Antara Syariat Islam Dan Budaya Masyrakat

Penolakan terhadap hukum-hukum Islam dan sunnah Rasulullah ﷺ sering kita dengar dan ditemukan di tangah-tengah masyarakat kita yang mayoritas beragama Islam, tentu dengan berbagai macam alasan dan argumentasi cacat yang mereka kemukakan. Misalnya anggapan mereka bahwa hukum Islam tersebut tidak sesuai dengan situasi dan kondisi manusia di jaman sekarang, atau alasan hukum Islam terlalu kolot dan kaku sehingga tidak bisa fleksibel mengikuti perkembangan kebutuhan manusia di era modern.

Padahal, bukankah Allah ﷻ yang menurunkan syariat Islam maha menciptakan segala sesuatu, termasuk menciptakan semua waktu dan tempat, serta maha mengetahui semua kondisi dan perubahan yang terjadi pada mahluk ciptaan-Nya, sehingga semua hukum dalam syariat Islam yang diturunkan-Nya sangat sesuai dengan kondisi mereka di setiap jaman dan tempat?

Allah ﷻ berfirman:

{أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ}

“Bukankah Allah yang menciptakan (alam semesta beserta isinya) maha mengetahui (segala sesuatu)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS al-Mulk:14). Continue reading

Keutamaan Memurnikan Tauhid Kepada Allah

Allah ﷻ berfirman:

{الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ}

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang (selalu) mendapat petunjuk” (QS al-An’aam: 82).

Ayat yang agung ini menunjukkan agungnya keutamaan memurnikan iman dan tauhid dari noda syirik (menyekutukan Allah ﷻ), karena hal ini merupakan sebab utama seorang hamba meraih semua kebaikan dan kemuliaan di sisi Allah ﷻ, yaitu keamanan dan petunjuk dari-Nya di dunia dan akhirat[1]. Syaikhul Islam Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab رحمه الله mencantumkan ayat ini dalam kitab “at-Tauhid” dalam pembahasan: Keutamaan Tauhid dan Kedudukannya sebagai pengugur dosa-dosa[2]. Continue reading

Keutamaan Menolong Agama Allah

Allah ﷻ berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ}

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad: 7).

Ayat yang mulia ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang menolong agama Allah ﷻ, karena Allah ﷻ akan memudahkan pertolongan-Nya baginya dan meneguhkan kedudukasnnya, sebagai balasan yang sesuai dengan perbuatan hamba tersebut[1].

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di رحمه الله berkata: “Ini adalah perintah dari Allah ﷻ kepada kaum mukminin agar mereka menolong (agama) Allah, dengan mengamalkan agama-Nya, berdakwah (mengajak manusia) ke jalan-Nya dan berjihad melawan musuh-musuh-Nya, dengan niat mengharapkan wajah Allah. Continue reading

Hadits Palsu Tentang Adanya Bid’ah Hasanah (Yang Baik)

رُوِيَ عن أنس بن مالك  t قال: قال رسول الله ﷺ: ((ما استحسنوا فهو عند الله حسن وما استقبحوا فهو عند الله قبيح)) حديث موضوع رواه الخطيب البغدادي وابن الجوزي.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin maka itu baik di sisi Allah dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin maka itu buruk di sisi Allah”.

Hadist ini dikeluarkan oleh Imam al-Khathib al-Bagdadi رحمه الله dalam “Tarikh Bagdad” (4/165) dan dari jalurnya oleh Imam Ibnul Jauzi dalam kitab “al-Waahiyaat” (no. 452) dari jalur Sulaiman bin ‘Amr Abu Dawud an-Nakha’i, dari Aban bin Abi Ayyasy dan Humaid ath-Thawil, dari Anas bin Malik, dari Rasulullah ﷺ.

