Memahami Makna “Kedekatan” dan “Kebersamaan” Allah

Memahami aqidah Islam dan iman kepada Allah  dengan benar merupakan sebab utama sempurnanya amal kebaikan dan bertambahnya kemuliaan diri seorang hamba lahir dan batin. Karena keimanan yang benar dan keyakinan yang lurus dalam hati merupakan motivator dan pendorong kuat bagi seluruh anggota badan untuk melakukan amal-amal kebaikan dan ketaatan kepada Allah .

Oleh karena itu, Rasulullah  menggambarkan baik atau buruknya perbuatan anggota badan manusia, setelah taufik dari Allah , sangat bergantung kepada baik atau buruknya keyakinan dan keimanan yang terdapat di dalam hatinya[1]. Rasulullah  bersabda:

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia”[2]. Continue reading

Menjadi Hamba Allah Sejati

Penghambaan diri kepada Allah  atau al-‘ubudiyyah adalah kedudukan manusia yang paling tinggi di sisi Allah . Karena dalam kedudukan ini, seorang manusia benar-benar menempatkan dirinya sebagai hamba Allah  yang penuh dengan kekurangan, kelemahan dan ketergantungan kepada Rabb-nya, serta menempatkan dan mengagungkan Allah  sebagai Rabb yang maha sempurna, maha kaya, maha tinggi dan maha perkasa.

Allah  berfirman:

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ}

“Wahai manusia, kamulah yang bergantung dan butuh kepada Allah; sedangkan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (QS Faathir: 15).

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa manusia pada zatnya butuh dan bergantung kepada Allah  untuk memenuhi kebutuhan mereka lahir dan batin, dalam semua arti kebutuhan dan ketergantungan, baik itu disadari oleh mereka maupun tidak. Oleh karena itu, hamba-hamba Allah  yang beriman dan selalu mendapat limpahan taufik-Nya, mereka selalu mempersaksikan ketergantungan dan kebutuhan ini dalam semua urusan dunia maupun agama. Maka mereka selalu merendahkan diri dan memohon dengan sungguh-sungguh agar Dia  senantiasa menolong dan memudahkan segala urusan mereka, serta tidak menjadikan mereka bersandar kepada diri mereka sendiri meskipun hanya sekejap mata[1]. Mereka inilah yang selalu mendapatkan pertolongan dan limpahan taufik dari Allah [2]. Continue reading

Hadits Palsu Tentang Larangan Bersafar di Hari Jum’at

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ  : (( مَنْ سَافَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ دَعَا عَلَيْهِ مَلَكَاهُ أَنْ لَا يُصَاحَبَ فِي سَفَرِهِ وَلَا تُقْضَى لَهُ حَاجَةٌ ))

Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah  bersabda: “Barangsiapa yang bersafar (melakukan perjalanan jauh) pada hari Jum’at, maka kedua Malaikat (yang selalu menyertai)nya akan mendoakan keburukan baginya agar dia tidak disertai dalam safarnya dan keperluannya tidak terpenuhi”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam al-Khathib al-Bagdadi[1] dan dinukil oleh Imam adz-Dzahabi[2] dari jalur al-Husain bin ‘Ulwan, dari Imam Malik, dari az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah .

Hadits ini adalah hadits palsu, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama al-Husain bin ‘Ulwan al-Kalbi, dia adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits. Imam Yahya bin Ma’in berkata tentangnya: “Dia adalah seorang pendusta”. Imam Abu Hatim ar-Razi, an-Nasa-i dan ad-Daraquthni berkata: “Dia ditinggalkan (riwayat haditsnya karena kelemahannya yang sangat parah)”. Imam Ibnu Hibban berkata: “Dia selalu memalsukan hadits atas (nama) Hisyam (bin ‘Urwah) dan imam-imam lainnya”[3].

Hadits ini oleh Imam adz-Dzahabi dinyatakan sebagai hadits palsu yang didustakan atas nama Imam Malik oleh rawi tersebut di atas[4]. Pernyataan ini dibenarkan oleh Imam al-‘Iraqi[5], Ibnu Hajar al-‘Asqalani[6], asy-Syaukani[7] dan Syaikh al-Albani[8].

