Takwa, Semudah Itukah?

بسم الله الرحمن الرحيم

     Kalimat “takwa” sangat sering kita dengar dalam ceramah-ceramah agama, sebagaimana kalimat ini mudah dan ringan diucapkan di lisan kita. Akan tetapi, sudahkah hakikat kalimat ini terwujud dalam diri kita secara nyata? Sudahkah misalnya ciri-ciri orang yang bertakwa yang disebutkan dalam ayat berikut ini terealisasi dalam diri kita?

{الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ، وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ}

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui” (QS Ali ‘Imran:134-135). Continue reading

Maaf-memaafkan dalam rangka hari raya, disyariatkan?

بسم الله الرحمن الرحيم

     Mudah memaafkan, penyayang terhadap sesama muslim dan lapang dada terhadap kesalahan mereka merupakan amal shaleh yang keutamaannya besar dan sangat dianjurkan dalam Islam.

Allah berfirman:

{خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِين}

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan perbuatan baik, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” (QS al-A’raaf:199).

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

{فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ}

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu” (QS Ali ‘Imraan: 159).

Bahkan sifat ini termasuk ciri hamba Allah yang bertakwa kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:

{الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ}

“(Orang-orang yang bertakwa adalah) mereka yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya serta (mudah) memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali ‘Imran:134).

Rasulullah secara khusus menggambarkan besarnya keutamaan dan pahala sifat mudah memaafkan di sisi Allah dalam sabda beliau: “Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat)”[1].

Arti bertambahnya kemuliaan orang yang pemaaf di dunia adalah dengan dia dimuliakan dan diagungkan di hati manusia karena sifatnya yang mudah memaafkan orang lain, sedangkan di akhirat dengan besarnya ganjaran pahala dan keutamaan di sisi Allah[2].

 

Saling maaf-memaafkan di hari raya?

Akan tetapi, amal shaleh yang agung ini, bisa berubah menjadi perbuatan haram dan tercela jika dilakukan dengan cara-cara yang tidak ada tuntunannya dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah.

Misalnya, mengkhususkan perbuatan ini pada waktu dan sebab tertentu yang tidak terdapat dalil dalam syariat tentang pengkhususan tersebut. Seperti mengkhusukannya pada waktu dan dalam rangka hari raya idul fithr atau idhul adha.

Ini termasuk perbuatan bid’ah[3] yang jelas-jelas telah diperingatkan keburukannya oleh Rasulullah dalam sabda Beliau: “Sesungguhnya semua perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat, dan semua yang sesat (tempatnya) dalam neraka”[4].

Kalau ada yang bertanya: mengapa ini dianggap sebagai perbuatan bid’ah yang sesat padahal agama Islam jelas-jelas sangat menganjurkan dan memuji sifat mudah memaafkan kesalahan orang lain, sebagaimana keterangan di atas?

Jawabnya: Agama Islam memang sangat menganjurkan hal tersebut jika tidak dikhususkan dengan waktu atau sebab tertentu, tanpa dalil (argumentasi) yang menunjukkan kekhususan tersebut. Karena jika dikhususkan tanpa dalil maka berubah menjadi perbuatan bid’ah yang sangat tercela dalam Islam.

Sebagaimana shalat malam dan puasa sunnah sangat dianjurkan dalam Islam, akan tetapi jika dikhususkan dengan hari Jum’at maka dua amalan besar tersebut menjadi tercela dan haram untuk dilakukan[5], sebagaimana sabda Rasulullah:

«لاَ تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِى وَلاَ تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ فِى صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ»

“Janganlah kalian mengkhusukan malam Jum’at di antara malam-malam lainnya dengan (melaksanakan) shalat malam, dan janganlah mengkhususkan hari Jum’at di antara hari-hari lainnya dengan berpuasa, kecuali puasa yang biasa dilakukan oleh salah seorang darimu”[6].

Inilah yang diistilahkan oleh para ulama dengan nama “bid’ah idhaafiyyah”, yaitu perbuatan yang secara umum dianjurkan dalam agama Islam, akan tetapi sebagian dari kaum muslimin mengkhususkan perbuatan tersebut dengan waktu, tempat, sebab, keadaan atau tata cara tertentu yang tidak bersumber dari petunjuk Allah dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah[7].

