Teladan Para Ulama Salaf Dalam Beribadah di Bulan Ramadhan

بسم الله الرحمن الرحيم

Bulan Ramdhan merupakan musim kebaikan terbesar dalam Islam dan waktu dilipatgandakannya pahala dan keutamaan amal shaleh dengan sebesar-besarnya. Inilah musim kebaikan besar yang ditunggu-tunggu oleh setiap orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.

Bahkan karena agungnya keutamaan bulan suci ini, sehingga Rasulullah selalu menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat akan kedatangan bulan yang penuh berkah ini1.

Sahabat yang mulia, Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda, menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya : “Telah datang bulan Ramadhan yang penuh keberkahan (kebaikan yang melimpah), Allah mewajibkan kalian berpuasa padanya, pintu-pintu surga di buka pada bulan itu, pintu-pintu neraka di tutup, dan para setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam (kemuliaan/lailatul qadr) yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalangi (untuk mendapatkan) kebaikan malam itu maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang agung)”2. Continue reading

Keutamaan Puasa Ramadhan Untuk Meraih Takwa

بسم الله الرحمن الرحيم

Keutamaan Puasa Ramadhan Untuk Meraih Takwa

Allah berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ}

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (QS al-Baqarah:183).

Imam Ibnu Katsir berkata: “Dalam ayat ini Allah berfirman kepada orang-orang yang beriman dan memerintahkan mereka untuk (melaksanakan ibadah) puasa, yang berarti menahan (diri) dari makan, minum dan hubungan suami-istri dengan niat ikhlas karena Allah (semata), karena puasa (merupakan sebab untuk mencapai) kebersihan dan kesucian jiwa, serta menghilangkan noda-noda buruk (yang mengotori hati) dan semua tingkah laku yang tercela”1.

Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di menjelaskan unsur-unsur takwa yang terkandung dalam ibadah puasa, sebagai berikut:

– Orang yang berpuasa (berarti) meninggalkan semua yang diharamkan Allah (ketika berpuasa), berupa makan, minum, berhubungan suami-istri dan sebagainya, yang semua itu diinginkan oleh nafsu manusia, untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan balasan pahala dari-Nya dengan meninggalkan semua itu, ini adalah termasuk takwa (kepada-Nya).

– Orang yang berpuasa (berarti) melatih dirinya untuk (merasakan) muraqabatullah (selalu merasakan pengawasan Allah ), maka dia meninggalkan apa yang diinginkan hawa nafsunya padahal dia mampu (melakukannya), karena dia mengetahui Allah maha mengawasi (perbuatan)nya.

– Sesungguhnya puasa akan mempersempit jalur-jalur (yang dilalui) setan (dalam diri manusia), karena sesungguhnya setan beredar dalam tubuh manusia di tempat mengalirnya darah2, maka dengan berpuasa akan lemah kekuatannya dan berkurang perbuatan maksiat dari orang tersebut.

– Orang yang berpuasa umumnya banyak melakukan ketaatan (kepada Allah ), dan amal-amal ketaatan merupakan bagian dari takwa.

– Orang yang kaya jika merasakan beratnya (rasa) lapar (dengan berpuasa) maka akan menimbulkan dalam dirinya (perasaan) iba dan selalu menolong orang-orang miskin dan tidak mampu, ini termasuk bagian dari takwa3.

Kemudian di antara sifat mulia yang akan tumbuh, dengan izin Allah , dengan semakin banyak seorang hamba melakukan ibadah puasa karena Allah , adalah sifat sabar yang kedudukannya sangat penting dalam iman. Bahkan tanpa adanya sifat sabar berarti iman seorang hamba akan pudar. Imam Ibnul Qayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau: “Sesungguhnya (kedudukan sifat) sabar dalam keimanan (seorang hamba) adalah seperti kedudukan kepala (manusia) pada tubuhnya, kalau kepala manusia hilang maka tidak ada kehidupan bagi tubuhnya”4.

