Teladan Para Ulama Salaf Dalam Beribadah di Bulan Ramadhan

بسم الله الرحمن الرحيم

Bulan Ramdhan merupakan musim kebaikan terbesar dalam Islam dan waktu dilipatgandakannya pahala dan keutamaan amal shaleh dengan sebesar-besarnya. Inilah musim kebaikan besar yang ditunggu-tunggu oleh setiap orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.

Bahkan karena agungnya keutamaan bulan suci ini, sehingga Rasulullah selalu menyampaikan kabar gembira kepada para sahabat akan kedatangan bulan yang penuh berkah ini1.

Sahabat yang mulia, Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda, menyampaikan kabar gembira kepada para sahabatnya : “Telah datang bulan Ramadhan yang penuh keberkahan (kebaikan yang melimpah), Allah mewajibkan kalian berpuasa padanya, pintu-pintu surga di buka pada bulan itu, pintu-pintu neraka di tutup, dan para setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam (kemuliaan/lailatul qadr) yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalangi (untuk mendapatkan) kebaikan malam itu maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang agung)”2. Continue reading

Keutamaan Puasa Ramadhan Untuk Meraih Takwa

بسم الله الرحمن الرحيم

Keutamaan Puasa Ramadhan Untuk Meraih Takwa

Allah berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ}

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (QS al-Baqarah:183).

Imam Ibnu Katsir berkata: “Dalam ayat ini Allah berfirman kepada orang-orang yang beriman dan memerintahkan mereka untuk (melaksanakan ibadah) puasa, yang berarti menahan (diri) dari makan, minum dan hubungan suami-istri dengan niat ikhlas karena Allah (semata), karena puasa (merupakan sebab untuk mencapai) kebersihan dan kesucian jiwa, serta menghilangkan noda-noda buruk (yang mengotori hati) dan semua tingkah laku yang tercela”1.

Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di menjelaskan unsur-unsur takwa yang terkandung dalam ibadah puasa, sebagai berikut:

– Orang yang berpuasa (berarti) meninggalkan semua yang diharamkan Allah (ketika berpuasa), berupa makan, minum, berhubungan suami-istri dan sebagainya, yang semua itu diinginkan oleh nafsu manusia, untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan balasan pahala dari-Nya dengan meninggalkan semua itu, ini adalah termasuk takwa (kepada-Nya).

– Orang yang berpuasa (berarti) melatih dirinya untuk (merasakan) muraqabatullah (selalu merasakan pengawasan Allah ), maka dia meninggalkan apa yang diinginkan hawa nafsunya padahal dia mampu (melakukannya), karena dia mengetahui Allah maha mengawasi (perbuatan)nya.

– Sesungguhnya puasa akan mempersempit jalur-jalur (yang dilalui) setan (dalam diri manusia), karena sesungguhnya setan beredar dalam tubuh manusia di tempat mengalirnya darah2, maka dengan berpuasa akan lemah kekuatannya dan berkurang perbuatan maksiat dari orang tersebut.

– Orang yang berpuasa umumnya banyak melakukan ketaatan (kepada Allah ), dan amal-amal ketaatan merupakan bagian dari takwa.

– Orang yang kaya jika merasakan beratnya (rasa) lapar (dengan berpuasa) maka akan menimbulkan dalam dirinya (perasaan) iba dan selalu menolong orang-orang miskin dan tidak mampu, ini termasuk bagian dari takwa3.

Kemudian di antara sifat mulia yang akan tumbuh, dengan izin Allah , dengan semakin banyak seorang hamba melakukan ibadah puasa karena Allah , adalah sifat sabar yang kedudukannya sangat penting dalam iman. Bahkan tanpa adanya sifat sabar berarti iman seorang hamba akan pudar. Imam Ibnul Qayyim menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau: “Sesungguhnya (kedudukan sifat) sabar dalam keimanan (seorang hamba) adalah seperti kedudukan kepala (manusia) pada tubuhnya, kalau kepala manusia hilang maka tidak ada kehidupan bagi tubuhnya”4.