Contoh lain dalam masalah ini adalah shalat malam yang dikhususkan pada bulan Rajab dan Sya’ban. Imam an-Nawawi berkata tentang dua shalat ini: “Shalat (malam di bulan) Rajab dan Sya’ban adalah bid’ah yang sangat buruk dan tercela”[8].

Imam Abu Syamah menjelaskan kaidah penting ini dalam ucapannya: “Tidak diperbolehkan mengkhusukan ibadah-ibadah dengan waktu-waktu (tertentu) yang tidak dikhususkan oleh syariat, akan tetapi hendaknya semua amal kebaikan tersebut bebas (dilakukan) di setiap waktu (tanpa ada pengkhususan). Tidak ada keutamaan satu waktu di atas waktu yang lain, kecuali yang diutamakan oleh syariat dan dikhususkan dengan satu macam ibadah…Seperti puasa di hari Arafah dan Asyura’, shalat di tengah malam, dan umrah di bulan Ramadhan…”[9].

Imam Ibnul Qayyim berkata: “…Termasuk (contoh) dalam hal ini bahwa sunnah Rasulullah r menyebutkan larangan mengkhusukan bulan Rajab dengan puasa dan hari Jumat, agar tidak dijadikan sebagai sarana menuju perbuaan bid’ah dalam agama (yaitu) dengan mengkhusukan waktu tertentu dengan ibadah yang tidak dikhususkan oleh syariat”[10].

 

Acara “halal bil halal”

Termasuk acara yang marak dilakukan oleh kaum muslimin di Indonesia dalam rangka saling maaf-memaafkan setelah hari raya ‘Idhul fithr adalah apa yang mereka namakan dengan “halal bil halal”.

Acara ini termasuk perbuatan bid’ah yang tercela dengan alasan seperti yang kami paparkan di atas. Oleh karena itu, perbuatan ini tidak pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah dan generasi terbaik umat ini, para Shahabat, serta para imam Ahlus Sunnah yang mengikuti jalan mereka dengan kebaikan. Padahal mereka adalah orang-orang yang direkomendasikan kebaikan pemahaman dan pengamalan agama Islam mereka oleh Allah dan rasul-Nya. Allah berfirman:

{والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه، وأعدّ لهم جنات تجري تحتَها الأنهار خالدين فيها أبداً، ذلك الفوز العظيم}

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar (para sahabat) dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” (QS At Taubah:100).

Dan dalam hadits yang shahih, Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik umatku adalah generasi yang aku diutus di masa mereka (para sahabat), kemudian generasi yang datang setelah mereka, kemudian generasi yang datang setelah mereka”[11].

Di samping itu, acara ini ternyata berisi banyak kemungkaran dan pelanggaran terhadap syariat Allah, di antaranya:

1- al-Ikhtilath (bercampur baur secara bebas) antara laki-laki dengan perempuan tanpa ada ikatan yang dibenarkan dalam syariat. Perbuatan ini jelas diharamkan dalam agama bahkan ini merupakan biang segala kerusakan di masyarakat.

Rasulullah bersabda: “Aku tidak meninggalkan setelahku fitnah (keburukan/kerusakan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki melebihi (fitnah) kaum perempuan”[12].

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan hal ini dalam ucapan beliau: “Tidak diragukan lagi bahwa membiarkan kaum perempuan bergaul bebas dengan kaum laki-laki adalah biang segala bencana dan kerusakan, bahkan ini termasuk penyebab (utama) terjadinya berbagai melapetaka yang merata. Sebagaimana ini juga termasuk penyebab (timbulnya) kerusakan dalam semua perkara yang umum maupun khusus. Pergaulan bebas merupakan sebab berkembangpesatnya perbuatan keji dan zina, yang ini termasuk sebab kebinasan massal (umat manusia) dan wabah penyakit-penyakit menular yang berkepanjangan[13].

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz lebih menegaskan hal ini dalam ucapan beliau: “Dalil-dali (dari al-Qur’an dan hadits Nabi) secara tegas menunjukkan haramnya (laki-laki yang) berduaan dengan perempuan yang tidak halal baginya, (demikian pula diharamkan) memandangnya, dan semua sarana yang menjerumuskan (manusia) ke dalam perkara yang dilarang oleh Allah. Dalil-dalil tersebut sangat banyak dan kuat (semuanya) menegaskan keharaman al-ikhtilath (bercampur baur secara bebas antara laki-laki dengan perempuan), karena membawa kepada perkara (kerusakan) yang sangat buruk akibatnya”[14].

