Memilih Yang Terbaik Diantara Amal Sholeh

بسم الله الرحمن الرحيم

Imam adz-Dzahabi[1] menukil subuah kisah dalam biografi imam besar ahli hadits dari generasi atba’ut tabi’in, imam Malik bin Anas al-Ashbuhi al-Madani (wafat tahun 179 H)[2], kisah tersebut sebagai berikut:

Seorang ahli ibadah yang tinggal di kota Madinah, yaitu ‘Abdullah bin ‘Umar bin Hafsh al-‘Umari pernah menulis sebuah surat yang berisi nasehat kepada imam Malik untuk memotivasi beliau agar lebih banyak menyendiri dan mengerjakan amal shaleh, karena imam Malik setiap hari disibukkan dengan kegiatan menyampaikan dan meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah  kepada para penuntut ilmu hadits yang datang ke Madinah pada saat itu.

Kemudian imam Malik menulis (suratbalasan) kepadanya (yang isinya): “Sesungguhnya Allah telah membagikan amal-amal shaleh sebagaimana Dia membagikan rezki-Nya untuk (manusia). Sehingga boleh jadi seseorang dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam (ibadah) shalat (dengan rajin mengamalkan shalat-shalat sunnah) tapi tidak dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam (ibadah) puasa, sementara orang lain ada yang dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam bersedekah (dengan banyak berinfak di jalan Allah) tapi tidak dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam (ibadah) puasa, ada juga orang yang dibukakan (pintu kebaikan) baginya dalam berjihad (di jalan Allah , tapi tidak dibukakan pintu kebaikan baginya dalam ibadah lainnya). Maka (kegiatan) menyebarkan ilmu (hadits-hadits Rasulullah ) termasuk amal kebaikan yang paling utama, dan sungguh aku telah ridha dengan (pintu kebaikan) yang telah dibukakan Allah untukku dalam menyebarkan ilmu (petunjuk Rasulullah ). Aku tidak merasa amal yang aku lakukan ini (keutamaannya) di bawah amal yang anda lakukan, dan aku berharap (kepada Allah ) agar kita berdua (selalu) di atas kebaikan dan ketaatan (kepada-Nya)”. Continue reading

Hari Kiamat, Kapan Terjadinya?

بسم الله الرحمن الرحيم

     Hari kiamat pasti terjadi dan setiap orang yang beriman semestinya mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Betapa tidak, dalam banyak ayat al-Qur’an Allah  secara jelas dan detail menggambarkan keadaan, kedasyatan dan kengerian hari pembalasan ini, juga kegembiraan dan keberuntungan yang diraih oleh orang-orang yang beriman dan taat kepada Allah , serta penderitaan, kerugian dan kehinaan yang dialami oleh orang-orang yang durhaka kepada-Nya .

Bahkan beberapa surat dalam al-Qur’an menggambarkan keadaan hari kiamat dengan sangat gambalang, sehingga orang beriman yang membaca dan menghayatinya merasa seolah-olah dia menyaksikan langsung peristiwa tersebut dengan kedua matanya. Rasulullah  bersabda: “Barangsiapa yang ingin melihat (keadaan) hari kiamat seolah-olah dia melihat (langsung dengan) matanya maka hendaknya dia membaca (surat) at-Takwir, al-Infithar dan al-Insyiqaq[1].

Peringatan Allah  dalam ayat-ayat tersebut seharusnya cukup untuk menjadikan hati orang-orang yang beriman merasa takut dan segera mempersiapkan diri untuk menghadapi hari yang pasti terjadinya itu, karena bukankah keimanan dan keyakinan mereka terhadap adanya hari kebangkitan dan pembalasan amal perbuatan manusia menjadikan mereka takut melakukan perbutan buruk yang akan menjadikan mereka mendapat kehinaan dan kesengsaraan pada hari itu? Allah  berfirman:

{أَلا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ. لِيَوْمٍ عَظِيمٍ. يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ}

“Tidakkah mereka itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang (kedsyatannya) besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam (untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka)” (QS al-Muthaffifiin: 4-6).

Oleh karena itu, peringatan dan ancaman Allah  dalam al-Qur’an hanyalah akan bermanfaat dan memberikan kebaikan bagi orang-orang yang hatinya hidup, beriman kepada Allah  dan takut terhadap azab-Nya. Allah  berfirman:

{إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ. لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ}

“al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan, supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir” (QS Yaasiin: 69-70).

Dalam ayat lain, Allah  juga berfirman:

 {فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ }

“Maka berilah peringatan dengan al-Qur’an kepada orang yang takut kepada ancaman-Ku” (QS Qaaf: 45).

