Dzikir Penyubur Iman

بسم الله الرحمن الرحيم

Barangkali banyak di antara kaum muslimin yang menganggap biasa nilai berdzikir kepada Allah , berhubung amal shaleh ini sudah sering dan terbiasa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, baik setelah selesai shalat fardhu, sebelum dan sesudah makan atau tidur, di waktu pagi dan petang, maupun di waktu-waktu lainnya.

Tapi tahukah kita bahwa berdzikir kepada Allah  memiliki keutamaan dan kemuliaan yang sangat agung, bahkan termasuk amal shaleh yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah ? Bahkan amal ini termasuk sebab utama yang menyuburkan keimanan kepada Allah  dan menyempurnakan kedekatan dengan-Nya. Tentu saja jika amal shaleh ini dilakukan dengan benar dan sesuai dengan petunjuk Allah  yang diturunkan-Nya kepada Rasulullah .

Cukuplah firman Allah  berikut yang menunjukkan besarnya keutamaan berdzikir kepada Allah ,

{الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ}

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS ar-Ra’du:28).

Artinya: dengan berzikir kepada Allah  segala kegalauan dan kegundahan dalam hati mereka akan hilang dan berganti dengan kegembiraan dan kesenangan. Bahkan tidak ada sesuatupun yang lebih besar pengaruhnya dalam mendatangkan ketenteraman dan kebahagiaan bagi hati manusia melebihi berzikir kepada Allah [1]. Continue reading

Keutamaan Membaca Sholawat Kepada Nabi

بسم الله الرحمن الرحيم

عن أنس بن مالك قال: قال رسول الله : «مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ» رواه النسائي وأحمد وغيرهما وهو حديث صحيح.

Dari Anas bin malik beliau berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan bershalawat kepada Nabi dan anjuran memperbanyak shalawat tersebut[2], karena ini merupakan sebab turunnya rahmat, pengampunan dan pahala yang berlipatganda dari Allah [3].

Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

– Banyak bershalawat kepada Rasulullah merupakan tanda cinta seorang muslim kepada beliau [4], karena para ulama mengatakan: “Barangsiapa yang mencintai sesuatu maka dia akan sering menyebutnya”[5].

– Yang dimaksud dengan shalawat di sini adalah shalawat yang diajarkan oleh Nabi dalam hadits-hadits beliau yang shahih (yang biasa dibaca oleh kaum muslimin dalam shalat mereka ketika tasyahhud), bukan shalawat-shalawat bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang yang datang belakangan, seperti shalawat nariyah, badriyah, barzanji dan shalawat-shalawat bid’ah lainnya. Karena shalawat adalah ibadah, maka syarat diterimanya harus ikhlas karena Allah semata dan sesuai dengan tuntunan Nabi [6]. Juga karena ketika para sahabat bertanya kepada beliau : “(Ya Rasulullah), sungguh kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, maka bagaimana cara kami mengucapkan shalawat kepadamu?” Rasulullah menjawab: “Ucapkanlah: Ya Allah, bershalawatlah kepada (Nabi) Muhammad dan keluarga beliau…dst seperti shalawat dalam tasyahhud[7].

– Makna shalawat kepada nabi adalah meminta kepada Allah agar Dia memuji dan mengagungkan beliau di dunia dan akhirat, di dunia dengan memuliakan peneyebutan (nama) beliau , memenangkan agama dan mengokohkan syariat Islam yang beliau bawa. Dan di akhirat dengan melipatgandakan pahala kebaikan beliau , memudahkan syafa’at beliau kepada umatnya dan menampakkan keutamaan beliau pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk[8].

– Makna shalawat dari Allah kepada hamba-Nya adalah limpahan rahmat, pengampunan, pujian, kemualian dan keberkahan dari-Nya[9]. Ada juga yang mengartikannya dengan taufik dari Allah Y untuk mengeluarkan hamba-Nya dari kegelapan (kesesatan) menuju cahaya (petunjuk-Nya), sebagaimana dalam firman-Nya:

{هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا}

“Dialah yang bershalawat kepadamu (wahai manusia) dan malaikat-Nya (dengan memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” (QS al-Ahzaab:43).