 

2- Bersalaman dan berjabat tangan antara laki-laki dan perempaun yang tidak halal baginya (bukan mahramnya).

Perbuatan ini sangat diharamkan dalam Islam berdasarkan sabda Rasulullah: “Sungguh jika kepala seorang laki-laki ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik baginya dari pada dia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya”[15].

 

3- Kehadiran para wanita yang bersolek dan berdandan seperti dandanan wanita-wanita Jahiliyah.

Ini juga diharamkan dalam Islam, sebagaimana firman Allah:

{وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى}

“Dan hendaklah kalian (wahai kaum perempuan mukminah) menetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj (bersolek dan berhias) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu” (QS al-Ahzaab:33).

Dalam hadits yang shahih Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya wanita adalah aurat, maka jika dia keluar (rumah) setan akan mengikutinya (menghiasainya agar menjadi fitnah bagi laki-laki), dan keadaanya yang paling dekat dengan Rabbnya (Allah I) adalah ketika dia berada di dalam rumahnya”[16].

 

Penutup

Demikianlah pemakaran ringkas tentang hukum saling maaf-memaafkan dalam rangka hari raya. Wajib bagi setiap muslim utk meyakini bahwa semua sesuatu yang dibutuhkan oleh kaum muslimin untuk mendekatkan diri kepada Allah I semua itu telah dijelaskan dan dicontohkan dengan lengkap oleh Rasulullah dalam petunjuk yang beliau bawa.

Sahabat yang mulia Abu Dzar Al Ghiffari berkata: “Rasulullah telah pergi meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burungpun yang mengepakkan kedua sayapnya di udara kecuali beliau menjelaskan kepada kami ilmu tentang hal tersebut”. Kemudian beliau berkata: Rasulullah telah bersabda:

“ما بقي شيء يقرب من الجنة ويباعد من النار إلا وقد بين لكم”

“Tidak ada (lagi) yang tertinggal sedikitpun dari (ucapan/perbuatan) yang bisa mendekatkan (kamu) ke surga dan menjauhkan (kamu) dari neraka, kecuali semua itu telah dijelaskan kepadamu”[17].

Semoga Allah senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk selalu berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah r dan menjauhi segala sesuatu yang menyimpang dari sunnah beliau r sampai di akhir hayat kita, amin.

Ya Allah, wafatkanlah kami di atas agama Islam dan di atas sunnah Rasulullah[18]

Kota Kendari, 18 Rajab1432 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni


[1] HSR Muslim (no. 2588) dan imam-imam lainnya.

[2] Lihat kitab “Syarah shahih Muslim” (16/141) dan “Tuhfatul ahwadzi” (6/150).

[3] Semua perbuatan yang diada-adakan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah,  yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah.

[4] HSR Muslim (no. 867), an-Nasa-i (no. 1578) dan Ibnu Majah (no. 45).

[5] Lihat kitab “’Ilmu ushuulil bid’ah” (hal. 151).

[6] HSR Muslim (no. 1144).

[7] Lihat kitab “’Ilmu ushuulil bid’ah” (hal. 147-148).

[8] Kitab “Fataawa al-Imam an-Nawawi” (hal. 26).

[9] Kitab “al-Baaits ‘ala inkaaril bida’i wal hawaadits” (hal. 165).

[10] Kitab “Ighaatsatul lahfaan” (1/368).

[11] HSR Al Bukhari dan Muslim.

[12] HSR al- Bukhari (no. 4808) dan Muslim (no. 2740).

[13] Seperti penyakit AIDS dan penyakit-penyakit kelamin berbahaya lainnya, na’uudzu billahi min dzaalik.

[14] Majallatul buhuutsil islaamiyyah (7/343).

[15] HR ath-Thabarani dalam “al-Mu’jamul kabiir” (no. 486 dan 487) dan ar-Ruyani dalam “al-Musnad” (2/227), dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaadiitsish shahiihah” (no. 226).

[16] HR Ibnu Khuzaimah (no. 1685), Ibnu Hibban (no. 5599) dan at-Thabrani dalam “al-Mu’jamul  ausath” (no. 2890), dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Mundziri dan syikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaaditsish shahiihah” (no. 2688).

[17] HR ath-Thabarani  dalam “al-Mu’jamul kabiir” (2/155, no. 1647) dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam kitab “Silsilatul ahaadiitsish shahiihah” (no. 1803).

