Hadits Palsu dan Bahayanya dalam Merusak Akidah Kaum Muslimin

بسم الله الرحمن الرحيم

Tersebarnya hadits-hadits palsu di tengah kaum muslimin termasuk musibah terbesar yang akan merusak agama dan keyakinan mereka. Karena mayoritas dari hadits-hadits tersebut mengandung perkara yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang lurus, bahkan di antaranya ada yang jelas-jelas berisi kekufuran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala[1].

Musibah ini lebih diperparah kerusakannya dengan kebodohan mayoritas kaum muslimin terhadap agama mereka, sehingga mereka mudah terpengaruh dan menerima semua ucapan yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan kepada mereka, tanpa berusaha mencari kejelasan tentang mana hadits yang shahih dan mana yang lemah bahkan palsu. Tentu saja ini akan berakibat fatal, karena nantinya kerusakan yang terdapat pada hadits-hadits palsu tersebut akan diterima dan diyakini oleh mereka sebagai kebenaran.
Continue reading

Orang yang Tidak Dilalaikan dengan Urusan Dunia

بسم الله الرحمن الرحيم

Muhammad bin Sirin[1] adalah imam Ahlus sunnah yang sangat terkenal dalam berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan sangat terpercaya dalam meriwayatkannya. Akan tetapi tahukah anda bahwa beliau juga disifati oleh para ulama di jamannya sebagai orang yang sangat wara’ (hati-hati dalam masalah halal dan haram) dan tekun dalam beribadah.

Imam adz-Dzahabi menukil dari Abu ‘Awanah Al-Yasykuri, beliau berkata, “Aku melihat Muhammad bin sirin di pasar, tidaklah seorangpun melihat beliau kecuali orang itu akan mengingat Allah[2].”

Subhanallah, betapa mulianya sifat imam besar ini. Betapa tekunnya beliau dalam beribadah dan berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga sewaktu berada di pasar dan sedang berjual-belipun hal tersebut tampak pada diri beliau.
Continue reading

Kemuliaan Pembawa Hadits Nabi (Seri-1)

بسم الله الرحمن الرحيم

عن زيد بن ثابت رضي الله عنه قال: سمعتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقول: ((نَضَّرَ اللهُ امْرَءاً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثاً فَحَفِظَهُ – وفي لفظٍ: فَوَعَاها وَحَفِظَها – حَتَّى يُبَلِّغَهُ، فَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ إلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ

Dari Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Semoga Allah mencerahkan (mengelokkan rupa) orang yang mendengar hadits dariku, lalu dia menghafalnya – dalam lafadz riwayat lain: lalu dia memahami dan menghafalnya –, hingga (kemudian) dia menyampaikannya (kepada orang lain), terkadang orang yang membawa ilmu agama menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya, dan terkadang orang yang membawa ilmu agama tidak memahaminya.” (Hadits yang shahih dan mutawatir).
Continue reading

Loyalitas dalam Islam (Seri 2-Selesai)

Beberapa contoh perbuatan yang menunjukkan loyalitas kepada orang-orang kafir[1]

  • Menyerupai mereka dalam berpakaian, berbicara dan lain-lain.

Karena menyerupai mereka dalam hal-hal tersebut menunjukkan kecintaan kepada mereka. Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.”[2].

Maka diharamkan menyerupai orang-orang kafir dalam hal-hal yang merupakan kekhususan mereka (yang membedakan mereka dengan orang-orang muslim), berupa adat-istiadat, peribadatan, penampilan dan tingkah laku mereka, seperti mencukur jenggot dan memanjangkan kumis, berbicara dengan bahasa mereka tanpa ada keperluan, model pakaian, tata cara makan, minum dan sebagainya. Continue reading

Mengkritisi Keabsahan Hadits-hadits Kitab Ihya’ Ulumiddin

بسم الله الرحمن الرحيم

Kiranya tidak berlebihan kalau kita mengatakan bahwa kitab Ihya’ Ulumiddin adalah termasuk kitab berbahasa Arab yang paling populer di kalangan kaum muslimin di Indonesia, bahkan di seluruh dunia.