Sifat yang agung ini, sangat erat kaitannya dengan puasa, bahkan puasa itu sendiri adalah termasuk kesabaran5. Oleh karena itu, Rasulullah dalam hadits yang shahih menamakan bulan puasa dengan syahrush shabr (bulan kesabaran)6. Bahkan Allah menjadikan ganjaran pahala puasa berlipat-lipat ganda tanpa batas7, sebagaimana sabda Rasulullah : “Semua amal (shaleh yang dikerjakan) manusia dilipatgandakan (pahalanya), satu kebaikan (diberi ganjaran) sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman: “Kecuali puasa (ganjarannya tidak terbatas), karena sesungguhnya puasa itu (khusus) untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran (kebaikan) baginya”8.

Demikian pula sifat sabar, ganjaran pahalanya tidak terbatas, sebagaimana firman Allah :

{إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ}

Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan disempurnakan (ganjaran) pahala mereka tanpa batas” (QS az-Zumar:10).

Imam Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan eratnya hubungan puasa dengan sifat sabar dalam ucapan beliau: “Sabar itu ada tiga macam: sabar dalam (melaksanakan) ketaatan kepada Allah, sabar dalam (meninggalkan) hal-hal yang diharamkan-Nya, dan sabar (dalam menghadapi) ketentuan-ketentuan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan (manusia). Ketiga macam sabar ini (seluruhnya) terkumpul dalam (ibadah) puasa, karena (dengan) berpuasa (kita harus) bersabar dalam (menjalankan) ketaatan kepada Allah, dan bersabar dari semua keinginan syahwat yang diharamkan-Nya bagi orang yang berpuasa, serta bersabar dalam (menghadapi) beratnya (rasa) lapar, haus, dan lemahnya badan yang dialami orang yang berpuasa”9.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 24 Rajab 1436 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

1 Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (1/289).

2 Sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 1933) dan Muslim (no. 2175).

3 Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 86).

4 Kitab “al-Fawa-id” (hal. 97).

5 Lihat kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 177).

6 Lihat “Silsilatul ahaaditsish shahiihah” (no. 2623).

7 Lihat kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 177).

8 HSR al-Bukhari (no. 1805) dan Muslim (no. 1151), lafazh ini yang terdapat dalam “Shahih Muslim”.

9 Kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 177).

Hadits Lemah Tentang Tidurnya Orang Yang Berpuasa Adalah Ibadah

بسم الله الرحمن الرحيم

Hadits Lemah Tentang Tidurnya Orang Yang Berpuasa Adalah Ibadah

رُوِيَ عن عبد الله بن أبي أوفى عن النبي قال: « نوم الصائم عبادة وسكوته تسبيح »

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Abi Aufa bahwa Rasulullah bersabda: “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah dan diamnya adalah tasbih (berdzikir kepada Allah )”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi dalam “Syu’abul iman” (3/415) dengan sanad beliau dari Sulaiman bin ‘Amr, dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair, dari dari ‘Abdullah bin Abi Aufa, dari Rasulullah .

Riwayat ini sanadnya palsu, karena ada rawi yang bernama Sulaiman bin ‘Amr, dia adalah Abu Dawud an-Nakha’i, seorang pendusta dan pemalsu hadits yang terkenal1.

Riwayat ini dinyatakan kelemahannya yang fatal oleh Imam al-‘Iraqi dalam “Takhriiju ahaadiitsil Ihya’” (hlmn 187) dan al-Munawi dalam “Faidhul Qadiir” (6/290). Continue reading

Keutamaan Puasa di Bulan Muharram

بسم الله الرحمن الرحيم

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله : ((أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم وأفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل)) رواه مسلم.

Dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah bersabda: “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (bulan) Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam”[1].

Hadits yang mulia ini menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan Muharram, bahkan puasa di bulan ini lebih utama dibandingkan bulan-bulan lainnya, setelah bulan Ramadhan[2]. Continue reading

Keutamaan Puasa Di Bulan Muharram

بسم الله الرحمن الرحيم

     عن أبي هريرة  قال: قال رسول الله : ((أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم وأفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل)) رواه مسلم.