Sifat yang agung ini, sangat erat kaitannya dengan puasa, bahkan puasa itu sendiri adalah termasuk kesabaran5. Oleh karena itu, Rasulullah dalam hadits yang shahih menamakan bulan puasa dengan syahrush shabr (bulan kesabaran)6. Bahkan Allah menjadikan ganjaran pahala puasa berlipat-lipat ganda tanpa batas7, sebagaimana sabda Rasulullah : “Semua amal (shaleh yang dikerjakan) manusia dilipatgandakan (pahalanya), satu kebaikan (diberi ganjaran) sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman: “Kecuali puasa (ganjarannya tidak terbatas), karena sesungguhnya puasa itu (khusus) untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran (kebaikan) baginya”8.

Demikian pula sifat sabar, ganjaran pahalanya tidak terbatas, sebagaimana firman Allah :

{إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ}

Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan disempurnakan (ganjaran) pahala mereka tanpa batas” (QS az-Zumar:10).

Imam Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan eratnya hubungan puasa dengan sifat sabar dalam ucapan beliau: “Sabar itu ada tiga macam: sabar dalam (melaksanakan) ketaatan kepada Allah, sabar dalam (meninggalkan) hal-hal yang diharamkan-Nya, dan sabar (dalam menghadapi) ketentuan-ketentuan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginan (manusia). Ketiga macam sabar ini (seluruhnya) terkumpul dalam (ibadah) puasa, karena (dengan) berpuasa (kita harus) bersabar dalam (menjalankan) ketaatan kepada Allah, dan bersabar dari semua keinginan syahwat yang diharamkan-Nya bagi orang yang berpuasa, serta bersabar dalam (menghadapi) beratnya (rasa) lapar, haus, dan lemahnya badan yang dialami orang yang berpuasa”9.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 24 Rajab 1436 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

1 Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (1/289).

2 Sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 1933) dan Muslim (no. 2175).

3 Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 86).

4 Kitab “al-Fawa-id” (hal. 97).

5 Lihat kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 177).

6 Lihat “Silsilatul ahaaditsish shahiihah” (no. 2623).

7 Lihat kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 177).

8 HSR al-Bukhari (no. 1805) dan Muslim (no. 1151), lafazh ini yang terdapat dalam “Shahih Muslim”.

9 Kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 177).

Hadits Lemah Tentang Tidurnya Orang Yang Berpuasa Adalah Ibadah

بسم الله الرحمن الرحيم

Hadits Lemah Tentang Tidurnya Orang Yang Berpuasa Adalah Ibadah

رُوِيَ عن عبد الله بن أبي أوفى عن النبي قال: « نوم الصائم عبادة وسكوته تسبيح »

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Abi Aufa bahwa Rasulullah bersabda: “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah dan diamnya adalah tasbih (berdzikir kepada Allah )”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi dalam “Syu’abul iman” (3/415) dengan sanad beliau dari Sulaiman bin ‘Amr, dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair, dari dari ‘Abdullah bin Abi Aufa, dari Rasulullah .

Riwayat ini sanadnya palsu, karena ada rawi yang bernama Sulaiman bin ‘Amr, dia adalah Abu Dawud an-Nakha’i, seorang pendusta dan pemalsu hadits yang terkenal1.

Riwayat ini dinyatakan kelemahannya yang fatal oleh Imam al-‘Iraqi dalam “Takhriiju ahaadiitsil Ihya’” (hlmn 187) dan al-Munawi dalam “Faidhul Qadiir” (6/290). Continue reading

Keutamaan Sifat Zuhud

بسم الله الرحمن الرحيم

عَنْ سَهْلِ بن سَعْد الساعدي  قَالَ: قَالَ رَسُولَ اللَّهِ  : (( ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاس )) حديث صحيح بمجموع طرقه.

Dari Sahl bin Sa’d as-Sa’idi bahwa Rasulullah  bersabda: “Bersikap zuhudlah terhadap dunia maka Allah akan mencintaimu dan besikap zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia maka merekapun akan mencintaimu”[1].

Hadits yang mulia ini dinyatakan oleh sebagian dari para ulama Ahli hadits sebagai salah satu di antara hadits-hadits Rasulullah  yang berisi prinsip-prinsip dasar agama Islam[2], sehingga Imam an-Nawawi mencatumkannya dalam empat puluh hadits pilihan yang merupakan landasan utama Islam.

