Keutamaan Memberi Tangguh Atau Membebaskan Orang Yang Kesusahan Membayar Utang

     عن أبي هريرة  قال: قال رسول الله : « مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ لَهُ، أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلُّهُ »

     Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah  bersabda: “Barangsiapa yang memberi tangguh kepada orang yang kesusahan (membayar utang) atau membebaskannya, maka Allah akan menaunginya dalam naungan (Arsy)-Nya pada hari (Kiamat) yang tidak ada naungan selain naungan (Arsy)-Nya”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan besar memberi tangguh bagi orang yang memiliki utang dan kesulitan melunasi utangnya, lebih utama lagi membebaskan pembayaran utang tersebut, seluruhnya atau sebagiannya[2].

Inilah yang diperintahkan dalam firman Allah :

{وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ}

“Dan jika (orang yang berhutang kepadamu itu) dalam kesusahan, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” (QS al-Baqarah :280).

Hadits-hadits shahih lainnya yang menggambarkan keutamaan ini banyak sekali di antaranya:

– Dari Buraidah  bahwa Rasulullah  bersabda: “Barangsiapa yang memberi tangguh kepada orang yang kesusahan (membayar utang) sebelum tiba waktu (pembayaran) utang, maka orang yang memberi tangguh itu mendapatkan (pahala) bersedekah setiap hari seperti (sejumlah) utang tersebut. Dan ketika tiba waktu (pembayaran) utang tersebut lalu dia memberi tangguh, maka maka orang itu mendapatkan (pahala) bersedekah setiap hari seperti dua kali (jumlah) utang tersebut”[3].

– Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah  bersabda: “Ada seorang laki-laki (dari Bani Israil) yang selalu memberi utang kepada orang lain, dan dia berkata kepada pembantunya: “Jika kamu datang (menagih utang) kepada seorang yang kesusahan maka bebaskanlah dia (dari utangnya), semoga (dengan itu) Allah akan membebaskan (mengampuni dosa-dosa) kita”. Kemudian dia (mati dan) bertemu Allah maka Allah mengampuni (dosa-dosa)nya”[4].

Beberapa faidah penting yang dapat kita petik dari hadits di atas:

– Keutamaan memberi pinjaman/utang dengan baik kepada orang yang membutuhkan

– Anjuran bersikap lunak dan berlaku lemah lembut terhadap orang yang memiliki tanggungan utang

– Memberi tangguh orang yang kesulitan membayar utang atau membebaskannya termasuk sebab mendapatkan naungan Arsy Allah  pada hari Kiamat, maka hadits shahih yang menyebutkan bahwa ada tujuh golongan yang mendapatkan keutamaan ini[5], bukanlah berarti pembatasan hanya tujuh golongan saja, karena ada hadits-hadits lain yang menyebutkan golongan manusia lainnya, di antaranya hadits ini[6].

– Rasulullah  bersabda: “Barangsiapa yang membantu seorang muslim (dalam) suatu kesusahan di dunia maka Allah akan menolongnya dalam kesusahan pada hari kiamat, dan barangsiapa yang meringankan (beban) seorang muslim yang sedang kesulitan maka Allah akan meringankan (bebannya) di dunia dan akhirat”[7].

– Hadits ini juga menunjukkan makna sebuah kaidah besar dalam Islam, yaitu ‘al-jaza-u min jinsil ‘amal (balasan yang didapat seorang hamba adalah sesuai dengan jenis perbuatannya), karena meringankan beban seorang muslim berarti berbuat kebaikan kepadanya, dan balasan kebaikan adalah kebaikan yang semisalnya. Allah  berfirman:

{هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلا الإحْسَانُ}

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)” (QS ar-Rahmaan: 60)[8].

 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 28 Rabi’ul awal 1435 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

 


[1] HR Ahmad (2/359) dan at-Tirmidzi (3/599), dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani.

[2] Lihat kitab “Riyaadhush shaalihiin” (hal. 1739) dan “Tauhfatul ahwadzi” (4/444).

