Mengenal Keindahan Al-Asmaul Husna

Berbicara tentang keindahan al-Asma-ul husna (nama-nama Allah Ta’ala yang maha indah) berarti membicarakan suatu kemahaindahan yang sempurna dan di atas semua keindahan yang mampu digambarkan oleh akal pikiran manusia.

Betapa tidak, Allah Ta’ala adalah zat maha indah dan sempurna dalam semua nama dan sifat-Nya, yang karena kemahaindahan dan kemahasempurnaan inilah maka tidak ada seorang makhlukpun yang mampu membatasi pujian dan sanjungan yang pantas bagi kemuliaan-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan hal ini dalam sebuah doa beliau yang terkenal:

لا أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَما أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Aku tidak mampu menghitung/membatasi pujian/sanjungan terhadap-Mu, Engkau adalah sebagaimana (pujian dan sanjungan) yang Engkau peruntukkan bagi diri-Mu[1] Continue reading

Keutamaan Memahami Tauhid Nama-nama dan Sifat-sifat Allah

Memahami nama-nama Allah yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna merupakan pembahasan yang sangat penting dalam agama Islam, bahkan termasuk bagian paling penting dan utama dalam merealisasikan keimanan yang sempurna kepada Allah Ta’ala. Karena tauhid ini adalah salah satu dari dua jenis tauhid yang menjadi landasan utama iman kepada Allah Ta’ala.

Imam Ibnul Qayyim – semoga Allah merahmatinya – berkata: “sendi utama (kunci pokok) kebahagiaan, keselamatan dan keberuntungan (seorang hamba) adalah dengan merealisasikan dua (jenis) tauhid yang merupakan landasan tegaknya iman kepada Allah Ta’ala, yang untuk (tujuan) merealisasikan dua jenis tauhid inilah Allah Ta’ala mengutus para Rasulnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah (inti) seruan para Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari yang pertama sampai yang terakhir. (Kedua jenis tauhid itu adalh): Continue reading

AR-RABB, Yang Maha Mengatur Dan Menguasai Alam Semesta

Dasar penetapan

Nama Allah Ta’ala yang maha indah ini disebutkan dalam beberapa ayat al-Qur’an, di antaranya dalam firman Allah Ta’ala:

{قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}

“Katakanlah:”Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupki dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabbsemesta alam” (QS al-An’aam:162).

Dan dalam firman-Nya:

{قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ}

“Katakanlah:”Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu?” (QS al-An’aam:164).

Continue reading

Memakmurkan Masjid, Sifat Terpuji Identik Dengan Iman Kepada Allah

بسم الله الرحمن الرحيم

     Allah  berfirman:

{مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ. إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ}

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah yang termasuk golongan orang-orang yang selalu mendapat petunjuk (dari Allah )” (QS At-Taubah: 18).

Ayat yang mulia ini menunjukkan besarnya keutamaan memakmurkan masjid yang didirikan karena Allah , dalam semua bentuk pemakmuran masjid, bahkan perbuatan terpuji ini merupakan bukti benarnya iman dalam hati seorang hamba.

Imam al-Qurthubi berkata: “Firman Allah  ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa mempersaksikan orang-orang yang memakmurkan masjid dengan keimanan adalah (persaksian yang) benar, karena Allah  mengaitkan keimanan dengan perbuatan (terpuji) ini dan mengabarkan tentanganya dengan menetapi perbuatan ini. Salah seorang ulama Salaf berkata: Jika engkau melihat seorang hamba (yang selalu) memakmurkan masjid maka berbaiksangkalah kepadanya”[1]. Continue reading

Menyemarakkan Rumah Dengan Bacaan Al-Quran

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Adakah kebutuhan manusia yang melebihi kebutuhan makan dan minum? Jawabnya: ada, yaitu kebutuhan manusia terhadap petunjuk Allah  (baca: al-Qur-an) untuk membaca, memahami dan mengamalkan kandungannya.

Al-Qur-an adalah pedoman hidup untuk kebahagiaan manusia dunia dan akhirat, petunjuk kepada jalan yang lurus, obat bagi penyakit hati manusia, penyubur keimanan dan fungsi-fungsi kebaikan lain yang dibutuhkan oleh manusia untuk kebahagiaan hidup mereka, dan ini jelas lebih dari fungsi makanan dan minuman bagi manusia.

Coba renungkan makna firman-firman Allah  berikut ini:

{إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا}

“Sesungguhnya al-Qur-an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (QS al-Israa’).

     {وَنُنزلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِين}

“Dan Kami turunkan di dalam al-Qur’an suatu yang menjadi obat (penyakit manusia) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS al-Israa’: 82).

{الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ}

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan (membaca) petunjuk Allah (al-Qur-an). Ingatlah, hanya dengan (membaca) petunjuk Allah (al-Qur-an) hati menjadi tenteram” (QS ar-Ra’du:28).

Artinya: dengan membaca dan merenungkan al-Qur-an  segala kegalauan dan kegundahan dalam hati mereka akan hilang dan berganti dengan kegembiraan dan kesenangan[1]. Continue reading

Bilakah Pohon Imam di Hati Berbuah Manis?

