Kaya Tapi Zuhud, Mungkinkah?

بسم الله الرحمن الرحيم

Kebanyakan orang mengidentikkan sifat zuhud dengan kekurangan dalam harta dan kedudukan dunia, sehingga terkesan bahwa sifat ini hanya mungkin dimiliki oleh orang yang miskin dan tidak memiliki harta. Ironisnya, opini ini menjadikan sebagian orang yang memiliki harta dan kedudukan merasa pesimis untuk mengusahakan sifat mulia ini, karena mereka menganggap sifat ini hanya untuk kalangan yang miskin.

Padahal, kalau mereka mengetahui besarnya keutamaan sifat ini dan tingginya kedudukannya di sisi Allah , maka tidak mungkin mereka akan mengabaikannya.

Cukuplah sabda Rasulullah  berikut ini yang menunjukkan besarnya keutamaan dan kedudukannya: “Bersikap zuhudlah terhadap dunia maka Allah akan mencintaimu dan besikap zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia maka merekapun akan mencintaimu”[1].

Sifat mulia ini merupakan sifat utama generasi terbaik umat ini, para shahabat Rasulullah , yang menjadikan mereka lebih utama dan mulia di sisi Allah  dibandingkan semua generasi yang  datang setelah mereka. Ibnu Mas’ud  berkata: “Kalian lebih banyak berpuasa, (mengerjakan) shalat, dan lebih bersungguh-sungguh (dalam beribadah) dibandingkan para sahabat Rasulullah , tapi mereka lebih baik (lebih utama di sisi Allah ) daripada kalian”. Adayang bertanya: Kenapa (bisa demikian), wahai Abu Abdirrahman? Ibnu Mas’ud  berkata: “Karena mereka lebih zuhud dalam (kehidupan) dunia dan lebih cinta kepada akhirat”[2]. Continue reading

Hadits Dah’if (lemah) Tentang Tahlilan Untuk Orang Mati

     عن أبي هريرة  قال: قال رسول الله : ((زَوِّدوا موتاكم لا إله إلا الله))

     Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah  bersabda: “Bekalilah orang yang meninggal dunia dari kalian dengan (kalimat) laa ilaaha illallah (tidak ada sembahan yang benar selain Allah)”.

Hadits ini dinisbatkan oleh imam as-Suyuthi[1] dan al-Muttaqi al-Hindi[2] kepada imam al-Hakim dalam kitab “at-Taarikh” karya beliau.

Imam Abu Mansur ad-Dailami dalam kitab beliau “Musnadul firdaus”[3] meriwayatkan hadits ini dengan sanad beliau dari jalur imam al-Hakim, dari jalur Ma’an bin ‘Isa, dari Yazid bin ‘Abdil Malik, dari Yazid bin Ruman, dari bapaknya, dari Abu Hurairah .

Hadits ini adalah hadits yang lemah, karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama Yazid bin ‘Abdil Malik an-Naufali, imam Ahmad berkata tentangnya: “Hadits (yang diriwayatkannya) lemah, dia meriwayatkan hadits-hadist yang mungkar (lemah)”. Imam Abu Zur’ah ar-Razi berkata: “Hadits (yang diriwayatkannya) lemah”. Imam Abu Hatim ar-Razi berkata: “Hadits (yang diriwayatkannya) lemah, (riwayat) haditsnya sangat diingkari”. Imam an-Nasa-i berkata: “Dia ditinggalkan (riwayat haditsnya karena kelemahannya yang fatal)”[4]. Imam Ibnu Hajr berkata: “(Riwayat haditsnya) lemah”[5].

Hadits ini dihukumi sebagai hadits yang lemah oleh syaikh al-Albani[6].

Kedudukan hadits ini yang lemah menjadikannya sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai dalil/argumentasi untuk menetapkan keutamaan melakukan tahlilan untuk orang yang meninggal dunia. Di samping itu, banyak ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah  yang justru menegaskan bahwa seorang manusia yang telah meninggal dunia, maka terhentilah amal perbuatannya dan terputuslah aliran pahala untuknya, kecuali amal-amal yang diusahakannya selama hidupnya di dunia. Allah U berfirman:

{أَلاَّ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى. وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى}

“(Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seorang manusia tidak akan memperoleh selain apa yang diusahakannya” (QS an-Najm: 38-39).