[3] HR Ahmad (2/360) dan lain-lain, dinyatakan shahih Syaikh al-Albani dalam kiatb “ash-Shahiihah” (no. 86).

[4] HSR al-Bukhari (no. 1972 dan 3293) dan Muslim (no. 1562).

[5] HSR al-Bukhari (no. 1357) dan Muslim (no. 1031).

[6] LIhat kitab “Faidhul Qadiir” (4/89).

[7] HSR Muslim (no. 2699).

[8] Lihat kitab “tuhfatul ahwadzi” (4/574).

Hadits Palsu Tentang Menuntut Ilmu Ke Negeri China

     عن أنس بن مالك  ، قال : قال رسول الله  : « اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ »

     Dari Anas bin Malik  bahwa Rasulullah  bersabda: “Tuntutlah ilmu walaupun (sampai ke negeri) China”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam al-‘Uqaili dalam “adh-Dhu’afaa’” (2/230), Ibnu ‘Adi dalam “al-Kamil fidh dhu’afaa’” (4/118), Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam “Tarikh Ashbahan” (2/106), al-Baihaqi dalam “al-Madkhal ilas sunanil kubra” (1/244) dan “Syu’abul iman” (no. 1612), al-Khathib al-Bagdadi dalam “Tarikh Bagdad” (9/363), Ibnu ‘Abdil Barr dalam “Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlih” (1/14-15) dan Ibnul Jauzi dalam “al-Maudhuu’aat” (1/215), dengan sanad mereka semua dari jalur Abu ‘Atikah Tharif bin Sulaiman, dari Anas bin Malik, dari Rasulullah .

Hadits ini adalah hadits yang palsu dan batil (rusak), karena rawi yang bernama Abu ‘Atikah Tharif bin Sulaiman adalah rawi yang disepakati kelemahannya, bahkan sebagian dari para Ulama ahli hadits menyifatinya sebagai pemalsu hadits Rasulullah .

Imam al-Bukhari dan Abu Hatim ar-Razi menyatakan bahwa hadits riwayatnya sangat lemah[1]. Imam as-Sulaimani menyatakan bahwa rawi ini dikenal sebagai pemalsu hadits[2].

Imam al-‘Uqaili berkata: “Dia ditinggalkan (riwayat) haditsnya (karena kelemahannya yang fatal)”[3].

Imam Ibnu Hibban berkata: “Hadits (riwayat)nya sangat mungkar (karena kelemahannya yang fatal)[4].

Para ulama ahli hadits telah menegaskan bahwa hadits ini adalah hadits palsu atau minimal sangat lemah.

Imam al-Bazzar berkata: “Hadits ini tidak ada asalnya (palsu)”[5].

Imam Ibnu Hibban berkata: “Hadits ini batil (palsu) dan tidak ada asal-usulnya”[6].

Demikian pula para Imam lainnya menghukumi hadits ini sebagai hadits palsu atau sangat lemah, seperti al-‘Uqali, Ibnu ‘Adi, al-Baihaqi[7], as-Sakhawi[8], asy-Syaukani[9] dan al-Albani[10].

 

Hadits yang semakna juga diriwayatkan dari jalur lain dari Anas bin Malik . Dikeluarkan oleh Imam Ibnu ‘Abdil Barr dalam “Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlih” (1/21). Tapi hadits ini juga palsu, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim al-‘Asqalani, Imam adz-Dzahabi berkata tentangnya: “(Dia adalah) pendusta”[11].

Juga diriwayatkan dari shahabat lain, Abu Hurairah , dikeluarkan oleh Imam Ibnu ‘Adi dalam “al-Kamil fidh dhu’afaa’” (4/177). Hadits ini juga palsu, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama Ahmad bin Abdillah al-Juwaibari, Imam an-Nasa-i dan ad-Daraquthni berkata tentangnya: “(Dia adalah) pendusta”[12]. Imam Ibnu ‘Adi menyifatinya sebagai pemalsu hadits[13].

Imam Ibnu ‘Adi berkata, setelah membawakan hadits ini: “Hadits ini dengan sanad ini adalah batil (palsu)”[14].