     Dari Abu Hurairah  dia berkata: Rasulullah  bersabda: “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (bulan) Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam”[1].

     Hadits yang mulia ini menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan Muharram, bahkan puasa di bulan ini lebih utama dibandingkan bulan-bulan lainnya, setelah bulan Ramadhan[2].

     Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:

– Puasa yang paling utama dilakukan pada bulan Muharram adalah puasa ‘Aasyuura’ (puasa pada tanggal 10 Muharram), karena Rasulullah  melakukannya dan memerintahkan para sahabat  untuk melakukannya[3], dan ketika beliau  ditanya tentang keutamaannya beliau  bersabda: “Puasa ini menggugurkan (dosa-dosa) di tahun yang lalu”[4].

– Lebih utama lagi jika puasa tanggal 10 Muharram digandengankan dengan puasa tanggal 9 Muharram, dalam rangka menyelishi orang-orang Yahudi dan Nashrani, karena Rasulullah  ketika disampaikan kepada beliau bahwa tanggal 10 Muharram adalah hari yang diagungkan orang-orang Yahudi dan Nashrani, maka beliau bersabda: “Kalau aku masih hidup tahun depan maka sungguh aku akan berpuasa pada tanggal 9 Muharram (bersama 10 Muharram)[5]“.

– Adapun hadits “Berpuasalah pada hari ‘Aasyuura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya”[6], maka hadits ini lemah sanadnya dan tidak bisa dijadikan sebagai sandaran dianjurkannya berpuasa pada tanggal 11 Muharram[7].

– Sebagian ulama ada yang berpendapat dimakruhkannya (tidak disukainya) berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja, karena menyerupai orang-orang Yahudi, tapi ulama lain membolehkannya meskipun pahalanya tidak sesempurna jika digandengkan dengan puasa sehari sebelumnya[8].

– Sebab Rasulullah  memerintahkan puasa tanggal 10 Muharram adalah karena pada hari itulah Allah I menyelamatkan nabi Musa  dan umatnya, serta menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya, maka nabi Musa  pun berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur kepada-Nya, dan ketika Rasulullah  mendengar orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu karena alasan ini, maka Beliau  bersabda: “Kita lebih berhak (untuk mengikuti) nabi Musa  dari pada mereka”[9]. Kemudian untuk menyelisihi perbuatan orang-orang Yahudi, beliau  menganjurkan untuk berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram[10].

– Hadits ini juga menunjukkan bahwa shalat malam adalah shalat yang paling besar keutamaannya setelah shalat wajib yang limawaktu[11].

 


[1] HSR Muslim (no. 1163).

[2] Lihat keterangan syekh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam “Syarhu riyadhis shalihin” (3/341).

[3] Dalam HSR al-Bukhari (no. 1900) dan Muslim (1130).

[4] HSR Muslim (no. 1162).

[5] HSR Muslim (no. 1134).

[6] HR Ahmad (1/241), al-Baihaqi (no. 8189) dll, dalam sanadnya ada perawi yang bernama Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila, dan dia  sangat buruk hafalannya (lihat “Taqriibut tahdziib” hal. 493), oleh karena itu syaikh al-Albani menyatakan hadits ini lemah dalam “Dha’iful jaami'” (no. 3506).

[7] Lihat kitab “Bahjatun nazhirin” (2/385).

[8] Lihat keterangan syekh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam “as-Syarhul mumti'” (3/101-102).

[9] Semua ini disebutkan dalam HSR al-Bukhari (3216) dan Muslim (1130).

[10] Lihat keterangan syaikh Muhammad al-Utsaimin dalam “Syarhu riyadhis shalihin” (3/412).

[11] Lihat kitab “Bahjatun nazhirin” (2/329).

Ramadhan, Bulan Kesabaran, Kesucian Jiwa dan Takwa

بسم الله الرحمن الرحيم

     Allah  telah mengutamakan sebagian waktu (jaman) di atas sebagian lainnya, sebagaimana Dia mengutamakan sebagian manusia di atas sebagian lainnya dan sebagian tempat di atas tempat lainnya.