Adapun orang-kafir dan munafik, maka peringatan dan ancaman dalam al-Qur’an tidak bermanfaat bagi mereka, karena hati mereka tidak mengimaninya. Allah  berfirman:

{إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ}

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman” (QS al-Baqarah: 6).

Juga firman-Nya tentang orang-orang munafik:

{وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لأسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ}

“Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka mau mendengar (peringatan Allah dalam al-Qur’an).  Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu)” (QS al-Anfaal: 23).

 

Waktu terjadinya hari kiamat sudah dekat

Dalil-dalil dari al-Qur-an dan hadits Rasulullah  menunjukkan bahwa waktu terjadinya hari kiamat sudah dekat. Allah  berfirman:

{اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ}

“Telah dekat (waktu terjadinya) hari kiamat dan telah terbelah bulan” (QS al-Qamar: 1).

Dalam ayat lain, Dia  berfirman:

{إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا وَنَرَاهُ قَرِيبًا}

“Sesungguhnya mereka memandang hari kiamat itu jauh (tidak akan terjadi). Sedangkan Kami memandangnya dekat (waktu terjadinya)” (QS al-Ma’aarij: 6-7).

Imam Ibnu Katsir berkata: “Artinya (ayat di atas): orang-orang yang beriman meyakini wktu terjadinya hari kiamat dekat, meskipun kepastian waktunya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah , akan tetapi segala sesuatu yang akan datang maka itu dekat dan pasti terjadi”[2].

Dalam hadits yang shahih Rasulullah  bersabda: “Aku diutus dan (waktu terjadinya) hari kiamat seperti (jarak antara) dua jari ini”, lalu beliau  menggandengkan antara jari telunjuk dan jari tengah beliau ”[3].

Dalil-dali di atas menunjukkan bahwa waktu terjadinya hari kiamat sudah dekat, dengan bukti terlihatnya banyak tanda-tanda hari kiamat yang diberitakan dalam beberapa ayat al-Qur-an dan hadits Rasulullah [4], seperti munculnya berbagai macam fitnah, sering terjadi gempa bumi, banyak tersebar perbuatan maksiat; zina, riba dan minuman keras, serta tersebar luasnya kebodohan terhadap agama Islam.

Imam Qotadah bin Di’aamah al-Bashri[5], ketika menafsirkan firman Allah :

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ}

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al Hasyr:18).

Beliau berkata: “Senantiasa tuhanmu (Allah ) mendekatkan (waktu terjadinya) hari kiamat, sampai-sampai Dia menjadikannya seperti besok”[6].

Bahkan untuk masing-masing orang yang hidup di dunia, hari kiamat baginya sangat dekat dan bisa terjadi pada dirinya kapan saja, yaitu ketika kematian datang menjemputnya. Inilah yang disitilahkan oleh para ulama dengan “al-Qiyaamatush shugra” (hari kiamat yang kecil). Salah seorang ulama salaf berkata: “Barngsiapa yang meninggal dunia maka sungguh telah terjadi hari kiamat padanya”[7].

 

Kapankah waktu terjadinya?

Allah  berfirman:

{إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنزلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ}

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat, Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti” (QS Luqmaan: 34).

Inilah Mafaatiihul gaib (kunci/perbendaharaan perkara-perkara yang gaib) yang tidak ada satupun yang mengetahuinya kecuali Allah  semata. Rasulullah  bersabda: “Kunci/perbendaharaan perkara-perkara yang gaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah; tidak ada yang mengetahui apa (yang terjadi) esok hari kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui kandungan (dalam) rahim sebelum sempurna kecuali Allah, tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan turunnya hujan kecuali Allah, tidak ada seorangpun yang mengetahui di mana tempat dia mati, dan tidak ada yang mengetahui (kapan) terjadinya hari kiamat kecuali Allah”[8].

Oleh karena itu, dalam hadits yang shahih, ketika Rasulullah  ditanya oleh malaikat Jibril  tentang kapan terjadinya hari kiamat, maka Rasulullah  bersabda: “Tidakah yang ditanya (Rasulullah ) lebih mengetahui dari pada yang bertanya (malaikat Jibril )”[9].

Kalau dua makhluk yang paling mulia ini, pimpinan para Rasul  (Nabi Muhammad ) dan pimpinan para malaikat (jibril ) tidak mengetahui kapan terjadinya hari kiamat, maka apakah mungkin selain mereka berdua ada yang mengetahuinya?

Allah  berfirman:

{يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي لا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلا هُوَ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لا تَأْتِيكُمْ إِلا بَغْتَةً يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ}

“Mereka menanyakan kepadamu tentang hari kiamat: “Bilakah terjadinya?”. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu hanyalah ada pada Rabbku (Allah ); tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah:”Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Rabb, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS al-A’raaf: 187).

