Keutamaan Memurnikan Tauhid Kepada Allah

Allah ﷻ berfirman:

{الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ}

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang (selalu) mendapat petunjuk” (QS al-An’aam: 82).

Ayat yang agung ini menunjukkan agungnya keutamaan memurnikan iman dan tauhid dari noda syirik (menyekutukan Allah ﷻ), karena hal ini merupakan sebab utama seorang hamba meraih semua kebaikan dan kemuliaan di sisi Allah ﷻ, yaitu keamanan dan petunjuk dari-Nya di dunia dan akhirat[1]. Syaikhul Islam Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab رحمه الله mencantumkan ayat ini dalam kitab “at-Tauhid” dalam pembahasan: Keutamaan Tauhid dan Kedudukannya sebagai pengugur dosa-dosa[2]. Continue reading

Keutamaan Menolong Agama Allah

Allah ﷻ berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ}

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad: 7).

Ayat yang mulia ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang menolong agama Allah ﷻ, karena Allah ﷻ akan memudahkan pertolongan-Nya baginya dan meneguhkan kedudukasnnya, sebagai balasan yang sesuai dengan perbuatan hamba tersebut[1].

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di رحمه الله berkata: “Ini adalah perintah dari Allah ﷻ kepada kaum mukminin agar mereka menolong (agama) Allah, dengan mengamalkan agama-Nya, berdakwah (mengajak manusia) ke jalan-Nya dan berjihad melawan musuh-musuh-Nya, dengan niat mengharapkan wajah Allah. Continue reading

Keutamaan Mentadabburi/Merenungkan Ayat-Ayat Al-Qur-an

Allah ﷻ berfirman:

{كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ}

“Ini adalah sebuah kitab (al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah (kebaikan yang berlimpah), supaya mereka merenungkan (makna) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS Shaad: 29).

Ayat yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan mentadabburi ayat-ayat al-Qur-an, memahami maknanya, serta menghayati petunjuknya, agar menjadi sebab keberkahan dan kebaikan bagi diri manusia, lahir dan batin.

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari رحمه الله berkata: “Allah ﷻ memotivasi hamba-hamba-Nya untuk mengambil pelajaran dari ayat-ayat al-Qur-an (dengan merenungkannya), berupa nasehat-nasehat (yang bermanfaat) dan bukti-bukti (kebenaran)”. Kemudian beliau menyebutkan ayat tersebut  di atas[1]. Continue reading

Keutamaan Orang Yang Selalu Mengumandangkan Adzan

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِى سُفْيَانَ t قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: « الْمُؤَذِّنُونَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ » روه مسلم

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Para mu’adzdzin (orang-orang yang selalu mengumandangkan adzan) adalah orang-orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat nanti”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang selalu mengumandang-kan adzan, karena sifat yang disebutkan disebutkan dalam hadits di atas berhubungan dengan keutamaan besar bagi para mu’adzdzin. Oleh karena itu, beberapa ulama, seperti Imam an-Nawawi رحمه الله dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin رحمه الله, menjadikan hadits ini sebagai argumentasi yang menunjukkan bahwa mengumandangkan adzan lebih utama dari pada menjadi imam dalam shalat berjamaah[2].

Dalam beberapa hadits shahih lainnya, Rasulullah ﷺ menjelaskan keutamaan besar mengumndangkan adzan, seperti sabda beliau ﷺ: “Seandainya manusia mengetahui besarnya keutamaan mengumandangkan adzan dan (menempati) shaff pertama (dalam shalat berjama’ah) lalu mereka tidak mendapatkan (cara untuk meraih keutamaan tersebut) kecuali dengan melakukan undian maka niscaya mereka mau mengadakan undian untuk itu”[3]. Continue reading

Keutamaan Memahami Tauhid Nama-nama dan Sifat-sifat Allah

Memahami nama-nama Allah yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna merupakan pembahasan yang sangat penting dalam agama Islam, bahkan termasuk bagian paling penting dan utama dalam merealisasikan keimanan yang sempurna kepada Allah Ta’ala. Karena tauhid ini adalah salah satu dari dua jenis tauhid yang menjadi landasan utama iman kepada Allah Ta’ala.

Imam Ibnul Qayyim – semoga Allah merahmatinya – berkata: “sendi utama (kunci pokok) kebahagiaan, keselamatan dan keberuntungan (seorang hamba) adalah dengan merealisasikan dua (jenis) tauhid yang merupakan landasan tegaknya iman kepada Allah Ta’ala, yang untuk (tujuan) merealisasikan dua jenis tauhid inilah Allah Ta’ala mengutus para Rasulnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah (inti) seruan para Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari yang pertama sampai yang terakhir. (Kedua jenis tauhid itu adalh): Continue reading

Sabar Tidak Berarti Berpangku Tangan

“Sampai kapan kita terus bersabar melihat keadaan seperti ini?”, “Apa kita bersabar terus sampai hancur dan binasa?”, “Kalau kita bersabar terus tanpa berbuat apa-apa maka kapan keadaan buruk ini akan berubah?”.