Hadits yang semakna juga diriwayatkan dari Shahabat lain, ‘Abdullah bin ‘Umar , dari Rasulullah . Dikeluarkan oleh Imam ad-Daraquthni dalam kitab “al-Afraad”[9].

Hadits ini derajatnya lemah, karena dalam sanadnya ada ‘Abdullah bin Lahi’ah, rawi ini lemah dan buruk hafalannya setelah kitab-kitabnya terbakar[10].

Hadits ini diisyaratkan kelemahannya oleh Imam al-‘Iraqi[11] dan Ibnu Hajar al-‘Asqalani[12] karena adanya rawi tersebut. Juga dihukumi sebagai hadits yang lemah oleh Syaikh al-Albani[13]. Bahkan Syaikh al-Albani menyebutkan kemungkinan bahwa asal hadits ini adalah ucapan seorang Imam dari kalangan Tabi’in, Hassan bin ‘Athiyyah[14], kemudian diriwayatkan secara keliru oleh ‘Abdullah bin Lahi’ah dari sabda Rasulullah , karena buruknya hafalannya. Maka penjelasan ini semakin memperkuat kelemahan riwayat ini.

Hadits yang semakna dengan sedikit tambahan lafazh juga diriwayatkan dari Abu Hurairah  dengan sanad yang berbeda. Dikeluarkan oleh Imam Ibnu ‘Adi dalam kitab “al-Kaamil fi dhu’afaa-ir rijaal” (3/289).

Hadits ini juga palsu, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama Sulaiman bin ‘Isa bin Najih as-Sijzi, Imam Ibnu ‘Adi berkata: “Dia memalsukan hadits”[15].

Kesimpulannya, hadits tentang larangan bersafar pada hari jum’at ini, dari semua jalur periwayatannya, adalah hadits yang sangat lemah bahkan palsu. Maka tidak bisa dijadikan sebagai sandaran dan argumentasi untuk menetapkan larangan bersafar pada hari Jum’at.

Hukum asal bersafar pada hari Jum’at adalah mubah (boleh) karena tidak ada satupun dalil yang shahih yang menyebutkan larangannya[16], bahkan Imam Ibnu Abi Syaibah menukil ucapan Imam az-Zuhri yang mengatakan bahwa Rasulullah  pernah bersafar pada hari Jum’at. Akan tetapi riwayat ini mursal (terputus) karena Imam az-Zuhri tidak pernah bertemu dengan Rasulullah , sehingga riwayat ini derajatnya lemah[17].

Dalil yang lebih kuat tentang hal ini adalah atsar (riwayat) dari Shahabat yang mulia, ‘Umar bin al-Khattab . Dikeluarkan oleh Imam ‘Abdur Razzaq dalam kitab “al-Mushannaf” (3/250) dan al-Baihaqi dalam kitab “as-Sunan al-Kubra” (3/184 dan 187) dengan sanad mereka berdua, bahwa ‘Umar bin al-Khattab  pernah melihat seorang laki-laki dengan persiapan untuk bersafar, lalu laki-laki itu berkata: kalau hari ini bukanlah hari Jum’at niscaya aku akan bersafar. Maka ‘Umar  berkata: “Keluarlah (pergilah bersafar)! Karena sesungguhnya hari Jum’at tidak menghalangi (orang yang) bersafar”. Atsar ini sanadnya shahih, sebagaimana ucapan Syaikh al-Albani[18].

Kebolehan bersafar pada hari Jum’at adalah pendapat mayoritas ulama dan sejumlah Shahabat y. Inilah pendapat yang terkuat dalam masalah ini berdasarkan dalil dan penjelasan yang kami sebutkan di atas. Dan dikecualikan dalam hal ini, ketika telah dimulai pelaksanaan shalat Jum’at, maka bagi orang yang wajib menunaikan shalat Jum’at harus menghadirinya dan dilarang bersafar pada waktu itu, kecuali jika ada alasan yang dibenarkan dalam syariat Islam[19], wallahu a’lam.

 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 19 Rajab 1435 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

[1] Dalam kitab “Asma-ur ruwaati ‘an Maalik”, dinukil oleh Imam asy-Syaukani dalam kitab “Nailul authaar” (3/281).