Oleh karena itu, mengaku mengetahui perkara gaib yang tidak diketahui oleh selain Allah , apalagi tentang waktu terjadinya hari kiamat, termasuk kekafiran yang bisa menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam[10], na’uudzu billahi min dzaalik.

 

Hikmah dirahasiakannya waktu terjadinya hari kiamat

Allah  berfirman:

{يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا. فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا. إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا}

“(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (wahai Rasulullah) tentang hari kiamat, kapankah terjadinya? Apa (manfaatnya) bagimu dengan menyebutkan/mengetahui (waktu)nya? Kepada Rabb-mulah (Allah ) dikembalikan (pengetahuan tentang waktu terjadi)nya” (QS an-Naazi’aat: 42-44).

Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di menjelaskan hikmah ini di sela-sela penjelasan beliau tentang makna ayat di atas, beliau berkata: “Arti ayat di atas: apakah faidahnya bagimu dan bagi mereka dengan menyebutkan dan mengetahui waktu terjadinya hari kiamat? Maka tidak ada hasil (manfaat) dengan mengetahui hal tersebut. Maka dari itu, dikarenakan tidak ada kebaikan (manfaat) dengan manusia mengetahui (waktu terjadinya) hari kiamat, baik itu kebaikan untuk urusan agama maupun urusan dunia, bahkan kebaikan (bagi mereka justru) dengan dirahasiakannya hal tersebut, sehingga Allah merahasiakan pengetahuan tentang hal itu dari semua makhluk-Nya dan mengkhuskannya pada diri-Nya sendiri”[11].

Maka jelaslah bahwa dengan dirahasiakannya waktu terjadinya hari kiamat bagi manusia, hal itu justru akan mendatangkan kebaikan bagi mereka, baik dalam urusan dunia maupun agama, yaitu agar mereka selalu mempersiapkan diri menghadapinya, dengan memperbanyak amal shaleh, menjauhi perbuatan maksiat dan selalu mengoreksi diri untuk persiapan menghadap Allah  di hari pembalasan kelak.

Makna inilah yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah  ketika beliau ditanya oleh seorang shahabat : “Kapankah hari kiamat (wahai Rasululah)?”. Rasulullah  menjawab: “Apa yang telah kamu persiapkan untuk (mengahadapi)nya?”.

Dalam hadits ini Rasulullah  membimbing umatnya untuk tidak perlu mencaritau tentang kapan terjadinya hari kiamat, tapi yang terpenting bagi mereka adalah segera mempersiapkan diri untuk menghadapinya dan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hadapan Allah [12].  Allah  berfirman:

{يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ}

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Allah), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi-Nya)” (QS Al Haaqqah:18).

 

Penutup

Hari kiamat sudah dekat meskipun tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya kecuali Allah . Maka orang-orang yang beriman, merekalah orang-orang yang akan mempersiapkan diri untuk menghadapinya dan hanya merekalah yang dapat mengambil manfaat dan peringatan akan dahsyatnya hari pembalasan tersebut. Allah  berfirman:

{إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَخْشَاهَا}

“Sesungguhnya kamu hanyalah memberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (dahsyatnya hari kiamat). Pada hari mereka melihat hari kiamat itu, mereka seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi” (QS an-Naazi’aat: 45-46).

Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan doa dari Rasulullah [13] untuk kebaikan agama, dunia dan akhirat kita:

Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan penentu (kebaikan) semua urusanku,

dan perbaikilah (urusan) duniaku yang merupakan tempat hidupku,

serta perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku (selamanya),

 jadikanlah (masa) hidupku sebagai penambah kebaikan bagiku,

dan (jadikanlah) kematianku sebagai penghalang bagiku dari semua keburukan.

 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 2 Dzulhijjah 1433 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

 


[1] HR at-Tirmidzi (5/433), Ahmad (2/27) dan al-Hakim (4/620), dinyatakan shahih oleh imam al-Hakim, adz-Dzahabi dan syaikh al-Albani.

[2] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (4/537).

[3] HSR al-Bukhari (no. 4995) dan Muslim (no. 867).

[4] Lihat kitab “Asyraathus saa’ah” (hal. 67).

[5] Beliau adalah imam besar dari kalangan tabi’in yang sangat terpercaya dan kuat dalam meriwayatkan hadits Rasulullah r (lihat kitab “Taqriibut tahdziib”, hal. 409).

[6] Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab beliau “Ighaatsatul lahfan” (hal. 152-Mawaaridul amaan).