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 5 Rajab 1431 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

[1] HR an-Nasa’i (no. 1297), Ahmad (3/102 dan 261), Ibnu Hibban (no. 904) dan al-Hakim (no. 2018), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, juga oleh Ibnu hajar dalam “Fathul Baari” (11/167) dan al-Albani dalam “Shahihul adabil mufrad” (no. 643).

[2] Lihat “Sunan an-Nasa’i” (3/50) dan “Shahiihut targiib wat tarhiib” (2/134).

[3] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (6/169).

[4] Lihat kitab “Mahabbatur Rasul r, bainal ittibaa’ walibtidaa’” (hal. 77).

[5] Lihat kitab “Minhaajus sunnatin nabawiyyah” (5/393) dan “Raudhatul muhibbiin” (hal. 264).

[6] Lihat kitab “Fadha-ilush shalaati wassalaam” (hal. 3-4), tulisan syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.

[7] HSR al-Bukhari (no. 5996) dan Muslim (no. 406).

[8] Lihat kitab “Fathul Baari” (11/156).

[9] Lihat kitab “Zaadul masiir” (6/398).

Keutamaan Puasa di Bulan Muharram

بسم الله الرحمن الرحيم

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله : ((أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم وأفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل)) رواه مسلم.

Dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah bersabda: “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (bulan) Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam”[1].

Hadits yang mulia ini menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan Muharram, bahkan puasa di bulan ini lebih utama dibandingkan bulan-bulan lainnya, setelah bulan Ramadhan[2]. Continue reading

Keutaman Berdoa Dengan Mengangkat Kedua Tangan

بسم الله الرحمن الرحيم

Dari Salman al-Farisi bahwa Rasulullah bersabda:

« إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا »

“Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) adalah maha pemalu lagi maha pemurah, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa”[1].

Hadits yang mulia ini menunjukkan besarnya keutamaan mengangkat tangan ketika berdo’a, dan ini termasuk adab yang agung serta sebab terkabulnya do’a[2].

Beberapa faidah penting yang dapat kita petik dari hadits ini:

– Hadits ini merupakan argumentasi penetapan salah satu dari nama Allah yang maha indah, yaitu al-Hayiyyu (Yang Maha Pemalu). Sebagaimana hal ini ditetapkan oleh para ulama Ahlus sunnah, seperti Imam Ibnul Qayyim[3], syaikh Abdurrahman as-Sa’di[4], syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin[5], syaikh ‘Abdur Razzak al-Badr[6] dan lain-lain.

– Makna nama Allah al-Hayiyyu (Yang Maha Pemalu) adalah sebagaimana ucapan Imam Ibnul Qayyim berikut:

Dialah al-Hayiyyu (Maha Pemalu) maka Dia tidak akan mempermalukan hamba-Nya

(di dunia) ketika hamba-Nya itu berbuat maksiat terang-terangan

Syaikh Muhammad Khalil Harras ketika menjelaskan makna bait syair ini, beliau berkata: “(Sifat) malu Allah adalah sifat yang sesuai dengan (kebesaran dan keagungan)-Nya, tidak sama dengan (sifat) malu (pada) makhluk-Nya yang berarti perubahan (sikap) dan (sifat) berkecil hati yang terjadi pada seseorang ketika dia mengkhawatirkan sesuatu aib atau celaan (pada dirinya). Adapun arti sifat malu (pada Allah ) adalah meninggalkan sifat/perbuatan yang tidak selaras dengan kemahaluasan rahmat-Nya serta kemahasempurnaan kebaikan dan kemuliaan-Nya”[7].

– Adapun nama Allah al-Kariim (Yang Maha Pemurah) artinya adalah Dia yang memberikan karunia kepada hamba-hamba-Nya tanpa mereka meminta, apalagi jika mereka meminta kepada-Nya[8].

– Yang dimaksud dengan do’a yang tidak akan tertolak dalam hadits ini adalah do’a yang terkumpul padanya adab-adab dan syarat-syarat terkabulmnya do’a, selain mengangkat tangan, seperti: merendahkan diri dan menampakkan rasa butuh di hadapan Allah , menghadirkan hati ketika berdo’a dan yakin dengan pengabulan dari-Nya, serta menjauhi makanan dan minuman yang haram[9].