[18] Doa yang selalu diucapkan oleh imam Ahmad bin Hambal, dinukil oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab “Tarikh Baghdad” (9/349).

Istiqomah Setelah Ramadhan

بسم الله الرحمن الرحيم

     Tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu, dan bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan dan keutamaan berlalu sudah. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang celaka karena tidak mendapatkan pengampunan dari Allah selama bulan Ramadhan, sebagaimana yang tersebut dalam doa yang diucapkan oleh malaikat Jibril  dan diamini oleh Rasulullah: “Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni (oleh Allah)”[1]. Continue reading

Keutamaan Puasa Sunnah 6 Hari di Bulan Syawwal

بسم الله الرحمن الرحيم

     عن أبي أيوب الأنصاري t: أن رسول الله  قال: (( من صام رمضان ثم أتبعه سِتًّا من شوال، كان كصيام الدهر)) رواه مسلم.

      Dari Abu Ayyub al-Anshari bahwasanya Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh”[1].

     Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal, yang ini termasuk karunia agung dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, dengan kemudahan mendapatkan pahala puasa setahun penuh tanpa adanya kesulitan yang berarti[2]. Continue reading

Hapus Noda Dosamu Di Masa Lalu Dengan Amal-amal Kebaikan

بسم الله الرحمن الرحيم

     Terkadang, ada seorang hamba yang ingin memperbaiki dirinya dan bertobat kepada Allah, tapi ketika dia melihat dan mengingat banyaknya dosa-dosa yang dilakukannya di masa lalu, dia pun berputus asa dan memandang dirinya sangat kotor, sehingga tidak mungkin dirinya diterima oleh Allah.

Ini jelas merupakan tipu daya Setan untuk memalingkan manusia dari jalan Allah, dengan menjadikan mereka berputus asa dari rahmat-Nya, padahal rahmat dan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya sangat luas dan agung. Rasulullah menggambarkan hal ini dalam sabda beliau: “Sungguh Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anak bayinya”[1].

Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah bersabda: “Ketika Allah menciptakan makhluk, Dia menuliskan di sisinya di atas arsy-Nya: sesungguhnya kasih sayang-Ku mendahului/mengalahkan kemurkaan-Ku”[2].

Khusus tentang pengampunan dosa-dosa dari-Nya bagi hamba-hamba-Nya, Allah berfirman:

{قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ}

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS az-Zumar: 53).

Ayat yang mulia ini disebut oleh sebagian dari para ulama ahli tafsir sebagai ayat al-Qur’an yang paling memberikan pengharapan kepada orang-orang yang beriman[3].

Imam Ibnu Rajab al-Hambali menukil[4] sebuah kisah yang menarik untuk kita jadikan renungan; dari imam besar ahlus sunnah dari kalangan Atbaa’ut taabi’iin, Fudhail bin ‘Iyaadh[5], ketika beliau menasehati seseorang lelaki, beliau berkata kepada lelaki itu: “Berapa tahun usiamu (sekarang)?”. Lelaki itu menjawab: Enam puluh tahun. Fudhail berkata: “(Berarti) sejak enam puluh tahun (yang lalu) kamu menempuh perjalanan menuju Allah dan (mungkin saja) kamu hampir sampai”. Lelaki itu menjawab: Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Maka Fudhail berkata: “Apakah kamu paham arti ucapanmu? Kamu berkata: Aku (hamba) milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, barangsiapa yang menyadari bahwa dia adalah hamba milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya pada hari kiamat nanti), dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya) maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya selama di dunia), dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya) maka hendaknya dia mempersiapkan jawabannya”. Maka lelaki itu bertanya: (Kalau demikian) bagaimana caranya (untuk menyelamatkan diri ketika itu)? Fudhail menjawab: “(Caranya) mudah”. Leleki itu bertanya lagi: Apa itu? Fudhail berkata: “Engkau berbuat kebaikan (amal shaleh) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (dosa-dosamu) di masa lalu, karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan di siksa (pada hari kiamat) karena (dosa-dosamu) di masa lalu dan (dosa-dosamu) pada sisa umurmu”.