Komentar-komantar di atas barangkali sering kita kita dengarkan, atau bahkan disampaikan kepada kita ketika kita berupaya mengajak sebagian dari kaum muslimin untuk bersikap benar dan bersabar dalam menghadapi kejadian-kejadian di sekitar kita yang tidak kita inginkan.

Tentu saja komentar-komentar tersebut tidak didasari ilmu dan pemahaman agama yang benar, khususnya dalam memahami makna sifat sabar yang banyak dipuji dan diperintahkan dalam ayat-ayat al-Qur’an. Continue reading

Keutamaan Menundukkan Hawa Nafsu Karena Allah ﷻ

عَنْ فَضَالَةَ بن عُبَيْدٍ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: « الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ »

Dari Fadhalah bin ‘Ubaid رضي الله عنه beliau berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang yang berjihad/berjuang dengan sungguh-sungguh (yang sebenarnya) adalah orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menundukkan hawa nafsunya di jalan Allah ﷻ – dalam riwayat lain: dalam ketaatan kepada Allah –”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menundukkan hawa nafsunya dalam rangka mengikuti ketaatan kepada Allah ﷻ. Continue reading

Keutamaan Selalu Menjaga Wudhu Dan Shalat Dua Rakaat Sesudahnya

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada Bilal رضي الله عنه ketika di waktu shalat subuh: “Wahai Bilal, sampaikanlah kepadaku amal shaleh yang kamu kerjakan dan paling diharapkan manfaatnya (di sisi Allah ﷻ) dalam Islam, karena sesunguhnya tadi malam (dalam mimpi) aku mendengar suara sandalmu (langkah kakimu) di depanku di dalam Surga”. Maka Bilal berkata: “Tidaklah aku mengamalkan satu amal shaleh dalam Islam yang paling aku harapkan manfaatnya (di sisi Allah ﷻ) lebih dari (amal shaleh yaitu) tidaklah aku berwudhu dengan sempurna pada waktu malam atau siang, kecuali aku mengerjakan shalat dengan wudhu itu sesuai dengan apa yang ditetapkan Allah bagiku untuk aku kerjakan”[1]. Continue reading

Keutamaan Berdo’a Di Waktu Tertentu Di Hari Jum’at

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ: « فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ »، وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا. رواه البخاري ومسلم

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه  bahwa Rasulullah ﷺ menyebut hari Jum’at, lalu beliau ﷺ bersabda: “Di hari Jum’at ada suatu waktu (tertentu) yang ketika itu jika bertepatan dengan seorang muslim yang sedang shalat (dan) memohon sesuatu kepada Allah ﷻ maka pasti Allah berikan permohonannya tersebut”, lalu Rasulullah ﷺ mengisyaratkan dengan tangan beliau ﷺ bahwa waktu itu sangat singkat[1].

Dalam hadits yang agung ini terdapat keutamaan besar bagi orang yang berdo’a kepada Allah ﷻ di waktu tersebut, karena Rasulullah ﷺ menjanjikan baginya pengabulan do’a. Continue reading

Keutamaan Mendo’akan Kebaikan Bagi Sesama Muslim Tanpa Sepengetahuannya

عَنْ أَبِي الدَّدَاءِ t أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قال: «دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ» رواه مسلم

Dari Abu ad-Darda’ رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Do’a (kebaikan) seorang muslim bagi saudaranya (sesama muslim) di belakangnya (tanpa sepengetahuannya) adalah mustajab (dikabulkan oleh Allah ﷻ), di atas kepalanya ada Malaikat yang ditugaskan (dengan perintah Allah ﷻ untuk urusan ini), setiap kali dia mendo’akan kebaikan bagi saudaranya maka Malaikat yang ditugaskan itu berkata: “Aamiin (Ya Allah kabulkanlah!) dan kamu juga akan mendapatkan (kebaikan) seperti itu”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan besar mendo’akan kebaikan bagi saudara kita sesama muslim, baik satu orang maupun lebih, tanpa sepengetahuannya, karena do’a ini dijanjikan pengabulannya dari Allah ﷻ dan orang yang melakukannya akan mendapatkan kebaikan seperti yang dido’akannya untuk saudaranya. Oleh karena itu, Imam an-Nawawi mencantumkan hadits ini dalam bab: Keutamaan mendo’akan (kebaikan) bagi kaum muslimin di belakangnya (tanpa sepengetahuan-nya)[2]. Continue reading