Kitab ini dianggap sebagai rujukan utama, sehingga seorang yang telah menamatkan pelajaran kitab ini dianggap telah mencapai kedudukan yang tinggi dalam pemahaman agama Islam.

Padahal, kiranya juga tidak berlebihan kalau kita katakan bahwa kitab ini termasuk kitab yang paling keras diperingatkan oleh para ulama untuk dijauhi, bahkan di antara mereka ada yang merekomendasikan agar kitab ini dimusnahkan! (Lihat kitab Siyaru A’laamin Nubala’, 19/327 dan 19/495-496).

Continue reading

Loyalitas dalam Islam (Seri 1)

بسم الله الرحمن الرحيم

Masalah al-wala’ (loyalitas/kecintaan) dan al-bara’ (berlepas diri/kebencian) adalah masalah yang sangat penting dan ditekankan kewajibannya dalam Islam, bahkan merupakan salah satu landasan keimanan yang agung, yang dengan melalaikannya akan menyebabkan rusaknya keimanan seseorang[1].

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, al-baraa’ah (sikap berlepas diri/kebencian) adalah kebalikan dari al-wilaayah (loyalitas/kecintaan), asal dari al-baraa’ah adalah kebencian dan asal dari al-wilaayah adalah kecintaan, yang demikian itu karena hakikat tauhid adalah (dengan) tidak mencintai selain Allah dan mencintai apa dicintai Allah karena-Nya, maka kita tidak (boleh) mencintai sesuatu kecuali karena Allah dan (juga) tidak membencinya kecuali karena-Nya”[2].

Continue reading

Mengembalikan Kejayaan Umat Islam (Seri 2-Selesai)

Pelajaran Berharga dari Sejarah Islam

Sejarah Islam telah mencatat berbagai kemenangan gemilang yang dicapai oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum bersama Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam ketika berperang menghadapi musuh-musuh mereka, karena Rasulullah dan para sahabat radhiallahu ‘anhum adalah orang-orang yang paling kuat dalam menegakkan agama Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana keterangan Imam Ibnu Katsir di atas. Pada diri merekalah terwujud dengan sesungguhnya makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

{وَلَيَنصُرَنَّ الله مَن يَنصُرُهُ إِنَّ الله لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ}

“Sesungguhnya Allah pasti akan menolong orang yang menolong-Nya, sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Hajj: 40).

Continue reading

Mengembalikan Kejayaan Umat Islam (Seri 1)

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Kejayaan Islam dan umatnya adalah harapan yang harus ada dalam benak semua orang yang benar-benar beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari kemudian. Karena diantara perkara yang bisa membatalkan keislaman seseorang adalah merasa senang dengan kejatuhan dan kemunduran agama Islam dan justru tidak mengharapkan kejayaan dan ketinggian Islam tersebut[1]. Sebagaimana termasuk konsekwensi keimanan seorang muslim adalah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh saudaranya sesama muslim, dengan turut merasa prihatin dan berduka atas semua penderitaan yang mereka alami, kemudian berusaha membantu meringankan beban mereka, minimal dengan berdoa, serta berusaha mencari jalan keluar terbaik untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

Continue reading

Pergaulan Bebas Biang Kerusakan

بسم الله الرحمن الرحيم

Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, dalam ucapannya yang populer pernah berkata, “Dulunya kita adalah kaum yang paling hina, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’la memuliakan kita dengan agama Islam, maka kalau kita mencari kemuliaan dengan selain agama Islam ini, pasti Allah Subhanahu wa Ta’la akan menjadikan kita hina dan rendah[1].”

Nasehat emas dari shahabat yang mulia radhiallahu ‘anhu ini ditujukan kepada mereka yang mengaku beragama Islam tapi justru tidak merasa bangga dan mulia dengan keislaman mereka, sehingga mereka justru lebih tertarik mengikuti gaya hidup orang-orang yang jauh dari petunjuk Islam dan lebih percaya dengan teori-teori buruk yang mereka kemukakan.

Continue reading