Keutamaan Selalu Menjaga Wudhu Dan Shalat Dua Rakaat Sesudahnya

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada Bilal رضي الله عنه ketika di waktu shalat subuh: “Wahai Bilal, sampaikanlah kepadaku amal shaleh yang kamu kerjakan dan paling diharapkan manfaatnya (di sisi Allah ﷻ) dalam Islam, karena sesunguhnya tadi malam (dalam mimpi) aku mendengar suara sandalmu (langkah kakimu) di depanku di dalam Surga”. Maka Bilal berkata: “Tidaklah aku mengamalkan satu amal shaleh dalam Islam yang paling aku harapkan manfaatnya (di sisi Allah ﷻ) lebih dari (amal shaleh yaitu) tidaklah aku berwudhu dengan sempurna pada waktu malam atau siang, kecuali aku mengerjakan shalat dengan wudhu itu sesuai dengan apa yang ditetapkan Allah bagiku untuk aku kerjakan”[1]. Continue reading

Hadits Lemah Tentang Pensyaratan Jumlah Jama’ah Shalat Jum’at 40 Orang

عَنْ جَابِرٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: « مَضَتِ السُّنَّةُ أَنَّ فِى كُلِّ ثَلاَثَةٍ إِمَامًا، وَفِي كُلِّ أَرْبَعِينَ فَمَا فَوْقَ ذَلِكَ جُمُعَةٌ وَفِطْرٌ وَأَضْحًى، وَذَلِكَ أَنَّهُمْ جَمَاعَةٌ »

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: “Sunnah (amal yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang telah dilakukan (sejak dulu) bahwa pada setiap tiga orang maka ada (seorang) yang dijadikan sebagai imam dan pada setiap empat puluh orang atau lebih dari itu maka (boleh mendirikan) shalat Jum’at, Idul fithri dan Idul adha, karena mereka adalah jama’ah”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam ad-Daraquthni rahimahullah dalam “as-Sunan” (2/3) dan al-Baihaqi dalam “as-Sunan al-kubra” (3/177) dari jalur ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdir Rahman al-Qurasyi, dari Khushaif, dari ‘Atha’ bin Abi Rabah, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu. Continue reading

Memakmurkan Masjid, Sifat Terpuji Identik Dengan Iman Kepada Allah

بسم الله الرحمن الرحيم

     Allah  berfirman:

{مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ. إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ}

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah yang termasuk golongan orang-orang yang selalu mendapat petunjuk (dari Allah )” (QS At-Taubah: 18).

Ayat yang mulia ini menunjukkan besarnya keutamaan memakmurkan masjid yang didirikan karena Allah , dalam semua bentuk pemakmuran masjid, bahkan perbuatan terpuji ini merupakan bukti benarnya iman dalam hati seorang hamba.

Imam al-Qurthubi berkata: “Firman Allah  ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa mempersaksikan orang-orang yang memakmurkan masjid dengan keimanan adalah (persaksian yang) benar, karena Allah  mengaitkan keimanan dengan perbuatan (terpuji) ini dan mengabarkan tentanganya dengan menetapi perbuatan ini. Salah seorang ulama Salaf berkata: Jika engkau melihat seorang hamba (yang selalu) memakmurkan masjid maka berbaiksangkalah kepadanya”[1]. Continue reading

Menyemarakkan Rumah Dengan Bacaan Al-Quran

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Adakah kebutuhan manusia yang melebihi kebutuhan makan dan minum? Jawabnya: ada, yaitu kebutuhan manusia terhadap petunjuk Allah  (baca: al-Qur-an) untuk membaca, memahami dan mengamalkan kandungannya.

Al-Qur-an adalah pedoman hidup untuk kebahagiaan manusia dunia dan akhirat, petunjuk kepada jalan yang lurus, obat bagi penyakit hati manusia, penyubur keimanan dan fungsi-fungsi kebaikan lain yang dibutuhkan oleh manusia untuk kebahagiaan hidup mereka, dan ini jelas lebih dari fungsi makanan dan minuman bagi manusia.