بسم الله الرحمن الرحيم

Pohon iman di hati berbuah manis? Bagaimana mungkin itu terjadi dan seperti apa rasanya?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, marilah kita renungkan makna beberapa hadits Rasulullah berikut ini:

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda: “Ada tiga sifat, barangsiapa yang memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman; menjadikan Allah dan rasul-Nya lebih dicintai daripada (siapapun) selain keduanya, mencintai orang lain semata-mata karena Allah, dan merasa benci (enggan) untuk kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah sebagaimana enggan untuk dilemparkan ke dalam api”[1].

Dan dari Al-’Abbas bin ‘Abdil Muththalib bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad sebagai rasulnya”[2].

Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah pernah mengucapkan do’a berikut:

« اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ »

“Ya Allah, hiasilah (diri) kami dengan perhiasan (keindahan) iman, serta jadikanlah kami sebagai orang-orang yang (selalu) mendapat petunjuk (dari-Mu) dan memberi petnjuk (kepada orang lain)”[3]. Continue reading

Teladan Kebaikan Dari Para Keluarga Salaf

بسم الله الرحمن الرحيم

     Berbicara tentang kisah keteladanan para ulama Salaf dalam ketekunan beribadah, ketaatan dan sifat zuhud, tentu merupakan pembicaraan yang tidak asing bahkan sangat dikenal di kalangan kaum muslimin.

Akan tetapi, tahukah kita bahwa kisah keteladanan dari anggota keluarga mereka juga tidak kalah menariknya dan sangat patut untuk kita baca serta renungkan?

Sebagai bukti bahwa para ulama Salaf tidak hanya memperhatikan dan mengusahakan kebaikan untuk diri mereka sendiri saja, tapi mereka juga sangat memperhatikan pengajaran dan bimbingan kebaikan bagi anggota keluarga mereka.

Mereka benar-benar memahami dan mengamalkan firman Allah :

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ}

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6). Continue reading

Keutamaan Membangun Masjid Dengan Niat Ikhlas Karena Allah

بسم الله الرحمن الرحيم

عَنْ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ قَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ  يَقُولُ: « مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ تَعَالَى – قَالَ بُكَيْرٌ: حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ:  يَبْتَغِيْ بِهِ وَجْهَ اللَّهِ – بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ » متفق عليه.

Dari ‘Utsman bin ‘Affan  beliau berkata: Sunnguh aku pernah mendengar Rasulullah  bersabda: “Barangsiapa yang membangun masjid karena Allah  (mengharapkan wajah-Nya) maka Allah akan membangunkan baginya rumah (istana) di Surga”[1].

 

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan ganjaran pahala bagi orang yang membangun masjid di dunia dengan niat ikhlas karena mengharapkan perjumpaan dengan Allah  dan mencari keridhaan-Nya, sehingga Imam An-Nawawi mencantumkan hadits ini dalam bab: Keutamaan (besar) dan anjuran membangun masjid[2]. Continue reading

Bolehkah Orang Yang Sedang Junub atau Haid Berdiam di Masjid?

بسم الله الرحمن الرحيم

BOLEHKAH ORANG YANG SEDANG JUNUB ATAU HAIDH BERDIAM DI MASJID ?

Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama Ahlus sunnah sejak dulu sampai sekarang, karena perbedaan pendapat mereka dalam menilai dan memahami dalil-dalil dalam masalah ini.

Tentu saja, sebagai seorang muslim, kita wajib mengembalikan semua perselisihan dalam urusan agama kita kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya . Allah berfirman:

{فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا}

Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS an-Nisaa’: 59).

Dan juga tentu saja, kita kembali kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya tetap dengan bimbingan para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah, karena mereka merupakan perantara untuk memahami hukum Allah dan Rasul-Nya.

Maka kita mengambil dan mengikuti ucapan mereka yang sesuai dan didukung dengan dalil dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah . Adapun yang tidak sesuai dengan dalil, maka kita tinggalkan dan luruskan dengan cara yang baik, juga dengan bimbingan para ulama yang lain. Continue reading

Sholat Ied (Hari Raya) di Masjid Bolehkah?

بسم الله الرحمن الرحيم

SHALAT ‘IED (HARI RAYA) DI MASJID, BOLEHKAH?

Shalat ‘Ied (hari raya) adalah salah satu syi’ar (simbol keagungan dan kemuliaan)1 Islam yang sangat agung2 dan melambangkan ketinggian agama Allah yang mulia ini.

Oleh karena itu, Rasulullah selalu melaksanakannya di tanah lapang di luar masjid, bahkan tidak ada satu riwayatpun yang shahih bahwa Rasulullah pernah melaksanakannya di masjid. Kemudian para Shahabat sepeninggal Rasulullah juga mempraktetakkan sunnah ini dengan baik3.

Imam Ibnul Haajj al-Maliki berkata: “Sunnah yang telah berlangsung (sejak dulu) dalam (pelaksanaan) shalat ‘Ied (hari raya) adalah dilaksanakan di mushalla (tanah lapang), karena Nabi Muhammad bersabda: “Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama daripada seribu shalat di masjid lain kecuali (shalat) di al-Masjidil Haram”4.

Kemudian bersamaan dengan keutamaan yang agung ini Rasulullah melaksanakan shalat ‘Ied di tanah lapang dan tidak melaksanakannya di Masjid Nabawi. Maka ini merupakan dalil (argumentasi) yang jelas tentang ditekankannya pensyariatan shalat ‘Ied di tanah lapang. Continue reading