[2] Dalam kitab “Miizaanul i’tidaal” (1/543).

[3] Semua dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab “Miizaanul i’tidaal” (1/542).

[4] Lihat kitab “Miizaanul i’tidaal” (1/543).

[5] Sebagaimana yang dinukil oleh oleh Imam asy-Syaukani dalam kitab “Nailul authaar” (3/281).

[6] Lihat kitab “Lisaanul miizaan” (2/300).

[7] Dalam kitab “Nailul authaar” (3/281).

[8] Dalam kitab “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifah wal maudhuu’ah” (1/386, no. 219).

[9] Sebagaimana yang dinukil oleh oleh Imam Ibnu Hajar dalam kitab “Talkhiishul habiir” (2/66).

[10] Lihat kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 319) dan “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifah wal maudhuu’ah” (1/385).

[11] Dalam “Tahriiji ahadiitsil Ihyaa’” (1/145).

[12] Dalam kitab “Talkhiishul habiir” (2/66).

[13] Dalam kitab “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifah wal maudhuu’ah” (1/385, no. 218).

[14] Dikeluarkan oleh Imam bnu Abi Syaibah dalam kitab “al-Mushannaf” (1/443) dengan sanad yang shahih.

[15] Kitab “al-Kamiil fi dhu’afaa-ir rijaal” (3/289).

[16] Lihat keterangan Imam asy-Syaukani dalam kitab “Nailul authaar” (3/281).

[17] Lihat kitab “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifah wal maudhuu’ah” (1/386-387).

[18] Kitab “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifah wal maudhuu’ah” (1/387).

[19] Lihat keterangan Imam asy-Syaukani dalam kitab “Nailul authaar” (3/281).

Hadits Yang Sangat Lemah Tentang Hajar Aswad Sebagai Tangan Kanan Allah Di Bumi

عن جابر بن عبد الله  أن رسول الله  قال: « الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ يَمِينَ اللّهِ فِي الْأَرْضِ يُصَافِحُ بِهَا عِبَادَهُ »

Dari Jabir bin ‘Abdillah  bahwa Rasulullah  bersabda: “Hajar aswad adalah tangan kanan Allah di Bumi yang dengannya Allah menjabat tangan hamba-hamba-Nya”

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu ‘Adi[1], al-Khathib al-Bagdadi[2], dan Ibnul Jauzi[3] dari Jalur Ishaq bin Bisyr al-Kahili, dari Abu Ma’syar al-Mada-ini, dari Muhammad bin al-Munkadir, dari Jabir bin ‘Abdillah , dari Rasulullah .

Hadist ini derajatnya sangat lemah, bahkan sebagian dari para ulama Ahli hadist menghukuminya sebagai hadits yang palsu. Karena di dalam sanadnya ada rawi yang bernama Ishaq bin Bisyr al-Kahili, dia dinyatakan sebagai pendusta oleh Imam Abu Bakr bin Abi Syaibah, Musa bin Harun dan Abu Zur’ah ar-Razi, sedangkan Imam ad-Daraquthni[4] dan Ibnu ‘Adi[5] mengatakan bahwa dia termasuk pemalsu hadits Rasulullah . Continue reading

Hadits Palsu Tentang Ilmu Ladunni

عن أنس بن مالك  أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((مَنْ عَمِلَ بِمَا يَعْلَمْ وَرَّثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لمَ ْيَعْلَمْ)) رواه أبو نعيم

Dari Anas bin Malik    bahwa Rasulullah  bersabda: “Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya maka Allah akan mewariskan untuknya ilmu yang belum diketahuinya”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam kitab “Hilyatul auliyaa’” (10/14-15) dari jalur Imam Ahmad bin Hambal, dari Yazid bin Harun, dari Humaid ath-Thawil, dari Anas bin Malik, dari Rasulullah .