Hadits ini menunjukkan besarnya keutamaan sifat zuhud karena merupakan sebab meraih kecintaan Allah  yang merupakan kemuliaan terbesar bagi hamba di dunia dan akhirat[3]. Continue reading

Keutamaan Perempuan Yang Selalu Menetap Di Rumahnya

بسم الله الرحمن الرحيم

عَنْ عَبْدِ اللهِ بن مسعود ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: « إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ ، فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُونُ مِنْ رَبِّهَا إِذا هِيَ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا » صحيح رواه الترمذي وابن خزيمة وابن حبان وغيرهم.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud  bahwa Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya perempuan adalah aurat, maka jika dia keluar (rumah) setan akan mengintainya (menghiasainya agar menjadi fitnah bagi laki-laki), dan keadaanya yang paling dekat dengan Rabbnya (Allah ) adalah ketika dia berada di dalam rumahnya”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan seorang perempuan muslimah yang selalu menetap di rumahnya dan tidak keluar rumah kecuali jika ada kebutuhan yang dibenarkan dalam syariat Islam, bahkan menetapnya dia di dalam rumahnya bernilai ibadah yang sangat tinggi pahalanya di sisi Allah , karena dalam hadits ini disebut sebagai keadaannya yang  paling dekat dengan Allah .

Bahkan ini merupakan kewajiban kaum perempuan yang diperintahkan Allah  dalam al-Qur’an, Allah  berfirman:

{وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى، وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا}

“Dan hendaklah kalian (wahai istri-istri Nabi) menetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait (istri-istri Nabi) dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” (QS al-Ahzaab:33).

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Bin Baz berkata: “Allah  memerintahkan kaum perempuan untuk menetapi rumah-rumah mereka, karena keluarnya mereka dari rumah sering menjadi sebab (timbulnya) fitnah. Dan sungguh dalil-dalil syariat menunjukkan bolehnya mereka keluar rumah jika ada keperluan (yang sesuai syariat), dengan memakai hijab (yang benar) dan menghindari memakai perhiasan, akan tetapi menetapnya mereka di rumah adalah (hukum) asal dan itu lebih baik bagi mereka serta lebih jauh dari fitnah”[2].

Beberapa faidah penting yang dapat kita petik dari hadits ini:

– Sabda Rasulullah  di atas: “Sesungguhnya perempuan adalah aurat…” menunjukkan bahwa seorang perempuan seharusnya lebih tertutup dan jauh dari pandangan laki-laki yang bukan mahram baginya[3]. Ini semua dapat terwujud dengn sempurna dengan dia sering menetap di rumah dan memakai hijab/jilbab yang sesuai dengan syari’at Islam ketika keluar rumah karena ada kebutuhan yang dibenarkan.

– Imam al-Qurthubi, ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata: “Makna ayat di atas adalah perintah (bagi kaum perempuan) untuk menetapi rumah-rumah mereka. Meskipun (asalnya) ini ditujukan kepada istri-istri Nabi Muhammad , akan tetapi secara makna (wanita-wanita) selain mereka (juga) termasuk dalam perintah tersebut. Ini seandainya tidak ada dalil yang khusus (mencakup) semua wanita. Padahal (dalil-dalil dalam) syariat Islam penuh dengan (perintah) bagi kaum wanita untuk menetapi rumah-rumah mereka dan tidak keluar rumah kecuali karena darurat (terpaksa)”[4].

– Menetapnya seorang perempuan di rumah merupakan ‘aziimatun syar’iyyah (hukum asal yang dikuatkan dalam syariat Islam), sehingga kebolehan mereka keluar rumah merupakan rukhshah (keringanan) yang hanya diperbolehkan dalam keadaan darurat atau jika ada keperluan. Oleh karena itulah, Allah  dalam tiga ayat al-Qur’an[5] menisbatkan/menggandengkan rumah-rumah kepada kaum perempuan, padahal jelas rumah-rumah yang mereka tempati adalah milik para suami atau wali mereka, ini semua menunjukkan bahwa selalu menetap dan berada di rumah adalah keadaan yang sesuai dan pantas bagi mereka[6].

– Seorang perempuan dibolehkan untuk keluar rumah jika ada keperluan yang dibenarkan dalam syariat.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani berkata: “(Hukum) asalnya seorang wanita tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali kalau ada keperluan (yang sesuai dengan syariat), sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih (riwayat) imam al-Bukhari (no. 4517) ketika turun firman Allah :

{وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى}

“Dan hendaklah kalian (wahai istri-istri Nabi) menetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu” (QS al-Ahzaab:33).

