Ridha dan Yakin Bahwa Pilihan Allah Adalah Yang Terbaik Bagi Hamba

بسم الله الرحمن الرحيم

     Imam adz-Dzahabi[1] dan Ibnu Katsir[2] menukil dalam biografi shahabat yang mulia dan cucu kesayangan Rasulullah , al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib , bahwa pernah disampaikan kepada beliau  tentang ucapan shahabat Abu Dzar : “Kemiskinan lebih aku sukai daripada kekayaan dan (kondisi) sakit lebih aku sukai daripada (kondisi) sehat”. Maka al-Hasan bin ‘Ali  berkata: “Semoga Allah merahmati Abu Dzar, adapun yang aku katakan adalah: “Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu (selain keadaan yang Allah  pilihkan untuknya). Inilah batasan (sikap) selalu ridha (menerima) segala ketentuan takdir (Allah ) dalam semua keadaan (yang Allah ) berlakukan (bagi hamba-Nya)”.

Atsar (riwayat) shahabat di atas menggambarkan tingginya pemahaman Islam para shahabat y dan keutamaan mereka dalam semua segi kebaikan dalam agama[3]. Continue reading

Keutamaan Mengaminkan Bacaan Al_Fatihah Imam Dengan Benar

عَن ْأَبِى هُرَيْرَة َ أَنَّ النَّبِىَّ  قَالَ: «إِذَا أَمَّنَ الإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُه ُتَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَلَهُ مَا تَقَدَّم َمِنْ ذَنْبِهِ»

Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah  bersabda: “Jika imam mengucapkan ‘amiin’ (setelah membaca surah al-Fatihah) maka ucapkanlah ‘amiin’, karena sesungguhnya barangsiapa yang mengucapkan ‘amiin’ bersesuaian dengan ucapan ‘amiin’ para Malaikat maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan mengucapkan ‘amiin’ bagi makmum setelah imam membaca surah al-Fatihah dalam shalat berjama’ah, bersamaan/mengikuti ucapan ‘amiin’ yang dibaca oleh imam pada waktu itu, tidak mendahului atau terlambat darinya[2].

Imam Ibnul Munir berkata: “Keutamaan apa yang lebih besar dari ucapan ringan dan tanpa beban ini, tapi menyebab Continue reading

Keutamaan Sholat Khusyu

     عَنْ أَنَسٍ t قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : « حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاةِ »

     Dari Anas bin Malik t bahwa Rasulullah  bersabda: “Allah menjadikan aku mencintai dari (urusan-urusan) dunia (yaitu kepada) perempuan (istri-istri beliau ) dan minyak wangi, tapi Allah menjadikan qurratul ‘ain (penyejuk/penghibur hati) bagiku pada (waktu aku melaksanakan) shalat”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan besar bagi seorang hamba yang melaksanakan shalat sesuai dengan petunjuk yang diturunkan Allah  kepada Rasul-Nya , dan bahwa inilah yang menjadi sumber kebahagiaan utama bagi hati manusia. Continue reading

Hadits Palsu Tentang Tercelanya Memiliki Keturunan

     عن ابن عباس  قال: قال رسول الله: ((لأَنْ يُرَبِّي أَحَدُكُمْ بَعْدَ أَرْبَعٍ وَخَمْسِينَ وَمِائَةٍ جَرْوَ كَلْبٍ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يُرَبِّيَ وَلَدًا لِصُلْبِهِ))

     Dari Ibnu ‘Abbas  beliau berkata: Rasulullah  bersabda: “Setelah seratus lima puluh empat (tahun nanti) sungguh jika salah seorang di antara kamu memelihara seekor anak anjing lebih baik baginya daripada memelihara anak kandungnya”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabir” (10/288), Tamam ar-Razi dalam “al-Fawa-id”, dan dari jalur beliau Ibnu ‘Asa-kir dalam “Tarikh Dimasyq” (23/357-358), semuanya dari jalur Abul Mugirah, dari ‘Abdullah bin as-Samth, dari Shalih bin ‘Ali bin ‘Abdillah bin ‘Abbas al-Hasyimi, dari ayahnya, dari kakeknya ‘Abdullah bin ‘Abbas , dari Rasulullah .

Hadits ini adalah hadits yang dihukumi sebagai hadits palsu oleh para ulama, dalam sanadnya ada dua rawi yang tidak dikenal keadaannya (majhulul hal), yaitu ‘Abdullah bin as-Samth dan Shalih bin ‘Ali, salah satu atau mereka berdualah yang menjadi sumber hadits palsu ini. Continue reading

Hadits Lemah Tentang Janji Adalah Utang

     عن علي بن أبي طالب وعبد الله بن مسعود  أن النبي  قال : « الْعِدَةُ دَيْنٌ »

     Dari ‘Ali bin Abi Thalib  dan ‘Abdullah bin Mas’ud , bahwa Rasulullah  bersabda: “Janji adalah utang”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul ausath” (no. 3513 dan 3514) dan “al-Mu’jamush shagiir” (no. 419), Imam Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam “Akhbar Ashbahan (no. 1527), Ibnu ‘Asa-kir dalam “Tarikh Dimasyq” (52/293) dan Imam al-Qudha-‘i dalam “Musnad asy-Syihab” (1/40, no. 7), semuanya dari jalur Sa’id bin Malik bin ‘Isa, dari ‘Abdullah bin Muhammad bin Abil Asy’ats, dari al-A’masy, dari Ibrahim an-Nakha’i, dari ‘Alqamah dan al-Aswad, dari ‘Ali bin Abi Thalib  dan ‘Abdullah bin Mas’ud , dari Rasulullah .

Hadits ini adalah hadits yang lemah, dalam sanadnya ada rawi yang bernama ‘Abdullah bin Muhammad bin Abil Asy’ats, Imam adz-Dzahabi berkata tentangnya: “Dia meriwayatkan hadits yang mungkar, aku tidak mengenalnya”[1]. Ucapan beliau ini dibenarkan oleh Imam Ibnu Hajar[2]. Continue reading