– Imam Ibnul Qayyim berkata: “Jika terkumpul dalam do’a (seorang hamba) hadirnya hati dan terfokusnya secara utuh kepada permohonan yang dimintanya, (waktu dia berdo’a) bertepatan dengan salah satu dari enam waktu (yang dijanjikan padanya) pengabulan do’a, yaitu sepertiga malam yang terakhir, ketika adzan (berkumandang), (waktu) di antara adzan dan iqamah, di akhir shalat-shalat (lima waktu) yang wajib (sebelum salam), ketika imam (khathib) naik ke mimbar pada hari Jum’at sampai selesai shalat Jum’at, dan akhir waktu (siang) setelah shalat ashar (sebelum matahari terbenam) pada hari Jum’at, disertai perasaan khusyu’ dalam hati, merendahkan diri, tunduk, pasrah dan mengakui kelemahan diri (di hadapan Allah ), dia berdo’a dalam keadaan suci (dari hadats), menghadap qiblat serta mengangkat kedua tangannya kepada Allah , Dia memulai (do’anya) dengan memuji dan menyanjung Allah, lalu bershalawat atas Nabi Muhammad , kemudian sebelum menyampaikan permohonannya, dia bertaubat dan beristigfar (memohon ampun kepada-Nya), setelah itu dia menyampaikan permohonannya kepada Allah, dengan merengek-rengek dan bersungguh-sungguh meminta, disertai perasaan takut dan berharap, bertawassul kepada-Nya dengan nama-nama-Nya (yang maha indah), sifat-sifat-Nya (yang maha tinggi), dan mentauhidkan-Nya, serta terlebih dahulu bersedekah sebelum berdo’a. Sungguh do’a (seperti) ini hampir (pasti) tidak akan ditolak selamanya. Terlebih lagi jika do’a tersebut bersesuaian dengan do’a-do’a yang diberitakan oleh Rasulullah bahwa do’a-do’a tersebut kemungkinan (besar) dikabulkan atau mengandung nama Allah yang paling agung…”[10].

– Hadits-hadits lain dari Rasulullah yang menyebutkan keutamaan mengangkat tangan ketika berdoa sangat banyak, sehingga para ulama menegaskan bahwa ini termasuk hadits yang mutawatir ditinjau dari segi maknanya[11]. Imam as-Suyuthi bahkan mengatakan bahwa mengangkat tangan ketika berdo’a disebutkan dalam sekitar seratus hadits dari Rasulullah [12].

 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

 

Kota Kendari, 5 DzulQa’dah 1435 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

[1]HR Abu Dawud (no. 1488), at-Tirmidzi (no. 3556), Ibnu Majah (no. 3865) dan Ibnu Hibban (no. 876). Dalam sanadnya ada perawi yang bernama Ja’far bin Maimun, ada kelemahan pada riwayatnya, akan tetapi hadits ini memiliki banyak jalur yang saling menguatkan. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, Ibnu Hajar dalam “Fathul Baari” (11/147), Ibnul Qayyim dan al-Albani (Mukhtasharul ‘uluw, hal. 75).

[2]Lihat Kitab “Fiqhul ad’iyati wal adzkaar” (2/175).

[3] Dalam kitab “ash-Shawaa’iqul mursalah” (4/1499).

[4] Dalam kitab “Tafsiirul asma-illahil husna” (hal. 40).

[5] Dalam kitab “al-Qawaa-idul mutsla” (hal. 42).

[6] Dalam kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 302).

[7]Kitab “Syarhul qashiidatin nuuniyyah” (2/80).

[8]Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (4/252).

[9]Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/228).

[10]Kitab “al-Jawaabul kaafi” (hlmn 5).

[11]Lihat Kitab “Tuhfatul ahwadzi” (2/172).

[12]Lihat Kitab “Tadriibur Raawi” (2/180).