Rasulullah  bersabda: “Sungguh Allah telah mengizinkan kalian (para wanita) untuk keluar (rumah) jika (ada) keperluan kalian (yang dibolehkan dalam syariat)”[7].

– Ada hikmah agung lain yang berhubungan dengan perintah Allah  bagi kaum perempuan untuk menetap di rumah-rumah mereka, yaitu untuk memudahkan mereka meraih ketenangan hati dan kelapangan jiwa, serta terhindar dari segala kegalauan dan kegundahan.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz berkata: “Allah  memerintahkan bagi seorang wanita untuk menetap di rumahnya dan tidak keluar rumah kecuali untuk kebutuhan yang mubah (diperbolehkan dalm Islam) dengan menetapi adab-adab yang disyariatkan (dalam Islam). Sungguh Allah telah menamakan (perbuatan) menetapnya seorang wanita di rumahnya dengan “qaraar” (tetap, stabil, tenang), ini mengandung arti yang sangat tinggi dan mulia. Karena dengan ini jiwanya akan tenang, hatinya akan damai dan dadanya akan lapang. Maka dengan keluar rumah akan menyebabkan keguncangan jiwanya, kegalauan hatinya dan kesempitan dadanya, serta membawanya kepada keadaan yang akan berakibat keburukan baginya”[8].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Semarang, 2 Rabi’ul awwal 1436 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

[1] HR at-Tirmidzi (3/476), Ibnu Khuzaimah (no. 1685), Ibnu Hibban (no. 5599) dan at-Thabrani dalam “al-Mu’jamul  ausath” (no. 2890), dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Mundziri dan syikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaaditsish shahiihah” (no. 2688).

[2] Kitab “Majmuu’ul fataawa syaikh Bin Baz” (4/308).

[3] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (6/266).

[4] Kitab “al-Jaami’ liahkaamil Qur-an” (14/174).

[5] Yaitu QS al-Ahzaab: 33, 34 dan ath-Thalaaq:1.

[6] Lihat kitab “Hiraasatul fadhiilah” (hal. 87).

[7] Al-Fataawa al-imaaraatiyyah.

[8] Kitab “at-Tabarruju wa khatharuhu” (hal. 22).

Hadits Palsu Tentang Keutamaan Berdzikir Dengan Biji-bijian Tasbih

بسم الله الرحمن الرحيم

رُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ  ، عَنِ النَّبِيِّ  قَالَ “نِعْمَ الْمُذَكِّرِ السُّبْحَةُ “

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib  bahwa Rasulullah  bersabda: “Sebaik-baik alat untuk berdzikir adalah subhah (biji-bijian tasbih)”.

Hadits ini dikeluarkan oleh imam ad-Dailami dalam “Musnadul Firdaus” (4/98 – al-Mukhtashar) dari Jalur Muhammad bin harun bin ‘Isa bin Manshur al-Hasyimi, dari Muhammad bin ‘Ali bin Hamzah al-‘Alawi, dari ‘Abdush Shamad bin Musa, dari Zainab binti Sulaiman bin ‘Ali, dari Ummul Hasan binti Ja’far bin al-Hasan, dari bapaknya, dari kakeknya, dari ‘Ali bin Abi Thalib , dari Rasulullah . Continue reading

Hadits Yang Sangat Lemah Tentang Jihad Paling Besar Dan Jihad Paling Kecil

بسم الله الرحمن الرحيم

Hadits Yang Sangat Lemah Tentang Jihad Paling Besar Dan Jihad Paling Kecil

عن جابر بن عبد الله  قال: قدم على رسول الله  قومٌ غزاةٌ، فقال : « قَدِمْتُمْ خَيْرَ مَقْدَمٍ مِنَ الجِْهادِ الأَصْغَرِ إِلَى الجِهادِ الأَكْبَرِ ». قالوا : وما الجهاد الأكبر ؟ قال : « مجاهدة العبد هواه » رواه البيهقي في “الزهد الكبير” والخطيب في “تاريخ بغداد” بإسناد ضعيف.

