Hadits Palsu Tentang Surga Di Bawah Telapak Kaki Ibu

رُوِيَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ  قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ :  الجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ اْلأُمَّهَاتِ

“Diriwayatkan dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Surga ada di bawah telapak kaki para ibu.” Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Abu asy-Syaikh al-Ashbahani rahimahullah dalam Thabaqâtul Muhadditsîna bi-Ashbahân (3/568), al-Qudha-‘i dalam Musnad asy-Syihâb (1/102) dan ad-Daulabi dalam al-Kuna wal Asmâ’ (no. 1440) dengan sanad mereka semua dari Manshûr bin al-Muhajir, dari Abu an-Nadhr al-Abbar, dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu , dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Hadits ini adalah hadits yang sangat lemah, dalam sanadnya ada dua rawi yang tidak dikenal, yaitu Manshûr bin al-Muhajir dan Abu an-Nadhr al-Abbar.

Imam Ibnu Thahir rahimahullah berkata, “Manshûr (bin al-Muhajir) dan Abu an-Nadhr (keduanya) tidak dikenal, dan hadits ini adalah mungkar (sangat lemah).” Continue reading

Hadits Palsu Tentang Adanya Bid’ah Hasanah (Yang Baik)

رُوِيَ عن أنس بن مالك  t قال: قال رسول الله ﷺ: ((ما استحسنوا فهو عند الله حسن وما استقبحوا فهو عند الله قبيح)) حديث موضوع رواه الخطيب البغدادي وابن الجوزي.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin maka itu baik di sisi Allah dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin maka itu buruk di sisi Allah”.

Hadist ini dikeluarkan oleh Imam al-Khathib al-Bagdadi رحمه الله dalam “Tarikh Bagdad” (4/165) dan dari jalurnya oleh Imam Ibnul Jauzi dalam kitab “al-Waahiyaat” (no. 452) dari jalur Sulaiman bin ‘Amr Abu Dawud an-Nakha’i, dari Aban bin Abi Ayyasy dan Humaid ath-Thawil, dari Anas bin Malik, dari Rasulullah ﷺ.

Hadits ini adalah hadits palsu, dalam sanadnya ada rawi yang bernama Sulaiman bin ‘Amr Abu Dawud an-Nakha’i, dia adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits. Imam Ahmad رحمه الله berkata tentangnya: “Dia selalu memalsukan hadits”. Imam Yahya bin Ma’in رحمه الله berkata: “Dia adalah orang yang paling pendusta”. Imam al-Bukhari رحمه الله berkata: “Dia ditinggalkan (riwayat haditsnya karena kelemahannya yang fatal), Imam Qutaibah dan Ishaq menilainya sebagai pendusta”[1]. Continue reading

Hadits Sangat Lemah Tentang Kalimat Hikmah

رُوِيَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ t أنه قَال:َ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: « الْكَلِمَةُ الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا » رواه الترمذي وابن ماجه وغيرهما وهو ضعيف جداً.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Kalimat hikmah adalah barang berharga orang beriman yang hilang, sehingga di manapun dia menemukannya maka dia yang paling berhak terhadapnya”.

Hadits ini dikeluarkan oleh oleh Imam at-Tirmidzi (5/51), Ibnu Majah (no. 4169), Ibnu Hibban dalam kitab “al-Majruhin” (1/105) dan Ibnul Jauzi dalam “al-‘Ilal al-mutanahiyah” (1/95), dengan sanad mereka dari jalur Ibrahim bin al-Fadhl, dari Sa’id al-Maqburi, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ.

Hadist ini sangat lemah, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama Ibrahim bin al-Fadhl al-Makhzumi, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani –rahimahullah- berkata tentangnya: “Dia ditinggalkan (riwayat haditsnya kerena kelemahannya yang sangat fatal)[1]. Continue reading

Hadits yang Sangat Lemah Tentang Larangan Berpuasa Ketika Safar

  رُوِيَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ t قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّهِ r: « صَائِمُ رَمَضَانَ فِى السَّفَرِ كَالْمُفْطِرِ فِى الْحَضَرِ »

     Diriwayatkan dari ‘Abdur Rahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang berpuasa Ramadhan ketika sedang safar adalah seperti orang yang tidak berpuasa ketika sedang tidak safar”.

     Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah (no. 1666), asy-Syaasyi dalam “al-Musnad” (no. 229 dan 230) dan ath-Thabari dalam “Tahdziibul aatsaar” (5/189)[1], dengan sanad mereka semua dari jalur Usamah bin Zaid al-Laitsi, dari Ibnu Syihab az-Zuhri, dari Abu Salamah bin ‘Abdir Rahman bin ‘Auf, dari ayahnya ‘Abdur Rahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Continue reading

Orang Yang Pantas Dicemburui

Hukum asalnya, sifat iri dan cemburu terhadap kelebihan orang lain dalam Islam tidak diperbolehkan. Karena sifat ini mengandung prasangka buruk kepada Allah dan tidak ridha dengan pembagian yang Allah berikan kepada makhluk-Nya. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengecualikan beberapa orang yang boleh dan pantas untuk dicemburui karena kelebihan besar yang mereka miliki. Siapakah mereka? Temukan jawabannya dalam hadits berikut ini,

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ، وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ، فَقَالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الحَقِّ، فَقَالَ رَجُلٌ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ

Tidak ada (sifat) iri (yang terpuji) kecuali pada dua orang: seorang yang dipahamkan oleh Allah tentang al-Qur-an kemudian dia membacanya di waktu malam dan siang hari, lalu salah seorang tetangganya mendengarkan (bacaan al-Qur-an)nya dan berkata: “Duhai kiranya aku diberi (pemahaman al-Qur-an) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan seperti (membaca al-Qur-an) seperti yang diamalkannya. Dan seorang yang dilimpahkan oleh Allah baginya harta (yang berlimpah) kemudian dia membelanjakannya di (jalan) yang benar, lalu ada orang lain yang berkata: “Duhai kiranya aku diberi (kelebihan harta) seperti yang diberikan kepada si Fulan, sehingga aku bisa mengamalkan (bersedekah di jalan Allah) seperti yang diamalkannya” (HR. Al-Bukhari). Continue reading

Hadits Lemah Tentang Keutamaan Shaf-shaf Sebelah Kiri

رُوِيَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِىَّ ﷺ قَالَ: « مَنْ عَمَّرَ مَيْسَرَةَ الْمَسْجِدِ كُتِبَ لَهُ كِفْلاَنِ مِنَ الأَجْرِ »

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang memakmurkan (mengisi) sebelah kiri (shaf-shaf) masjid maka akan ditetapkan baginya dua bagian pahala”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah (1/321, no. 1007) dan ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabir” (11/292) dan “al-Mu’jamul ausath” (5/64, no. 4678), dengan sanad mereka berdua dari ‘Amr bin ‘Utsman al-Kilabi, dari ‘Ubaidullah bin ‘Amr ar-Raqqi, dari Laits bin Abi Sulaim, dari Nafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنه , dari Rasulullah ﷺ . Continue reading

Keutamaan Selalu Menjaga Wudhu Dan Shalat Dua Rakaat Sesudahnya

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada Bilal رضي الله عنه ketika di waktu shalat subuh: “Wahai Bilal, sampaikanlah kepadaku amal shaleh yang kamu kerjakan dan paling diharapkan manfaatnya (di sisi Allah ﷻ) dalam Islam, karena sesunguhnya tadi malam (dalam mimpi) aku mendengar suara sandalmu (langkah kakimu) di depanku di dalam Surga”. Maka Bilal berkata: “Tidaklah aku mengamalkan satu amal shaleh dalam Islam yang paling aku harapkan manfaatnya (di sisi Allah ﷻ) lebih dari (amal shaleh yaitu) tidaklah aku berwudhu dengan sempurna pada waktu malam atau siang, kecuali aku mengerjakan shalat dengan wudhu itu sesuai dengan apa yang ditetapkan Allah bagiku untuk aku kerjakan”[1]. Continue reading

Keutamaan Berdo’a Di Waktu Tertentu Di Hari Jum’at

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ: « فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ »، وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا. رواه البخاري ومسلم

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه  bahwa Rasulullah ﷺ menyebut hari Jum’at, lalu beliau ﷺ bersabda: “Di hari Jum’at ada suatu waktu (tertentu) yang ketika itu jika bertepatan dengan seorang muslim yang sedang shalat (dan) memohon sesuatu kepada Allah ﷻ maka pasti Allah berikan permohonannya tersebut”, lalu Rasulullah ﷺ mengisyaratkan dengan tangan beliau ﷺ bahwa waktu itu sangat singkat[1].

Dalam hadits yang agung ini terdapat keutamaan besar bagi orang yang berdo’a kepada Allah ﷻ di waktu tersebut, karena Rasulullah ﷺ menjanjikan baginya pengabulan do’a. Continue reading

Keutamaan Mendo’akan Kebaikan Bagi Sesama Muslim Tanpa Sepengetahuannya

عَنْ أَبِي الدَّدَاءِ t أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قال: «دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ» رواه مسلم

Dari Abu ad-Darda’ رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Do’a (kebaikan) seorang muslim bagi saudaranya (sesama muslim) di belakangnya (tanpa sepengetahuannya) adalah mustajab (dikabulkan oleh Allah ﷻ), di atas kepalanya ada Malaikat yang ditugaskan (dengan perintah Allah ﷻ untuk urusan ini), setiap kali dia mendo’akan kebaikan bagi saudaranya maka Malaikat yang ditugaskan itu berkata: “Aamiin (Ya Allah kabulkanlah!) dan kamu juga akan mendapatkan (kebaikan) seperti itu”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan besar mendo’akan kebaikan bagi saudara kita sesama muslim, baik satu orang maupun lebih, tanpa sepengetahuannya, karena do’a ini dijanjikan pengabulannya dari Allah ﷻ dan orang yang melakukannya akan mendapatkan kebaikan seperti yang dido’akannya untuk saudaranya. Oleh karena itu, Imam an-Nawawi mencantumkan hadits ini dalam bab: Keutamaan mendo’akan (kebaikan) bagi kaum muslimin di belakangnya (tanpa sepengetahuan-nya)[2]. Continue reading

Keutamaan Menyambung Shaf Dalam Shalat Berjama’ah

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «مَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ» رواه أبو داود، والنسائي وغيرهما، وهو حديث صحيح.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang menyambung shaf (dalam shalt berjama’ah) maka Allah akan menyambungnya (dengan limpahan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutus shaf maka Allah akan memutuskan (rahmat-Nya dari)nya”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan menyambung shaf dalam shalat berjama’ah, karena ini merupakan sebab besar meraih limpahan rahmat Allah ﷻ dan kedudukan mulia di sisi-Nya[2]. Continue reading