Coba renungkan makna firman-firman Allah  berikut ini:

{إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا}

“Sesungguhnya al-Qur-an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (QS al-Israa’).

     {وَنُنزلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِين}

“Dan Kami turunkan di dalam al-Qur’an suatu yang menjadi obat (penyakit manusia) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS al-Israa’: 82).

{الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ}

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan (membaca) petunjuk Allah (al-Qur-an). Ingatlah, hanya dengan (membaca) petunjuk Allah (al-Qur-an) hati menjadi tenteram” (QS ar-Ra’du:28).

Artinya: dengan membaca dan merenungkan al-Qur-an  segala kegalauan dan kegundahan dalam hati mereka akan hilang dan berganti dengan kegembiraan dan kesenangan[1]. Continue reading

Keteladanan Ulama Salaf Dalam Bersegera Melaksanakan Shalat Berjama’ah

بسم الله الرحمن الرحيم

Selalu mengingat Allah dalam semua keadaan dan bersegera menunaikan ibadah kepada-Nya ketika tiba waktunya, ini adalah sifat mulia dan terpuji yang dimiliki oleh hamba-hamba Allah yang beriman kepada-Nya dan selalu mengutamakan keridhaan-Nya, sehingga mereka tidak dilalaikan dari mengingat-Nya dalam kesibukan apapun yang sedang mereka kerjakan.

Allah berfirman:

{فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ. رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ. لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ}

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari (pembalasan) yang (pada saat itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas” (QS an-Nuur: 36-38). Continue reading

Bolehkah Orang Yang Sedang Junub atau Haid Berdiam di Masjid?

بسم الله الرحمن الرحيم

BOLEHKAH ORANG YANG SEDANG JUNUB ATAU HAIDH BERDIAM DI MASJID ?

Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama Ahlus sunnah sejak dulu sampai sekarang, karena perbedaan pendapat mereka dalam menilai dan memahami dalil-dalil dalam masalah ini.

Tentu saja, sebagai seorang muslim, kita wajib mengembalikan semua perselisihan dalam urusan agama kita kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya . Allah berfirman:

{فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا}

Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS an-Nisaa’: 59).

Dan juga tentu saja, kita kembali kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya tetap dengan bimbingan para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah, karena mereka merupakan perantara untuk memahami hukum Allah dan Rasul-Nya.

Maka kita mengambil dan mengikuti ucapan mereka yang sesuai dan didukung dengan dalil dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah . Adapun yang tidak sesuai dengan dalil, maka kita tinggalkan dan luruskan dengan cara yang baik, juga dengan bimbingan para ulama yang lain. Continue reading

Sholat Ied (Hari Raya) di Masjid Bolehkah?

بسم الله الرحمن الرحيم

SHALAT ‘IED (HARI RAYA) DI MASJID, BOLEHKAH?

Shalat ‘Ied (hari raya) adalah salah satu syi’ar (simbol keagungan dan kemuliaan)1 Islam yang sangat agung2 dan melambangkan ketinggian agama Allah yang mulia ini.

Oleh karena itu, Rasulullah selalu melaksanakannya di tanah lapang di luar masjid, bahkan tidak ada satu riwayatpun yang shahih bahwa Rasulullah pernah melaksanakannya di masjid. Kemudian para Shahabat sepeninggal Rasulullah juga mempraktetakkan sunnah ini dengan baik3.

Imam Ibnul Haajj al-Maliki berkata: “Sunnah yang telah berlangsung (sejak dulu) dalam (pelaksanaan) shalat ‘Ied (hari raya) adalah dilaksanakan di mushalla (tanah lapang), karena Nabi Muhammad bersabda: “Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama daripada seribu shalat di masjid lain kecuali (shalat) di al-Masjidil Haram”4.