Subhanallah! Alangkah agung dan sempurna kasih sayang Allah terhadap hamba-hamba-Nya, dan alangkah luas pengampunan-Nya atas dosa-dosa mereka, sehingga dengan bertobat dan memperbaiki diri dengan beramal shaleh, akan menjadikan dosa-dosa yang diperbuat oleh seorang hamba di masa lalu diampuni dan dimaafkan-Nya, sebanyak apapun dosa tersebut.

Maka maha suci dan maha benar Allah yang menyifati diri-Nya dengan firman-Nya:

{إِنّ رَبَّكَ واسِعُ الْمَغْفِرَةِ}

“Sesungguhnya Rabb-mu maha luas pengampunan-Nya” (QS an-Najm: 33).

 

Beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kisah di atas:

– Luasnya rahmat dan pengampunan Allah atas hamba-hamba-Nya, padahal kalau sekiranya Allah mengazab mereka karena dosa-dosa mereka maka Dia maha mampu dan maha kuasa melakukannya. Rasulullah bersabda: “Sungguh seandainya Allah menyiksa semua makhluk yang ada di langit dan bumi maka Dia (maha kuasa untuk) menyiksa mereka dan dia tidak berbuat zhalim/aniaya (dengan menyiksa mereka, karena mereka semua adalah milik-Nya), dan seandainya Dia merahmati mereka semua maka sungguh rahmat-Nya lebih baik bagi mereka daripada amal perbuatan mereka”[6].

– Rasulullah bersabda: “Taubat (yang benar) akan menghapuskan (semua dosa yang dilakukan) di masa lalu”. Dalam hadits lain yang semakna, beliau bersabda: “Orang yang telah bertaubat dari dosa-dosanya (dengan sungguh-sungguh) adalah seperti orang yang tidak punya dosa”.

– Semakin bertambah usia kita berarti akhir dari masa hidup kita di dunia semakin dekat dan waktu perjumpaan dengan Allah semakin singkat. Sahabat yang mulia, Ali bin Abi Thalib berkata: “Sesungguhnya dunia telah pergi meninggalkan (kita), sedangkan akhirat telah datang di hadapan (kita), dan masing-masing dari keduanya (dunia dan akhirat) memiliki pengagum, maka jadilah kamu orang yang mengagumi/mencintai akhirat dan janganlah kamu menjadi orang yang mengagumi dunia, karena sesungguhnya saat ini (waktunya) beramal dan tidak ada perhitungan, adapun besok (di akhirat) adalah (saat) perhitungan dan tidak ada (waktu lagi untuk) beramal”[7].

– Nasehat yang disampaikan dengan hati yang ikhlas akan memberikan pengaruh yang besar dan mudah diterima dalam hati. Oleh karena itulah, ketika seorang penceramah mengadu kepada Imam Muhammad bin Waasi’[8] tentang sedikitnya pengaruh ceramah yang disampaikannya dalam merubah akhlak orang-orang yang diceramahinya, maka Muhammad bin Waasi’ berkata: “Wahai Fulan, menurut pandanganku, mereka ditimpa keadaan demikian (tidak terpengaruh dengan ceramah yang kamu sampaikan) tidak lain sebabnya adalah dari dirimu sendiri, sesungguhnya peringatan (nasehat) itu jika keluarnya (ikhlas) dari dalam hati  maka (akan mudah) masuk ke dalam hati (orang yang mendengarnya)” [9].

Demikianlah, semoga tulisan ini bermanfaat untuk memotivasi diri kita agar selalu bertobat dan mengisi sisa usia kita dengan kebaikan dan amal shaleh.

 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

 KotaKendari, 18 Jumadal Akhir 1433 H

 Abdullah bin Taslim al-Buthoni


[1] HSR al-Bukhari (no. 5653) dan Muslim (no. 2754) dari ‘Umar bin al-Khattab t.

[2] HSR al-Bukhari (no. 7015) dan Muslim (no. 2751) dari Abu Hurairah t.

[3] Lihat “Tafsir al-Qurthubi” (15/234) dan “Fathul Qadiir” (4/667).

[4] Dalam kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 464) dan “Latha-iful ma’aarif” (hal. 108).

[5] Beliau adalah Fudhail bin ‘Iyaadh bin Mas’uud At Tamimi (wafat 187 H), seorang imam besar dari kalangan atba’ut tabi’in yang sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah r dan seorang ahli ibadah (lihat kitab “Taqriibut tahdziib”, hal. 403).