Dari Jabir bin ‘Abdillah  beliau berkata: “Para pasukan perang telah datang (dan menemui) Rasulullah  (dari medan jihad), maka beliau  bersabda: “Kalian telah datang dengan sebaik-baik kedatangan, dari jihad yang paling kecil (berperang di jalan Allah ) menuju jihad yang paling besar”. Merekapun bertanya: Apakah jihad yang paling besar itu? Rasulullah  bersabda: “Perjuangan seorang hamba (untuk menundukkan) hawa nafsunya”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi dalam “az-Zuhdul kabiir” (no. 384), al-Khathib al-Bagdadi dalam “Tarikh bagdad” (13/523), dan Ibnul Jauzi dalam “Dzammul hawa” (hal. 39), dengan sanad mereka bertiga dari jalur Yahya bin Ya’la, dari Laits bin Abi Sulaim, dari ‘Atha’ bin Abi Rabah, dari Jabir bin ‘Abdillah , dari Rasulullah . Continue reading

Dzikir Penyubur Iman

بسم الله الرحمن الرحيم

Barangkali banyak di antara kaum muslimin yang menganggap biasa nilai berdzikir kepada Allah , berhubung amal shaleh ini sudah sering dan terbiasa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, baik setelah selesai shalat fardhu, sebelum dan sesudah makan atau tidur, di waktu pagi dan petang, maupun di waktu-waktu lainnya.

Tapi tahukah kita bahwa berdzikir kepada Allah  memiliki keutamaan dan kemuliaan yang sangat agung, bahkan termasuk amal shaleh yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah ? Bahkan amal ini termasuk sebab utama yang menyuburkan keimanan kepada Allah  dan menyempurnakan kedekatan dengan-Nya. Tentu saja jika amal shaleh ini dilakukan dengan benar dan sesuai dengan petunjuk Allah  yang diturunkan-Nya kepada Rasulullah .

Cukuplah firman Allah  berikut yang menunjukkan besarnya keutamaan berdzikir kepada Allah ,

{الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ}

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS ar-Ra’du:28).

Artinya: dengan berzikir kepada Allah  segala kegalauan dan kegundahan dalam hati mereka akan hilang dan berganti dengan kegembiraan dan kesenangan. Bahkan tidak ada sesuatupun yang lebih besar pengaruhnya dalam mendatangkan ketenteraman dan kebahagiaan bagi hati manusia melebihi berzikir kepada Allah [1]. Continue reading

Teladan dan Kebaikan Dari Para Keluarga Salaf

بسم الله الرحمن الرحيم

Berbicara tentang kisah keteladanan para ulama Salaf dalam ketekunan beribadah, ketaatan dan sifat zuhud, tentu merupakan pembicaraan yang tidak asing bahkan sangat dikenal di kalangan kaum muslimin.

Akan tetapi, tahukah kita bahwa kisah keteladanan dari anggota keluarga mereka juga tidak kalah menariknya dan sangat patut untuk kita baca serta renungkan?

Sebagai bukti bahwa para ulama Salaf tidak hanya memperhatikan dan mengusahakan kebaikan untuk diri mereka sendiri saja, tapi mereka juga sangat memperhatikan pengajaran dan bimbingan kebaikan bagi anggota keluarga mereka.

Mereka benar-benar memahami dan mengamalkan firman Allah :

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ}

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6). Continue reading

Hadits Palsu Tentang Cinta Tanah Air

حديث: حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الْإِيْمَانِ

Hadits: “Cinta tanah air adalah bagian dari iman”.

Hadits ini adalah hadits yang palsu bahkan tidak diketahui asal-usulnya, sebagaimana penjelasan dari para ulama Ahli hadits.

Imam ash-Shagani berkata, Mulla ‘Ali al-Qari dan imam-imam lain menghukuminya sebagai hadits palsu, sementara para ulama yang lain mengatakan bahwa hadits ini tidak ditemukan asal-usulnya[1].

Kemudian makna hadits ini juga tidak benar, karena cinta tanah air adalah cinta dari watak bawaan manusia, seperti cinta kepada diri sendiri, harta, keluarga dan lain-lain. Mencintai hal-hal tersebut pada asalnya tidak dicela dan dipuji, sehingga tidak bisa dikatakan itu merupakan bagian dari iman jika berdiri sendiri, kecuali tentu saja jika dikaitkan dengan hal-hal yang dianjurkan atau diperintahkan dalam agama Islam. Continue reading