Kemudian bersamaan dengan keutamaan yang agung ini Rasulullah melaksanakan shalat ‘Ied di tanah lapang dan tidak melaksanakannya di Masjid Nabawi. Maka ini merupakan dalil (argumentasi) yang jelas tentang ditekankannya pensyariatan shalat ‘Ied di tanah lapang. Continue reading

Teladan Para Ulama Salaf Dalam Beribadah di Bulan Ramadhan

بسم الله الرحمن الرحيم

Bulan Ramdhan merupakan musim kebaikan terbesar dalam Islam dan waktu dilipatgandakannya pahala dan keutamaan amal shaleh dengan sebesar-besarnya. Inilah musim kebaikan besar yang ditunggu-tunggu oleh setiap orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.

Bahkan karena agungnya keutamaan bulan suci ini, sehingga Rasulullah selalu menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat akan kedatangan bulan yang penuh berkah ini1.

Sahabat yang mulia, Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda, menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya : “Telah datang bulan Ramadhan yang penuh keberkahan (kebaikan yang melimpah), Allah mewajibkan kalian berpuasa padanya, pintu-pintu surga di buka pada bulan itu, pintu-pintu neraka di tutup, dan para setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam (kemuliaan/lailatul qadr) yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalangi (untuk mendapatkan) kebaikan malam itu maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang agung)”2. Continue reading

Keutamaan Puasa Ramadhan Untuk Meraih Takwa

بسم الله الرحمن الرحيم

Keutamaan Puasa Ramadhan Untuk Meraih Takwa

Allah berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ}

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (QS al-Baqarah:183).

Imam Ibnu Katsir berkata: “Dalam ayat ini Allah berfirman kepada orang-orang yang beriman dan memerintahkan mereka untuk (melaksanakan ibadah) puasa, yang berarti menahan (diri) dari makan, minum dan hubungan suami-istri dengan niat ikhlas karena Allah (semata), karena puasa (merupakan sebab untuk mencapai) kebersihan dan kesucian jiwa, serta menghilangkan noda-noda buruk (yang mengotori hati) dan semua tingkah laku yang tercela”1.

Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di menjelaskan unsur-unsur takwa yang terkandung dalam ibadah puasa, sebagai berikut:

– Orang yang berpuasa (berarti) meninggalkan semua yang diharamkan Allah (ketika berpuasa), berupa makan, minum, berhubungan suami-istri dan sebagainya, yang semua itu diinginkan oleh nafsu manusia, untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan balasan pahala dari-Nya dengan meninggalkan semua itu, ini adalah termasuk takwa (kepada-Nya).

– Orang yang berpuasa (berarti) melatih dirinya untuk (merasakan) muraqabatullah (selalu merasakan pengawasan Allah ), maka dia meninggalkan apa yang diinginkan hawa nafsunya padahal dia mampu (melakukannya), karena dia mengetahui Allah maha mengawasi (perbuatan)nya.

– Sesungguhnya puasa akan mempersempit jalur-jalur (yang dilalui) setan (dalam diri manusia), karena sesungguhnya setan beredar dalam tubuh manusia di tempat mengalirnya darah2, maka dengan berpuasa akan lemah kekuatannya dan berkurang perbuatan maksiat dari orang tersebut.

– Orang yang berpuasa umumnya banyak melakukan ketaatan (kepada Allah ), dan amal-amal ketaatan merupakan bagian dari takwa.

– Orang yang kaya jika merasakan beratnya (rasa) lapar (dengan berpuasa) maka akan menimbulkan dalam dirinya (perasaan) iba dan selalu menolong orang-orang miskin dan tidak mampu, ini termasuk bagian dari takwa3.