Keutamaan Ahli al-Qur-an

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : « إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ ». قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ : « هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ؛ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ » حديث صحيح رواه أحمد وابن ماجه وغيرهما.

Dari Anas bin Malik  beliau berkata: Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya di antara manusia ada ‘ahli’ Allah”. Para Shahabat  bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah mereka?. Beliau  bersabda: “Mereka adalah ahli al-Qur-an, (merekalah) ahli (orang-orang yang dekat dan dicintai) Allah dan diistimewakan di sisi-Nya”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan orang yang menjadi ahli al-Qur-an yaitu orang yang tekun dan sungguh-sungguh mempelajari lafazh dan kandungan maknanya, kemudian mengajarkannya kepada manusia[2]. Continue reading

Keutamaan Menaati Perintah Rasulullah

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ  أَنَّ رَسُولَ الله  قَالَ: « كُلُّ أُمَّتِيْ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ، إِلاَّ مَنْ أَبَى »، قَالُوا: يَا رَسُولَ الله، وَمَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : « مَنْ أَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ أَبَى » رواه البخاري.

Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah  bersabda: “Semua umatku akan masuk Surga, kecuali orang yang enggan”. Para Shahabat  bertanya: Siapakah yang enggan, wahai Rasulullah ?. Beliau  bersabda: “Barangsiapa yang menaatiku maka dia akan masuk Surga, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka sungguh dialah yang enggan”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan tingginya kemuliaan orang yang selalu menaati perintah dan mengikuti petunjuk Rasulullah  dalam semua ucapan dan perbuatan beliau . Bahkan ini merupakan sebab utama meraih kecintaan Allah  dan kedudukan mulia di sisi-Nya. Allah  berfirman:

{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ}

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran:31). Continue reading

Memahami Makna “Kedekatan” dan “Kebersamaan” Allah

Memahami aqidah Islam dan iman kepada Allah  dengan benar merupakan sebab utama sempurnanya amal kebaikan dan bertambahnya kemuliaan diri seorang hamba lahir dan batin. Karena keimanan yang benar dan keyakinan yang lurus dalam hati merupakan motivator dan pendorong kuat bagi seluruh anggota badan untuk melakukan amal-amal kebaikan dan ketaatan kepada Allah .

Oleh karena itu, Rasulullah  menggambarkan baik atau buruknya perbuatan anggota badan manusia, setelah taufik dari Allah , sangat bergantung kepada baik atau buruknya keyakinan dan keimanan yang terdapat di dalam hatinya[1]. Rasulullah  bersabda:

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia”[2]. Continue reading

Berlomba-lomba dalam kebaikan, bukti nyata cinta kepada allah

بسم الله الرحمن الرحيم

     Judul tulisan ini barangkali menyisakan satu pertanyaan besar di benak banyak orang; mungkinkah ada orang yang mau berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan dan ketaatan? Bukankah sesuatu yang berlomba-lomba dikejar dan diminati kebanyakan orang adalah sesuatu yang ‘menggiurkan’ menurut pandangan mereka, misalnya harta benda, makanan lezat atau kedudukan duniawi?

Jawabanya, hal ini mungkin dan bahkan benar-benar nyata adanya. Coba amati dengan seksama firman Allah  berikut:

{إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لا يُشْرِكُونَ. وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ. أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ}

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena kepada Rabb mereka (Allah ). Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Rabb mereka (dengan sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan (bersedekah) apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. Mereka itulah orang-orang (yang selalu) bersegera dan berlomba-lomba dalam (melakukan) kebaikan-kebaikan” (QS al-Mu’minuun: 57-61). Continue reading

Keutamaan Sholat Khusyu

     عَنْ أَنَسٍ t قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : « حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاةِ »

     Dari Anas bin Malik t bahwa Rasulullah  bersabda: “Allah menjadikan aku mencintai dari (urusan-urusan) dunia (yaitu kepada) perempuan (istri-istri beliau ) dan minyak wangi, tapi Allah menjadikan qurratul ‘ain (penyejuk/penghibur hati) bagiku pada (waktu aku melaksanakan) shalat”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan besar bagi seorang hamba yang melaksanakan shalat sesuai dengan petunjuk yang diturunkan Allah  kepada Rasul-Nya , dan bahwa inilah yang menjadi sumber kebahagiaan utama bagi hati manusia. Continue reading

Keutamaan Puasa Di Bulan Muharram

بسم الله الرحمن الرحيم

     عن أبي هريرة  قال: قال رسول الله : ((أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم وأفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل)) رواه مسلم.

