Keutamaan Puasa di Bulan Muharram

بسم الله الرحمن الرحيم

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله : ((أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم وأفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل)) رواه مسلم.

Dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah bersabda: “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (bulan) Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam”[1].

Hadits yang mulia ini menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan Muharram, bahkan puasa di bulan ini lebih utama dibandingkan bulan-bulan lainnya, setelah bulan Ramadhan[2]. Continue reading

Berdo’alah Kepada-Ku Niscaya Aku Akan Kabulkan!

بسم الله الرحمن الرحيم

Berdo’a dan memohon kepada Allah adalah sifat hamba-hamba-Nya yang shaleh dan dengannya mereka dipuji dalam banyak ayat al-Qur-an.

Allah berfirman:

{إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ}

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka (selalu) berdo’a kepada Kami dengan berharap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ (dalam beribadah)” (QS al-Anbiyaa’: 90).

Dalam ayat lain, Allah memuji hamba-hamba-Nya yang shaleh dalam firman-Nya:

{تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ}

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (karena mereka selalu mengerjakan ibadah dan shalat ketika manusia sedang tertidur di malam hari), sedang mereka berdo’a kepada Allah dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka” (QS as-Sajdah: 16). Continue reading

Keutaman Berdoa Dengan Mengangkat Kedua Tangan

بسم الله الرحمن الرحيم

Dari Salman al-Farisi bahwa Rasulullah bersabda:

« إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا »

“Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) adalah maha pemalu lagi maha pemurah, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa”[1].

Hadits yang mulia ini menunjukkan besarnya keutamaan mengangkat tangan ketika berdo’a, dan ini termasuk adab yang agung serta sebab terkabulnya do’a[2].

Beberapa faidah penting yang dapat kita petik dari hadits ini:

– Hadits ini merupakan argumentasi penetapan salah satu dari nama Allah yang maha indah, yaitu al-Hayiyyu (Yang Maha Pemalu). Sebagaimana hal ini ditetapkan oleh para ulama Ahlus sunnah, seperti Imam Ibnul Qayyim[3], syaikh Abdurrahman as-Sa’di[4], syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin[5], syaikh ‘Abdur Razzak al-Badr[6] dan lain-lain.

– Makna nama Allah al-Hayiyyu (Yang Maha Pemalu) adalah sebagaimana ucapan Imam Ibnul Qayyim berikut:

Dialah al-Hayiyyu (Maha Pemalu) maka Dia tidak akan mempermalukan hamba-Nya

(di dunia) ketika hamba-Nya itu berbuat maksiat terang-terangan

Syaikh Muhammad Khalil Harras ketika menjelaskan makna bait syair ini, beliau berkata: “(Sifat) malu Allah adalah sifat yang sesuai dengan (kebesaran dan keagungan)-Nya, tidak sama dengan (sifat) malu (pada) makhluk-Nya yang berarti perubahan (sikap) dan (sifat) berkecil hati yang terjadi pada seseorang ketika dia mengkhawatirkan sesuatu aib atau celaan (pada dirinya). Adapun arti sifat malu (pada Allah ) adalah meninggalkan sifat/perbuatan yang tidak selaras dengan kemahaluasan rahmat-Nya serta kemahasempurnaan kebaikan dan kemuliaan-Nya”[7].

– Adapun nama Allah al-Kariim (Yang Maha Pemurah) artinya adalah Dia yang memberikan karunia kepada hamba-hamba-Nya tanpa mereka meminta, apalagi jika mereka meminta kepada-Nya[8].

– Yang dimaksud dengan do’a yang tidak akan tertolak dalam hadits ini adalah do’a yang terkumpul padanya adab-adab dan syarat-syarat terkabulmnya do’a, selain mengangkat tangan, seperti: merendahkan diri dan menampakkan rasa butuh di hadapan Allah , menghadirkan hati ketika berdo’a dan yakin dengan pengabulan dari-Nya, serta menjauhi makanan dan minuman yang haram[9].