Kemudian di antara sifat mulia yang akan tumbuh, dengan izin Allah , dengan semakin banyak seorang hamba melakukan ibadah puasa karena Allah , adalah sifat sabar yang kedudukannya sangat penting dalam iman. Bahkan tanpa adanya sifat sabar berarti iman seorang hamba akan pudar. Imam Ibnul Qayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau: “Sesungguhnya (kedudukan sifat) sabar dalam keimanan (seorang hamba) adalah seperti kedudukan kepala (manusia) pada tubuhnya, kalau kepala manusia hilang maka tidak ada kehidupan bagi tubuhnya”4.

Sifat yang agung ini, sangat erat kaitannya dengan puasa, bahkan puasa itu sendiri adalah termasuk kesabaran5. Oleh karena itu, Rasulullah dalam hadits yang shahih menamakan bulan puasa dengan syahrush shabr (bulan kesabaran)6. Bahkan Allah menjadikan ganjaran pahala puasa berlipat-lipat ganda tanpa batas7, sebagaimana sabda Rasulullah : “Semua amal (shaleh yang dikerjakan) manusia dilipatgandakan (pahalanya), satu kebaikan (diberi ganjaran) sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman: “Kecuali puasa (ganjarannya tidak terbatas), karena sesungguhnya puasa itu (khusus) untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran (kebaikan) baginya”8.

Demikian pula sifat sabar, ganjaran pahalanya tidak terbatas, sebagaimana firman Allah :

{إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ}

Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan disempurnakan (ganjaran) pahala mereka tanpa batas” (QS az-Zumar:10).

Imam Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan eratnya hubungan puasa dengan sifat sabar dalam ucapan beliau: “Sabar itu ada tiga macam: sabar dalam (melaksanakan) ketaatan kepada Allah, sabar dalam (meninggalkan) hal-hal yang diharamkan-Nya, dan sabar (dalam menghadapi) ketentuan-ketentuan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan (manusia). Ketiga macam sabar ini (seluruhnya) terkumpul dalam (ibadah) puasa, karena (dengan) berpuasa (kita harus) bersabar dalam (menjalankan) ketaatan kepada Allah, dan bersabar dari semua keinginan syahwat yang diharamkan-Nya bagi orang yang berpuasa, serta bersabar dalam (menghadapi) beratnya (rasa) lapar, haus, dan lemahnya badan yang dialami orang yang berpuasa”9.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 24 Rajab 1436 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

1 Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (1/289).

2 Sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 1933) dan Muslim (no. 2175).

3 Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 86).

4 Kitab “al-Fawa-id” (hal. 97).

5 Lihat kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 177).

6 Lihat “Silsilatul ahaaditsish shahiihah” (no. 2623).

7 Lihat kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 177).

8 HSR al-Bukhari (no. 1805) dan Muslim (no. 1151), lafazh ini yang terdapat dalam “Shahih Muslim”.

9 Kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 177).

Hadits Lemah Tentang Tidurnya Orang Yang Berpuasa Adalah Ibadah

بسم الله الرحمن الرحيم

Hadits Lemah Tentang Tidurnya Orang Yang Berpuasa Adalah Ibadah

رُوِيَ عن عبد الله بن أبي أوفى عن النبي قال: « نوم الصائم عبادة وسكوته تسبيح »

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Abi Aufa bahwa Rasulullah bersabda: “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah dan diamnya adalah tasbih (berdzikir kepada Allah )”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi dalam “Syu’abul iman” (3/415) dengan sanad beliau dari Sulaiman bin ‘Amr, dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair, dari dari ‘Abdullah bin Abi Aufa, dari Rasulullah .

Riwayat ini sanadnya palsu, karena ada rawi yang bernama Sulaiman bin ‘Amr, dia adalah Abu Dawud an-Nakha’i, seorang pendusta dan pemalsu hadits yang terkenal1.

Riwayat ini dinyatakan kelemahannya yang fatal oleh Imam al-‘Iraqi dalam “Takhriiju ahaadiitsil Ihya’” (hlmn 187) dan al-Munawi dalam “Faidhul Qadiir” (6/290). Continue reading