Dalam hadits yang shahih, Rasulullah  bersabda: “Jika seorang manusia mati maka terputuslah (pahala) amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah yang terus mengalir (pahalanya karena diwakafkan), ilmu yang terus diambil manfaatnya (diamalkan sepeninggalnya), dan anak shaleh yang selalu mendoakannya”[7].

Bahkan hadits-hadits shahih dari Rasulullah  menjelaskan bahwa kalimat syahadat laa ilaaha illallah (tidak ada sembahan yang benar selain Allah) dan Muhammadur Rasulullahí’ (Nabi Muhammad  adalah rasul/utusan Allah)[8] dianjurkan untuk diucapkan oleh seorang muslim sebelum meninggal dunia dan menjadikan kalimat tersebut sebagai akhir dari ucapannya sebelum menghembuskan nafas yang terakhir. Ini juga termasuk ciri utama orang yang meraih husnul khatimah (meninggal dunia di atas kebaikan)[9].

Dari Mu’adz bin Jabal  dia berkata: Rasulullah  bersabda: “Barangsiapa yang ucapan terakhirnya (sebelum meninggal dunia) kalimat ‘Laa ilaaha illallah’ (tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah) maka dia akan masuk surga”[10].

Oleh karena  itu, dianjurkan bagi seorang muslim untuk menuntun orang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat syahadat ini, agar itu menjadi akhir ucapannya[11], sebagaimana sabda Rasulullah : “Tuntunlah orang yang akan meninggal dunia di antara kalian (untuk mengucapkan kalimat) ‘Laa ilaaha illallah’ (tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah)”[12].

 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

KotaKendari, 14 Jumadal Akhir 1433 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

 

 


[1] Dalam kitab “al-Jaami’ush shagiir” (no. 3179- Dha’iiful jaami’’ush shagiir).

[2] Dalam kitab “Kanzul ‘ummaal” (no. 42579).

[3] Dinukil oleh Ibnu Hajar dalam “al-Gara-ibul multaqathah min musnadil firdaus” (no. 382 – Disertasi S2).

[4] Semua dinukil oleh imam al-Mizzi dalam “tahdziibul kamaal” (32/199).

[5] Kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 559).

[6] Dalam kitab “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifati wal maudhuu’ah” (8/149, no. 3670).

[7] HSR Muslim (no. 1631).

[8] Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (8/267).

[9] Lihat kitab “Ahkaamul jana-iz” (hal. 48).

[10] HR Abu Dawud (no. 3116), Ahmad (5/247) dan al-Hakim (1/503), dinyatakan shahih oleh al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi, dan dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani karena dikuatkan dari jalur dan riwayat lain. Lihat kitab “Irwa-ul galiil” (3/150).

[11] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (4/45) dan “Bahjatun naazhiriin” (2/171).

[12] HSR Muslim (no. 916 dan 917).

Keutamaan Meringankan Beban Seorang Muslim

بسم الله الرحمن الرحيم

     عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ  قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  : « مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ » رواه مسلم

     Dari Abu Hurairah  dia berkata: Rasulullah  bersabda: “Barangsiapa yang membantu seorang muslim (dalam) suatu kesusahan di dunia maka Allah akan menolongnya dalam kesusahan pada hari kiamat, dan barangsiapa yang meringankan (beban) seorang muslim yang sedang kesulitan maka Allah akan meringankan (bebannya) di dunia dan akhirat”[1].

     Hadits yang agung menunjukkan besarnya keutamaan seorang yang membantu meringankan beban saudaranya sesama muslim, baik dengan bantuan harta, tenaga maupun pikiran atau nasehat untuk kebaikan.

     Imam an-Nawawi berkata: “Dalam hadits ini terdapat keutamaan menunaikan/membantu kebutuhan dan memberi manfaat  kepada sesama muslim sesuai kemampuan, (baik itu) dengan ilmu, harta, pertolongan, pertimbangan tentang suatu kebaikan, nasehat dan lain-lain”[2]. Continue reading

Rumah Tanggan Islami, Jalan Meraih Sakinah, Mawaddah Wa Rahmah

لبسم الله الرحمن الرحيم

     Menikah dan berumah tangga merupakan fitrah setiap manusia yang diciptakan oleh Allah  dengan kecenderungan menyukai lawan jenis dan hidup berpasangan. Allah  berfirman:

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا}

“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (QS an-Nisaa’: 1). Continue reading