[7] Dinukil oleh imam Abu Nu’aim dalam kitab “Hilyatul auliyaa’” (6/268).

[8] HSR al-Bukhari (no. 4420).

[9] HSR al-Bukhari (no. 50) dan Muslim (no. 9).

[10] Lihat keterangan  syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu syaikh dalam kitab “Fathul Majiid” (hal. 356) dan syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz dalam kitab “Risaalatun fi hukmis sihri wal kahaanah” (hal. 5).

[11] Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan fi tafsiiri kalaamil Mannaan” (hal. 910).

[12] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (7/52).

[13] Dalam HSR Muslim (no. 2720) dari sahabat Abu Hurairah t.

Harta Haram, Sumber Petaka Dunia dan Akhirat

بسم الله الرحمن الرحيم

      Setiap insan tentu mendambakan kehidupan yang bahagia, damai dan jauh dari berbagai kesusahan. Untuk tujuan ini, semua orang rela mengorbankan harta, waktu dan tenaga yang mereka miliki demi meraih apa yang mereka sebut sebagai ‘kebahagiaan dan ketenangan hidup yang sejati’.

     Ironisnya, dalam upaya mencari kebahagiaan dan ketenangan hidup ini, di antara mereka banyak yang menempuh jalan yang keliru dan justru menjerumuskan mereka ke dalam jurang kesengsaraan dan malapetaka, dengan mengikuti godaan dan tipu daya setan yang selalu menghiasi keburukan amal perbuatan manusia. Allah  berfirman:

{أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ}

“Apakah orang yang dihiasi perbuatannya yang buruk (oleh setan) lalu ia menganggap perbuatannya itu baik, (sama dengan dengan orang yang tidak diperdaya setan?), maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (QS Faathir:8). Continue reading

Orang Yang Tidak Dilalaikan Dengan Urusan Dunia Dari mengingat Allah

     Muhammad bin Sirin[1] adalah imam Ahlus sunnah yang sangat terkenal dalam berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah  dan sangat terpercaya dalam meriwayatkannya. Akan tetapi tahukah anda bahwa beliau juga disifati oleh para ulama di jamannya sebagai orang yang sangat wara’ (hati-hati dalam masalah halal dan haram) dan tekun dalam beribadah?.

     Imam adz-Dzahabi menukil dari Abu ‘Awanah al-Yasykuri, beliau berkata: “Aku melihat Muhammad bin sirin di pasar, tidaklah seorangpun melihat beliau kecuali orang itu akan mengingat Allah”[2].

Subhanallah, betapa mulianya sifat imam besar ini! Betapa tekunnya beliau dalam beribadah dan berzikir kepada Allah ! Sehingga sewaktu berada di pasar dan sedang berjual-belipun hal tersebut tampak pada diri beliau. Continue reading

Ummi, Agungnya Peranmu!

بسم الله الرحمن الرحيم

     Agama Islam sangat memuliakan dan mengagungkan kedudukan kaum perempuan, dengan menyamakan mereka dengan kaum laki-laki dalam mayoritas hukum-hukum syariat, dalam kewajiban bertauhid kepada Allah, menyempurnakan keimanan, dalam pahala dan siksaan, serta keumuman anjuran dan larangan dalam Islam.

     Allah  berfirman:

{وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا}

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia orang yang beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun” (QS an-Nisaa':124). Continue reading

Hadits Yang Sangat Lemah Tentang Keutamaan Mengunjungi Orang Kaya dan Orang Miskin

بسم الله الرحمن الرحيم

     عن أبي هريرة  قال: قال رسول الله : ((زِيارَةُ الْغَنِيِّ كَاْلقائِمِ الصَّائِمِ، وَزِيارَةُ الْفَقِيْرِ كَالْجِهادِ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَيَعْدِلُ خُطَاهً فِي سَبِيْلِ اللهِ ))

     Dari Abu Hurairah  beliau berkata: Rasulullah  bersabda: “Mengunjungi orang yang kaya (keutamaannya) seperti orang yang shalat lagi berpuasa, dan mengunjungi orang yang miskin (keutamaannya) seperti berjihad di jalan Allah dan sebanding dengan langkah-langkah (kaki) di jalan Allah ”.

Hadits ini dikeluarkan oleh imam Abu Mansur ad-Dailami kitab beliau “Musnadul firdaus”[1] dengan sanad beliau dari ‘Ubaid bin Hisyam al-Jurjaani, dari Muhammad bin al-Azhar, dari ‘Abdul Mun’im bin Nu’aim, dari ‘abdul Gafur, dari Ismail bin ‘Ulayyah, dari Makhul, dari abu Hurairah , dari Rasulullah . Continue reading