 

Kesimpulannya, Hadits ini adalah hadits palsu atau minimal sangat lemah dari semua jalur periwayatannya. Imam al-Baihaqi berkata: “Hadits ini diriwayatkan dari berbagai jalur dan semuanya lemah”[15]. Demikian pula Syaikh al-Albani menyatakan bahwa hadits ini palsu dan batil dari semua jalur periwayatannya[16].

Kemudian, dari segi makna, hadits ini juga mengandung makna yang patut dipertanyakan. Karena negeri China bukanlah negeri yang dikenal sebagai negeri Islam dan tempat menuntut ilmu agama. Kalaupun ada ilmu di sana, maka hanyalah ilmu-ilmu dunia yang tidak mungkin diperintahkan dan diwajibkan untuk menuntutnya dengan bersuasah payah dan menempuh perjalanan jauh, seperti yang disebutkan dalam hadits ini[17].

Pada asalnya, ilmu yang diperintahkan untuk dituntut dalam Islam dan ditekankan kewajibannya adalah ilmu agama, yaitu ilmu tentang petunjuk Allah  dan petunjuk Rasul-Nya  untuk memperbaiki iman dan ibadah kepada Allah . Inilah ilmu yang dipuji dan diperintahkan dalam Islam[18].

Rasulullah  bersabda: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah akan menjadikannya paham tentang agama Islam”[19].

Juga sabda beliau : “Sesungguhnya para Nabi  tidak mewariskan uang emas atau uang perak, tapi yang mereka wariskan hanyalah ilmu (agama Islam), maka barangsiapa yang mengambil (warisan tersebut) berarti sungguh dia telah mengambil bagian yang sempurna”[20].

Kedua hadits ini menunjukkan bahwa ilmu yang diperintahkan untuk dipelajari dan menjadi rujukan dalam Islam, pada asalnya, adalah ilmu agama yang bersumber dari wahyu Allah  dan dibawa oleh Rasulullah .

Adapun ilmu-ilmu dunia, maka kedudukan dan hukumnya mengikuti apa yang dijelaskan dalam ilmu agama. Artinya ilmu-ilmu tersebut dianjurkan atau diperintahkan untuk dipelajari jika digunakan untuk kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat bagi kaum muslimin, tapi sebaliknya, jika tidak demikian, maka ilmu-ilmu tersebut dilarang dalam Islam.

 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 26 Rabi’ul awal 1435 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni


[1] Kitab “Tahdziibut tahdziib” (12/158).

[2] Ibid.

[3] Kitab “adh-Dhu’afaa’” (2/230).

[4] Kitab “al-Majruuhiin” (1/382).

[5] Kitab “Musnad al-Bazzar” (1/175).

[6] Dinukil oleh Imam Ibnul Jauzi dalam kitab “al-Mauduu’aat” (1/216).

[7] Dalam kitab-kitab mereka di atas.

[8] Kitab “al-Maqaashidul hasanah” (hal. 121).

[9] Kitab “al-Fawaa’idul majmuu’ah” (hal. 272).

[10] Kitab “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifati wal maudhuu’ah” (1/600, no. 416).

[11] Kitab “Miizaanul i’tidaal” (4/449).

[12] Dinukil oleh Imam Ibnu Hajar dalam kitab “Lisaanul miizaan” (1/193).

[13] Kitab “al-Kaamil fidh dhu’afaa’” (1/177).

[14] Ibid.

[15] Kitab “Syu’abul iman” (4/174).

[16] Kitab “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifati wal maudhuu’ah” (1/604).

[17] Lihat penjelasan makna hadits ini dalam kitab “Faidhul Qadiir” (1/542).

[18] Lihat penjelasan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin dalam kitab “al-‘Ilmu” (hal. 9).

[19] HSR al-Bukhari (no. 71) dan Muslim (no. 1037).

[20] HR Abu Dawud (no. 3641), at-Tirmidzi (no. 2682) dan Ibnu Majah (no. 223), dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Hibban (no. 88) dan Syaikh al-Albani.