Hadits ini adalah hadits palsu yang dipalsukan atas nama Imam Ahmad bin Hambal, yang memalsukannya adalah salah seorang dari para rawi antara Imam Abu Nu’aim dan Imam Ahmad bin Hambal[1]. Continue reading

Keutamaan Pasangan Suami-Istri Yang Selalu Tolong-menolong Dalam Kebaikan

     عَن أَبِي هُرَيْرَةَ  قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  : « رَحِمَ اللَّهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ ، رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا ، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ » رواه أبو داود وغيره

     Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah  bersabda: “Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di malam, hari lalu dia melaksanakan shalat (malam), kemudian dia membangunkan istrinya, kalau istrinya enggan maka dia akan memercikkan air pada wajahnya (supaya terbangun). Dan semoga Allah merahmati seorang perempuan yang bangun di malam hari, lalu dia melaksanakan shalat (malam), kemudian dia membangunkan suaminya, kalau suaminya enggan maka dia akan memercikkan air pada wajahnya (supaya terbangun)”[1].

Hadits yang mulia ini menunjukkan besarnya keutamaan pasangan suami istri yang selalu saling memotivasi dan mnasehati dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah , dalam rangka mengamalkan firman Allah :

{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ}

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS al-Maaidah: 2)[2].

Beberapa faidah penting yang dapat kita petik dari hadits ini:

– Sebaik-baik pemberian dan usaha kebaikan untuk orang-orang yang kita cintai dan keluarga kita adalah ajakan dan nasehat untuk taat kepada Allah, karena inilah yang bernilai kekal dan menyelamatkan dari kebinasaan abadi di akhirat nanti. Allah  berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ}

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).

Ali bin Abi Thalib  ketika menafsirkan ayat di atas berkata: “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu”[3].

– Tolong menolong dan saling menasehati dalam kebaikan adalah sebab untuk mendapatkan rahmat dan keberkahan dari Allah  di dunia dan akhirat.

– Sebagaimana ini juga merupakan sebab kekalnya jalinan cinta dan kasih sayang dengan orang-orang yang kita cintai, karena pada hari kiamat nanti, semua bentuk jalinan cinta, kedekatan dan persahabatan akan berubah menjadi permusuhan, kecuali orang-orang yang menjalinnya di atas takwa dan saling menasehati dalam kebaikan. Allah  berfirman:

{الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ}

“Orang-orang yang berkasih sayang pada waktu itu (di akhirat) menjadi musuh satu sama lainnya, kecuali orang-orang yang bertaqwa” (QS az-Zukhruf:67).

Ayat ini menunjukkan bahwa semua jalinan cinta dan kasih sayang di dunia yang bukan karena Allah, maka di akhirat nanti berubah menjadi kebencian dan permusuhan, dan yang kekal abadi hanyalah jalinan cinta dan kasih sayang karena-Nya[4].

– Nasehat dan ajakan untuk berbuat baik dilakukan dengan cara yang lemah lembut[5] dan tidak dengan cara yang keras, kecuali dalam kondisi tertentu dan dengan pertimbangan untuk mendatangkan kebaikan yang lebih besar.

– Hadits ini menunjukkan bahwa memaksa seseorang untuk berbuat kebaikan diperbolehkan bahkan dianjurkan, jika tidak menimbulkan keburukan yang lebih besar[6].

– Imam ath-Thiibi ketika mengomentari hadits ini, beliau berkata: “Barangsiapa yang mendapatkan kebaikan maka semestinya dia menginginkan (kebaikan) untuk orang lain sebagaimana dia menginginkannya untuk dirinya sendiri, dengan memulai (mengusahakan kebaikan tersebut) dari orang-orang yang paling terdekat (dengannya)”[7].

 

 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 28 Rabi’ul awal 1435 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

 


[1] HR Abu Dawud (no. 1308), an-Nasa-i (3/205), Ahmad (2/250), Ibnu Khuzaimah (2/183), Ibnu Hibban (6/306) dan al-Hakim (1/453), dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Hakim dan syaikh al-Albani.

[2] Lihat kitab “’Aunul Ma’bud” (4/228).

[3] Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam “al-Mustadrak” (2/535), dishahihkan oleh al-Hakim sendiri dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

[4] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/170).

[5] Lihat kitab “’Aunul Ma’bud” (4/228).

[6] Lihat kitab “’Aunul Ma’bud” (4/228).

[7] Dinukil oleh Imam al-Munawi dalam kitab “Faidhul Qadiir” (4/25).