma kepada masing-masing dari kedua putrinya tersebut, dan mengangkat satu buah kurma (yang tersisa) ke mulutnya untuk dimakan, tapi kedua putrinya meminta makan kurma tersebut. Maka perempuan itu membagi dua kurma yang tadi ingin dimakannya untuk kedua putrinya. Perbuatan perempuan itu sangat membuatku kagum, maka akupun menceritakannya kepada Rasulullah ﷺ,

lalu beliau ﷺ bersabda:

« إِنَّ اللَّهَ أَوْجَبَ لَهَا بِهَا الْجَنَّةَ وَأَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ »

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan (masuk Surga) bagi perempuan tersebut karena perbuatannya itu, atau membebaskannya dari (azab) Neraka karena perbuatannya itu”[1]. Continue reading

Menyemarakkan Rumah Dengan Bacaan Al-Quran

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Adakah kebutuhan manusia yang melebihi kebutuhan makan dan minum? Jawabnya: ada, yaitu kebutuhan manusia terhadap petunjuk Allah  (baca: al-Qur-an) untuk membaca, memahami dan mengamalkan kandungannya.

Al-Qur-an adalah pedoman hidup untuk kebahagiaan manusia dunia dan akhirat, petunjuk kepada jalan yang lurus, obat bagi penyakit hati manusia, penyubur keimanan dan fungsi-fungsi kebaikan lain yang dibutuhkan oleh manusia untuk kebahagiaan hidup mereka, dan ini jelas lebih dari fungsi makanan dan minuman bagi manusia.

Coba renungkan makna firman-firman Allah  berikut ini:

{إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا}

“Sesungguhnya al-Qur-an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (QS al-Israa’).

     {وَنُنزلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِين}

“Dan Kami turunkan di dalam al-Qur’an suatu yang menjadi obat (penyakit manusia) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS al-Israa’: 82).

{الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ}

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan (membaca) petunjuk Allah (al-Qur-an). Ingatlah, hanya dengan (membaca) petunjuk Allah (al-Qur-an) hati menjadi tenteram” (QS ar-Ra’du:28).

Artinya: dengan membaca dan merenungkan al-Qur-an  segala kegalauan dan kegundahan dalam hati mereka akan hilang dan berganti dengan kegembiraan dan kesenangan[1]. Continue reading

Keteladanan Ulama Salaf Dalam Bersegera Melaksanakan Shalat Berjama’ah

بسم الله الرحمن الرحيم

Selalu mengingat Allah dalam semua keadaan dan bersegera menunaikan ibadah kepada-Nya ketika tiba waktunya, ini adalah sifat mulia dan terpuji yang dimiliki oleh hamba-hamba Allah yang beriman kepada-Nya dan selalu mengutamakan keridhaan-Nya, sehingga mereka tidak dilalaikan dari mengingat-Nya dalam kesibukan apapun yang sedang mereka kerjakan.

Allah berfirman:

{فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ. رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ. لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ}

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari (pembalasan) yang (pada saat itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas” (QS an-Nuur: 36-38). Continue reading

Keutamaan Ahli al-Qur-an

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : « إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ ». قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ : « هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ؛ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ » حديث صحيح رواه أحمد وابن ماجه وغيرهما.

Dari Anas bin Malik  beliau berkata: Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya di antara manusia ada ‘ahli’ Allah”. Para Shahabat  bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah mereka?. Beliau  bersabda: “Mereka adalah ahli al-Qur-an, (merekalah) ahli (orang-orang yang dekat dan dicintai) Allah dan diistimewakan di sisi-Nya”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan orang yang menjadi ahli al-Qur-an yaitu orang yang tekun dan sungguh-sungguh mempelajari lafazh dan kandungan maknanya, kemudian mengajarkannya kepada manusia[2]. Continue reading

Keutamaan Pasangan Suami-Istri Yang Selalu Tolong-menolong Dalam Kebaikan

     عَن أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  : « رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ ، رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا ، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ » رواه أبو داود وغيره

     Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah  bersabda: “Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di malam, hari lalu dia melaksanakan shalat (malam), kemudian dia membangunkan istrinya, kalau istrinya enggan maka dia akan memercikkan air pada wajahnya (supaya terbangun). Dan semoga Allah merahmati seorang perempuan yang bangun di malam hari, lalu dia melaksanakan shalat (malam), kemudian dia membangunkan suaminya, kalau suaminya enggan maka dia akan memercikkan air pada wajahnya (supaya terbangun)”[1].

Hadits yang mulia ini menunjukkan besarnya keutamaan pasangan suami istri yang selalu saling memotivasi dan mnasehati dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah , dalam rangka mengamalkan firman Allah :

{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ}

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS al-Maaidah: 2)[2].