Allah  berfirman:

{وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ}

“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka” (QS al-Qashash:68).

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata: “(Ayat ini menjelaskan) menyeluruhnya ciptaan Allah bagi seluruh makhluk-Nya, berlakunya kehendak-Nya bagi semua ciptaan-Nya, dan kemahaesaan-Nya dalam memilih dan mengistimewakan apa (yang dikehendaki-Nya), baik itu manusia, waktu (jaman) maupun tempat”[1].

Termasuk dalam hal ini adalah bulan Ramadhan yang Allah  utamakan dan istimewakan dibanding bulan-bulan lainnya, sehingga dipilih-Nya sebagai waktu dilaksanakannya kewajiban berpuasa yang merupakan salah satu rukun Islam.

Sungguh Allah  memuliakan bulan yang penuh berkah ini dan menjadikannya sebagai salah satu musim besar untuk menggapai kemuliaan di akhirat kelak, yang merupakan kesempatan bagi hamba-hamba Allah  yang bertakwa untuk berlomba-lomba dalam melaksanakan ketaatan dan mendekatkan diri kepada-Nya[2]. Continue reading

Istiqomah Setelah Ramadhan

بسم الله الرحمن الرحيم

     Tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu, dan bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan dan keutamaan berlalu sudah. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang celaka karena tidak mendapatkan pengampunan dari Allah selama bulan Ramadhan, sebagaimana yang tersebut dalam doa yang diucapkan oleh malaikat Jibril  dan diamini oleh Rasulullah: “Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni (oleh Allah)”[1]. Continue reading

Keutamaan Puasa Sunnah 6 Hari di Bulan Syawwal

بسم الله الرحمن الرحيم

     عن أبي أيوب الأنصاري t: أن رسول الله  قال: (( من صام رمضان ثم أتبعه سِتًّا من شوال، كان كصيام الدهر)) رواه مسلم.

      Dari Abu Ayyub al-Anshari bahwasanya Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh”[1].

     Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal, yang ini termasuk karunia agung dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, dengan kemudahan mendapatkan pahala puasa setahun penuh tanpa adanya kesulitan yang berarti[2]. Continue reading

Keutamaan Puasa Tiga Hari Setiap Bulan

بسم الله الرحمن الرحيم

KEUTAMAAN PUASA TIGA HARI SETIAP BULAN 

     عن عبد الله بن عمرو بن العاص  قال: قال رسول الله  : ((صومُ ثلاثة أيامٍ من كل شهرٍ صومُ الدهرِ كلِّه)) متفق عليه.

     Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash  dia berkata: Rasulullah  bersabda: “Berpuasa tiga hari setiap bulan seperti berpuasa setahun penuh”[1].

     Hadits yang agung ini menunjukkan dianjurkannya berpuasa tiga hari setiap bulan, baik itu di awal bulan, di pertengahan, atau di akhirnya, dan boleh dilakukan tiga hari berturut-turut atau terpisah[2]. Continue reading

Berbenah Diri Dan Keluarga Dengan Bulan Ramadhan

بسم الله الرحمن الرحيم

BERBENAH DIRI DAN KELUARGA DENGAN BULAN RAMADHAN

     Allah telah mengutamakan sebagian waktu (jaman) di atas sebagian lainnya, sebagaimana Dia mengutamakan sebagian manusia di atas sebagian lainnya dan sebagian tempat di atas tempat lainnya.

Allah berfirman:

{وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ}

“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya, sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka” (QS al-Qashash:68).

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata: “(Ayat ini menjelaskan) menyeluruhnya ciptaan Allah bagi seluruh makhluk-Nya, berlakunya kehendak-Nya bagi semua ciptaan-Nya, dan kemahaesaan-Nya dalam memilih dan mengistimewakan apa (yang dikehendaki-Nya), baik itu manusia, waktu (jaman) maupun tempat”[1]. Continue reading