– Imam Ibnul Qayyim berkata: “Jika terkumpul dalam do’a (seorang hamba) hadirnya hati dan terfokusnya secara utuh kepada permohonan yang dimintanya, (waktu dia berdo’a) bertepatan dengan salah satu dari enam waktu (yang dijanjikan padanya) pengabulan do’a, yaitu sepertiga malam yang terakhir, ketika adzan (berkumandang), (waktu) di antara adzan dan iqamah, di akhir shalat-shalat (lima waktu) yang wajib (sebelum salam), ketika imam (khathib) naik ke mimbar pada hari Jum’at sampai selesai shalat Jum’at, dan akhir waktu (siang) setelah shalat ashar (sebelum matahari terbenam) pada hari Jum’at, disertai perasaan khusyu’ dalam hati, merendahkan diri, tunduk, pasrah dan mengakui kelemahan diri (di hadapan Allah ), dia berdo’a dalam keadaan suci (dari hadats), menghadap qiblat serta mengangkat kedua tangannya kepada Allah , Dia memulai (do’anya) dengan memuji dan menyanjung Allah, lalu bershalawat atas Nabi Muhammad , kemudian sebelum menyampaikan permohonannya, dia bertaubat dan beristigfar (memohon ampun kepada-Nya), setelah itu dia menyampaikan permohonannya kepada Allah, dengan merengek-rengek dan bersungguh-sungguh meminta, disertai perasaan takut dan berharap, bertawassul kepada-Nya dengan nama-nama-Nya (yang maha indah), sifat-sifat-Nya (yang maha tinggi), dan mentauhidkan-Nya, serta terlebih dahulu bersedekah sebelum berdo’a. Sungguh do’a (seperti) ini hampir (pasti) tidak akan ditolak selamanya. Terlebih lagi jika do’a tersebut bersesuaian dengan do’a-do’a yang diberitakan oleh Rasulullah bahwa do’a-do’a tersebut kemungkinan (besar) dikabulkan atau mengandung nama Allah yang paling agung…”[10].

– Hadits-hadits lain dari Rasulullah yang menyebutkan keutamaan mengangkat tangan ketika berdoa sangat banyak, sehingga para ulama menegaskan bahwa ini termasuk hadits yang mutawatir ditinjau dari segi maknanya[11]. Imam as-Suyuthi bahkan mengatakan bahwa mengangkat tangan ketika berdo’a disebutkan dalam sekitar seratus hadits dari Rasulullah [12].

 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

 

Kota Kendari, 5 DzulQa’dah 1435 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

[1]HR Abu Dawud (no. 1488), at-Tirmidzi (no. 3556), Ibnu Majah (no. 3865) dan Ibnu Hibban (no. 876). Dalam sanadnya ada perawi yang bernama Ja’far bin Maimun, ada kelemahan pada riwayatnya, akan tetapi hadits ini memiliki banyak jalur yang saling menguatkan. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, Ibnu Hajar dalam “Fathul Baari” (11/147), Ibnul Qayyim dan al-Albani (Mukhtasharul ‘uluw, hal. 75).

[2]Lihat Kitab “Fiqhul ad’iyati wal adzkaar” (2/175).

[3] Dalam kitab “ash-Shawaa’iqul mursalah” (4/1499).

[4] Dalam kitab “Tafsiirul asma-illahil husna” (hal. 40).

[5] Dalam kitab “al-Qawaa-idul mutsla” (hal. 42).

[6] Dalam kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 302).

[7]Kitab “Syarhul qashiidatin nuuniyyah” (2/80).

[8]Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (4/252).

[9]Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/228).

[10]Kitab “al-Jawaabul kaafi” (hlmn 5).

[11]Lihat Kitab “Tuhfatul ahwadzi” (2/172).

[12]Lihat Kitab “Tadriibur Raawi” (2/180).

Hadits Palsu Tentang Tawassul

بسم الله الرحمن الرحيم

Hadits Palsu Tentang Tawassul

رُوِيَ عن النبي أنه قال: (( توسلوا بجاهي فإن جاهي عند الله عظيم ))

Diriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau bersabda: “Bertawassullah[1] kalian (kepada Allah) dengan kedudukanku, karena sesungguhnya kedudukanku di sisi Allah sangat agung”.

Hadits ini banyak disebarluaskan oleh orang-orang awam yang bodoh, padahal hadits ini adalah hadits yang palsu dan didustakan atas nama Rasulullah , bahkan tidak ada asal-usulnya dalam kitab-kitab hadits yang menjadi sandaran para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah.

Hadits ini juga diriwayatkan dengan lafazh lain: “Jika kalian memohon kepada Allah maka memohonlah dengan kedudukanku, karena sesungguhnya kedudukanku di sisi Allah sangat agung”. Continue reading