Beberapa faidah penting yang dapat kita petik dari hadits ini:

– Sebaik-baik pemberian dan usaha kebaikan untuk orang-orang yang kita cintai dan keluarga kita adalah ajakan dan nasehat untuk taat kepada Allah, karena inilah yang bernilai kekal dan menyelamatkan dari kebinasaan abadi di akhirat nanti. Allah  berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ}

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).

Ali bin Abi Thalib  ketika menafsirkan ayat di atas berkata: “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu”[3].

– Tolong menolong dan saling menasehati dalam kebaikan adalah sebab untuk mendapatkan rahmat dan keberkahan dari Allah  di dunia dan akhirat.

– Sebagaimana ini juga merupakan sebab kekalnya jalinan cinta dan kasih sayang dengan orang-orang yang kita cintai, karena pada hari kiamat nanti, semua bentuk jalinan cinta, kedekatan dan persahabatan akan berubah menjadi permusuhan, kecuali orang-orang yang menjalinnya di atas takwa dan saling menasehati dalam kebaikan. Allah  berfirman:

{الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ}

“Orang-orang yang berkasih sayang pada waktu itu (di akhirat) menjadi musuh satu sama lainnya, kecuali orang-orang yang bertaqwa” (QS az-Zukhruf:67).

Ayat ini menunjukkan bahwa semua jalinan cinta dan kasih sayang di dunia yang bukan karena Allah, maka di akhirat nanti berubah menjadi kebencian dan permusuhan, dan yang kekal abadi hanyalah jalinan cinta dan kasih sayang karena-Nya[4].

– Nasehat dan ajakan untuk berbuat baik dilakukan dengan cara yang lemah lembut[5] dan tidak dengan cara yang keras, kecuali dalam kondisi tertentu dan dengan pertimbangan untuk mendatangkan kebaikan yang lebih besar.

– Hadits ini menunjukkan bahwa memaksa seseorang untuk berbuat kebaikan diperbolehkan bahkan dianjurkan, jika tidak menimbulkan keburukan yang lebih besar[6].

– Imam ath-Thiibi ketika mengomentari hadits ini, beliau berkata: “Barangsiapa yang mendapatkan kebaikan maka semestinya dia menginginkan (kebaikan) untuk orang lain sebagaimana dia menginginkannya untuk dirinya sendiri, dengan memulai (mengusahakan kebaikan tersebut) dari orang-orang yang paling terdekat (dengannya)”[7].

 

 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 28 Rabi’ul awal 1435 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

 


[1] HR Abu Dawud (no. 1308), an-Nasa-i (3/205), Ahmad (2/250), Ibnu Khuzaimah (2/183), Ibnu Hibban (6/306) dan al-Hakim (1/453), dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Hakim dan syaikh al-Albani.

[2] Lihat kitab “’Aunul Ma’bud” (4/228).

[3] Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam “al-Mustadrak” (2/535), dishahihkan oleh al-Hakim sendiri dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

[4] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/170).

[5] Lihat kitab “’Aunul Ma’bud” (4/228).

[6] Lihat kitab “’Aunul Ma’bud” (4/228).

[7] Dinukil oleh Imam al-Munawi dalam kitab “Faidhul Qadiir” (4/25).

Keutamaan Memberi Tangguh Atau Membebaskan Orang Yang Kesusahan Membayar Utang

بسم الله الرحمن الرحيم

     عن أبي هريرة  قال: قال رسول الله : « مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ لَهُ، أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلُّهُ »

     Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah  bersabda: “Barangsiapa yang memberi tangguh kepada orang yang kesusahan (membayar utang) atau membebaskannya, maka Allah akan menaunginya dalam naungan (Arsy)-Nya pada hari (Kiamat) yang tidak ada naungan selain naungan (Arsy)-Nya”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan besar memberi tangguh bagi orang yang memiliki utang dan kesulitan melunasi utangnya, lebih utama lagi membebaskan pembayaran utang tersebut, seluruhnya atau sebagiannya[2]. Continue reading

Keutamaan Mengaminkan Bacaan Al_Fatihah Imam Dengan Benar

عَن ْأَبِى هُرَيْرَة َ أَنَّ النَّبِىَّ  قَالَ: «إِذَا أَمَّنَ الإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُه ُتَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَلَهُ مَا تَقَدَّم َمِنْ ذَنْبِهِ»

Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah  bersabda: “Jika imam mengucapkan ‘amiin’ (setelah membaca surah al-Fatihah) maka ucapkanlah ‘amiin’, karena sesungguhnya barangsiapa yang mengucapkan ‘amiin’ bersesuaian dengan ucapan ‘amiin’ para Malaikat maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan mengucapkan ‘amiin’ bagi makmum setelah imam membaca surah al-Fatihah dalam shalat berjama’ah, bersamaan/mengikuti ucapan ‘amiin’ yang dibaca oleh imam pada waktu itu, tidak mendahului atau terlambat darinya[2].

Imam Ibnul Munir berkata: “Keutamaan apa yang lebih besar dari ucapan ringan dan tanpa beban ini, tapi menyebab Continue reading