Jujur dan Amanah Dalam Berniaga, Sumber Keberkahan Harta

بسم الله الرحمن الرحيم

      Keberkahan dan kebaikan harta merupakan dambaan setiap insan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, inilah harta yang akan menolong seorang hamba, dengan taufik dari Allah , untuk meraih kedudukan yang mulia di sisi-Nya.

     Inilah harta yang dipuji oleh Rasulullah  dalam sabda beliau: “Sebaik-baik harta yang shaleh (penuh berkah) adalah untuk seorang (hamba) yang shaleh”[1].

Di antara sebab besar yang menjadikan harta diberkahi Allah  dan menjadi penolong manusia dalam ketaatan, adalah bersikap jujur dan amanah dalam usaha mencari rezki dari Allah , terutama dalam berjual beli dan berniaga.

Kisah berikut ini semoga dapat menjadi teladan bagi kita dalam upaya menjadikan harta yang kita peroleh dari usaha perniagaan diberkahi oleh Allah . Continue reading

Hadits Yang Sangat Lemah Tentang Keutamaan Shalat Dhuha

بسم الله الرحمن الرحيم

     عن أنس بن مالك  قال: قال رسول الله : ((رَكْعَتانِ مِنَ الضُّحَى تَعْدِلاَنِ عِنْدَ اللهِ لحَجَّّةً وَعُمْرَةً مُتَقَبَّلَتَيْنِ))

Dari Anas bin Malik  beliau berkata: Rasulullah  bersabda: “Dua rakaat shalat dhuha (pahalanya) di sisi Allah sebanding dengan haji dan umrah yang diterima (di sisi Allah ).

Hadits ini dinisbatkan oleh imam as-Suyuthi[1] dan al-Muttaqi al-Hindi[2] kepada imam Abu  asy-Syaikh al-Ashbahani dalam kitab beliau “ats-Tsawaab”[3].

Imam Abu Mansur ad-Dailami dalam kitab beliau “Musnadul firdaus”[4] menukil hadits ini dari imam Abu  asy-Syaikh al-Ashbahani dengan sanad beliau dari Mu’alla bin Mahdi, dari Yusuf bin Maimun al-Hanafi, dari Ziyad bin Maimun, Anas bin Malik , dari Rasulullah .

Hadits ini adalah hadits yang sangat lemah atau bahkan palsu, karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama Ziyad bin Maimun al-Bashri ats-Tsaqafi, riwayat haditsnya sangat lemah, bahkan sebagian dari para imam Ahli hadits menuduhnya sebagai pendusta. Imam Yazid bin Harun berkata: “Aku meninggalkan hadits-hadits (yang diriwayatkan oleh) Ziyad bin Maimun, dialah adalah seorang pendusta, telah jelas bagiku kedustaannya”. Imam Abu Hatim ar-Raazi berkata: “Dikatakan bahwa dia adalah seorang pendusta, hadits-hadits (yang diriwayatkannya) ditinggalkan (karena kelemahannya yang fatal)”. Imam Abu Zur’ah ar-Raazi berkata: “(Riwayat) haditsnya sangat lemah”[5]. Imam al-Bukhari berkata: “Para ulama meninggalkan (hadits-hadits yang diriwayatkan)nya (karena kelemahannya yang fatal)”[6]. Continue reading

Sikap Wara: Berhati-hati dan Menjauhi Harta Yang Haram

بسم الله الرحمن الرحيم

     Siapa yang tidak kenal dengan Abu Bakar ash-Shiddiq? Sahabat Rasulullah  yang mulia sangat terkenal karena banyak memiliki keutamaan dan sifat-sifat mulia dalm Islam. Sampai-sampai shahabat ‘Umar bin al-Khattab  memuji beliau dengan mengatakan: “Seandainya keimanan Abu Bakar  ditimbang dengan keimanan penduduk bumi (selain para Nabi dan Rasul) maka sungguh keimanan beliau  lebih berat dibandingkan keimanan penduduk bumi”[1].

Kisah berikut ini mengambarkan tingginya keutamaan Abu Bakar  dan besarnya kehati-hatian beliau dalam masalah halal dan haram:

Dari ‘Aisyah  bahwa ayah beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq  memiliki seorang budak yang setiap hari membayar setoran kepada Abu Bakar  (berupa harta atau makanan) dan beliau  makan sehari-hari dari setoran tersebut. Suatu hari, budak tersebut membawa sesuatu (makanan), maka Abu Bakar  memakannya. Lalu budak itu berkata kepada beliau : “Apakah anda mengetahui apa yang anda makan ini?”. Abu Bakar  balik bertanya: “Makanan apa ini?”. Budak itu berkata: “Dulu di jaman Jahiliyah, aku pernah melakukan praktek perdukunan untuk seseorang (yang datang kepadaku), padahal aku tidak bisa melakukannya, dan sungguh aku hanya menipu orang tersebut. Kemudian aku bertemu orang tersebut, lalu dia memberikan (hadiah) kepadaku (yaitu) makanan yang anda makanan ini”. Maka (setelah mendengar itu) Abu Bakar  (segera) memasukkan tangan (jari) beliau (ke dalam mulut/kerongkongan beliau) lalu beliau memuntahkan semua makanan dalam perut beliau”[2]. Continue reading