     Dari Abu Hurairah  dia berkata: Rasulullah  bersabda: “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (bulan) Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam”[1].

     Hadits yang mulia ini menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan Muharram, bahkan puasa di bulan ini lebih utama dibandingkan bulan-bulan lainnya, setelah bulan Ramadhan[2].

     Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:

– Puasa yang paling utama dilakukan pada bulan Muharram adalah puasa ‘Aasyuura’ (puasa pada tanggal 10 Muharram), karena Rasulullah  melakukannya dan memerintahkan para sahabat  untuk melakukannya[3], dan ketika beliau  ditanya tentang keutamaannya beliau  bersabda: “Puasa ini menggugurkan (dosa-dosa) di tahun yang lalu”[4].

– Lebih utama lagi jika puasa tanggal 10 Muharram digandengankan dengan puasa tanggal 9 Muharram, dalam rangka menyelishi orang-orang Yahudi dan Nashrani, karena Rasulullah  ketika disampaikan kepada beliau bahwa tanggal 10 Muharram adalah hari yang diagungkan orang-orang Yahudi dan Nashrani, maka beliau bersabda: “Kalau aku masih hidup tahun depan maka sungguh aku akan berpuasa pada tanggal 9 Muharram (bersama 10 Muharram)[5]“.

– Adapun hadits “Berpuasalah pada hari ‘Aasyuura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya”[6], maka hadits ini lemah sanadnya dan tidak bisa dijadikan sebagai sandaran dianjurkannya berpuasa pada tanggal 11 Muharram[7].

– Sebagian ulama ada yang berpendapat dimakruhkannya (tidak disukainya) berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja, karena menyerupai orang-orang Yahudi, tapi ulama lain membolehkannya meskipun pahalanya tidak sesempurna jika digandengkan dengan puasa sehari sebelumnya[8].

– Sebab Rasulullah  memerintahkan puasa tanggal 10 Muharram adalah karena pada hari itulah Allah I menyelamatkan nabi Musa  dan umatnya, serta menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya, maka nabi Musa  pun berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur kepada-Nya, dan ketika Rasulullah  mendengar orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu karena alasan ini, maka Beliau  bersabda: “Kita lebih berhak (untuk mengikuti) nabi Musa  dari pada mereka”[9]. Kemudian untuk menyelisihi perbuatan orang-orang Yahudi, beliau  menganjurkan untuk berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram[10].

– Hadits ini juga menunjukkan bahwa shalat malam adalah shalat yang paling besar keutamaannya setelah shalat wajib yang limawaktu[11].

 


[1] HSR Muslim (no. 1163).

[2] Lihat keterangan syekh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam “Syarhu riyadhis shalihin” (3/341).

[3] Dalam HSR al-Bukhari (no. 1900) dan Muslim (1130).

[4] HSR Muslim (no. 1162).

[5] HSR Muslim (no. 1134).

[6] HR Ahmad (1/241), al-Baihaqi (no. 8189) dll, dalam sanadnya ada perawi yang bernama Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila, dan dia  sangat buruk hafalannya (lihat “Taqriibut tahdziib” hal. 493), oleh karena itu syaikh al-Albani menyatakan hadits ini lemah dalam “Dha’iful jaami'” (no. 3506).

[7] Lihat kitab “Bahjatun nazhirin” (2/385).

[8] Lihat keterangan syekh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam “as-Syarhul mumti'” (3/101-102).

[9] Semua ini disebutkan dalam HSR al-Bukhari (3216) dan Muslim (1130).

[10] Lihat keterangan syaikh Muhammad al-Utsaimin dalam “Syarhu riyadhis shalihin” (3/412).

[11] Lihat kitab “Bahjatun nazhirin” (2/329).