Hakikat Tasawwuf

Pendahuluan

Istilah “sufi” atau “tasawwuf” tentu sangat dikenal dikalangan kita, terlebih lagi dikalangan masyarakat awam, istilah ini sangat diagungkan dan selalu diidentikkan dengan kewalian, kezuhudan dan kesucian jiwa. Bahkan mayoritas orang awam beranggapan bahwa seseorang tidak akan bisa mencapai hakikat taqwa tanpa melalui jalan tasawwuf. Opini ini diperkuat dengan melihat penampilan lahir yang selalu ditampakkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai ahli tasawwuf, berupa pakaian lusuh dan usang, biji-bijian tasbih yang selalu di tangan dan bibir yang selalu bergerak melafadzkan dzikir, yang semua ini semakin menambah keyakinan orang-orang awam bahwasanya merekalah orang-orang yang benar-benar telah mencapai derajat wali (kekasih) Allah .

Sebelum kami membahas tentang hakikat tasawwuf yang sebenarnya, kami ingin mengingatkan kembali bahwa penilaian benar atau tidaknya suatu pemahaman bukan cuma dilihat dari pengakuan lisan atau penampilan lahir semata, akan tetapi  yang menjadi barometer adalah sesuai tidaknya pemahaman tersebut dengan Al-Qur’an dan As Sunnah menurut pemahaman para ulama salaf (ahlus sunnah wal jama’ah). Sebagai bukti akan hal ini kisah khawarij, kelompok yang pertama menyempal dalam islam yang diperangi oleh para shahabat Rasulullah   dibawah pimpinan ‘Ali Bin Abi Thalib   berdasarkan perintah Rasulullah  . Padahal kalau kita melihat pengakuan lisan dan penampilan lahir kelompok khawarij ini maka tidak akan ada seorangpun yang menduga bahwa mereka menyembunyikan penyimpangan dan kesesatan yang besar dalam batin mereka,  sebagaimana yang digambarkan Rasulullah   ketika beliau menjelaskan ciri-ciri kelompok khowarij ini, beliau   bersabda: “…Mereka (orang-orang khawarij) selalu mengucapkan (secara lahir) kata-kata yang baik dan indah, dan mereka selalu membaca Al Qur’an tapi (bacaan tersebut) tidak melampaui tenggorokan mereka (tidak masuk ke dalam hati mereka)…”([1]), dan dalam riwayat yang lain beliau  bersabda: “… Bacaan Al Qur’an kalian (wahai para sahabatku) tidak ada artinya jika dibandingkan dengan bacaan Al Qur’an mereka, (demikian pula) shalat kalian tidak ada artinya jika dibandingkan dengan shalat mereka, (demikian pula) puasa kalian tidak ada artinya jika dibandingkan dengan puasa mereka”([2]), maka pada hadits yang pertama Beliau  menjelaskan tentang ciri-ciri mereka yang selalu mengucapkan kata-kata yang baik dan indah tapi cuma di mulut saja dan tidak masuk ke dalam hati mereka, dan pada hadits yang ke dua Beliau  menerangkan tentang penampilan lahir mereka yang selalu mereka tampakkan untuk memperdaya manusia, yaitu kesungguhan dalam beribadah yang bahkan sampai kelihatannya melebihi kesungguhan para Sahabat  dalam beribadah (karena memang para Sahabat  berusaha keras untuk menyembunyikan ibadah mereka karena takut tertimpa Riya’) Continue reading

Hadits Palsu Tentang Keutamaan Memakai Pakaian Wol

بسم الله الرحمن الرحيم

     عن أبي أمامة الباهلي  قال: قال رسول الله : (( عليكم بلباس الصوف تجدوا حلاوة الإيمان في قلوبكم وعليكم بلباس الصوف تجدوا قلة الأكل وعليكم بلباس الصوف تعرفون به في الآخرة ))

     Dari Abu Umamah al-Bahili  bahwa Rasulullah  bersabda: “Hendaknya kalian memakai (pakaian dari) wol (bulu domba), maka kalian akan merasakan manisnya iman dalam hati. Hendaknya kalian kalian memakai (pakaian dari) wol (bulu domba), maka kalian akan merasakan (keinginan untuk) sedikit makan. Dan Handaknya kalian memakai (pakaian dari) wol (bulu domba), maka kalian akan dikenal dengan (pakaian) itu di Akhirat (nanti)”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam al-Hakim[1], al-Baihaqi[2], ad-Dailami[3] dan Ibnul Jauzi[4], semuanya dari jalur Muhammad bin Yunus al-Kudaimi, dari ‘Abdullah bin Dawud at-Tammar, dari Isma’il bin ‘Ayyasy, dari Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma’dan, dari Abu Umamah, dari Rasulullah . Continue reading