Hadits ini adalah hadits palsu, dalam sanadnya ada rawi yang bernama Sulaiman bin ‘Amr Abu Dawud an-Nakha’i, dia adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits. Imam Ahmad رحمه الله berkata tentangnya: “Dia selalu memalsukan hadits”. Imam Yahya bin Ma’in رحمه الله berkata: “Dia adalah orang yang paling pendusta”. Imam al-Bukhari رحمه الله berkata: “Dia ditinggalkan (riwayat haditsnya karena kelemahannya yang fatal), Imam Qutaibah dan Ishaq menilainya sebagai pendusta”[1]. Continue reading

Keutamaan Mentadabburi/Merenungkan Ayat-Ayat Al-Qur-an

Allah ﷻ berfirman:

{كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ}

“Ini adalah sebuah kitab (al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah (kebaikan yang berlimpah), supaya mereka merenungkan (makna) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS Shaad: 29).

Ayat yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan mentadabburi ayat-ayat al-Qur-an, memahami maknanya, serta menghayati petunjuknya, agar menjadi sebab keberkahan dan kebaikan bagi diri manusia, lahir dan batin.

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari رحمه الله berkata: “Allah ﷻ memotivasi hamba-hamba-Nya untuk mengambil pelajaran dari ayat-ayat al-Qur-an (dengan merenungkannya), berupa nasehat-nasehat (yang bermanfaat) dan bukti-bukti (kebenaran)”. Kemudian beliau menyebutkan ayat tersebut  di atas[1]. Continue reading

Keutamaan Orang Yang Selalu Mengumandangkan Adzan

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِى سُفْيَانَ t قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: « الْمُؤَذِّنُونَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ » روه مسلم

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Para mu’adzdzin (orang-orang yang selalu mengumandangkan adzan) adalah orang-orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat nanti”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang selalu mengumandang-kan adzan, karena sifat yang disebutkan disebutkan dalam hadits di atas berhubungan dengan keutamaan besar bagi para mu’adzdzin. Oleh karena itu, beberapa ulama, seperti Imam an-Nawawi رحمه الله dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin رحمه الله, menjadikan hadits ini sebagai argumentasi yang menunjukkan bahwa mengumandangkan adzan lebih utama dari pada menjadi imam dalam shalat berjamaah[2].

Dalam beberapa hadits shahih lainnya, Rasulullah ﷺ menjelaskan keutamaan besar mengumndangkan adzan, seperti sabda beliau ﷺ: “Seandainya manusia mengetahui besarnya keutamaan mengumandangkan adzan dan (menempati) shaff pertama (dalam shalat berjama’ah) lalu mereka tidak mendapatkan (cara untuk meraih keutamaan tersebut) kecuali dengan melakukan undian maka niscaya mereka mau mengadakan undian untuk itu”[3]. Continue reading

Hadits Sangat Lemah Tentang Kalimat Hikmah

رُوِيَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ t أنه قَال:َ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: « الْكَلِمَةُ الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا » رواه الترمذي وابن ماجه وغيرهما وهو ضعيف جداً.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Kalimat hikmah adalah barang berharga orang beriman yang hilang, sehingga di manapun dia menemukannya maka dia yang paling berhak terhadapnya”.

Hadits ini dikeluarkan oleh oleh Imam at-Tirmidzi (5/51), Ibnu Majah (no. 4169), Ibnu Hibban dalam kitab “al-Majruhin” (1/105) dan Ibnul Jauzi dalam “al-‘Ilal al-mutanahiyah” (1/95), dengan sanad mereka dari jalur Ibrahim bin al-Fadhl, dari Sa’id al-Maqburi, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ.

Hadist ini sangat lemah, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama Ibrahim bin al-Fadhl al-Makhzumi, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani –rahimahullah- berkata tentangnya: “Dia ditinggalkan (riwayat haditsnya kerena kelemahannya yang sangat fatal)[1]. Continue reading

Musibah dan Bencana, Antara Cobaan dan Teguran

Sebagai hamba Allah, dalam kehidupan di dunia manusia tidak akan luput dari berbagai cobaan, baik kesusahan maupun kesenangan, sebagai sunnatullah yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir, yang taat maupun durhaka.

     Allah Ta’ala Berfirman:

{وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ}

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan (bencana) dan kebaikan (kesenangan) sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (QS al-Anbiya':35).

Imam Ibnu Katsir – semoga Allah Ta’ala merahmatinya – berkata: “(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang beputus asa… Lalu Kami akan memberikan balasan (di akhirat kelak) sesuai dengan amal perbuatanmu”[1]. Continue reading