[6] HR Abu Dawud (no. 4699), Ibnu Majah (no. 77) dan Ahmad (5/182), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaadiitsish shahiihah” (no. 2439).

[7] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam “Az Zuhd” (hal. 130) dan dinukil oleh Imam Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab beliau “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 461).

[8] Beliau adalah Muhammad bin Waasi’ bin Jabir bin Al Akhnas Al Azdi Al Bashri (wafat 123 H), seorang Imam dari kalangan Tabi’in ‘junior’ yang tat beribadah dan terpercaya dalam meriwayatkan hadits, Imam Muslim mengeluarkan hadits beliau dalam kitab “Shahih Muslim” , biografi beliau dalam kitab “Tahdziibul kamaal” (26/576) dan “Siyaru a’laamin nubala’” (6/119).

[9] Kitab “Siyaru a’laamin nubala’” (6/122).

Hadits Palsu Tentang Cara Menghadapi Penguasa Yang Zhalim

بسم الله الرحمن الرحيم

Hadits Palsu Tentang Cara Menghadapi Penguasa Yang Zhalim

     عن زيد بن ثابت t قال: سمعتُ رسول الله: ((سيكون في آخر الزمان أمراء جورة، فمن خاف سِجْنَهم وسيفَهم وسوطهم فلا يأمرهم ولا يَنهَهم))

     Dari Zaid bin Tsabit, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Akan ada di akhir jaman nanti para penguasa yang zhalim (suka menganiaya), barangsiapa yang takut terhadap penjara, pedang dan cambuk para penguasa tersebut maka janganlah dia memerintahkan (kebaikan) kepada mereka dan melarang mereka (dari keburukan)”.

 

Hadits ini dikeluarkan oleh imam Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam “Tarikh Ashbahan”[1] dan imam ad-Dailami dalam “Musnadul Firdaus”[2] dengan sanad mereka berdua dari jalur Isma’il bin Yahya bin ‘Ubaidillah bin Thalhah at-Taimi al-Madani, dari Mis’ar bin Qidam, dari al-Qasim bin ‘Abdir Rahman, dari Sa’id bin al-Musayyab, dari Zaid bin Tsabit t, dari Rasulullah r.

Hadits ini adalah hadits palsu, karena dalam sanadnya ada perawi yang bernama Isma’il bin Yahya bin ‘Ubaidillah bin Thalhah at-Taimi al-Madani, imam Ibnu ‘Adi berkata tentangnya: “Dia meriwayatkan hadits-hadits yang batil (palsu) dari perawi-perawi yang terpercaya”[3]. Imam Ibnu Hibban berkata: “Dia termasuk orang yang meriwayatkan hadits-hadits palsu dari perawi-perawi yang terpercaya, juga hadits-hadits yang tidak ada asalnya dari perawi-perawi yang kuat, tidak dihalalkan sama sekali meriwayatkan hadits dan berhujjah dengannya”[4]. Imam adz-Dzahabi berkata: “(Dia meriwayatkan) hadits-hadits batil (palsu) dari Abu Sinan asy-Syaibani, Ibnu Juraij dan Mis’ar (bin Qidam)”[5].

Hadits ini dihukumi sebagai hadits palsu oleh imam asy-Syaukani dengan beliau mencantumkannya dalam kitab beliau yang menghimpun hadits-hadits palsu[6], dan beliau berkata: “Dalam sanad hadits ini ada seorang (perawi) pendusta”. Demikian pula al-Fatani mencantumkannya dalam kitab beliau yang menghimpun hadits-hadits palsu[7], dan beliau berkata: “Dalam sanad hadits ini ada (seorang perawi yang bernama) Isma’il (bin Yahya bin ‘Ubaidillah bin Thalhah at-Taimi al-Madani), (dia adalah) seorang pendusta”.

 

Kedudukan hadits ini yang palsu menjadikannya sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai dalil/argumentasi untuk mendiamkan dan tidak menasehati penguasa yang berbuat zhalim dan sewenang-wenang. Karena dalam hadits yang shahih Rasulullah  bersabda: “Barangsiapa di antara kamu yang melihat kemungkaran maka hendaknya dia merubahnya dengan tangannya, kalau dia tidak mampu maka dengan lisannya (ucapannya), kalau dia tidak mampu maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman”[8].

Bahkan perbuatan menasehati penguasa yang zhalim dengan cara yang benar adalah termasuk jihad yang paling utama, sebagaimana sabda Rasulullah: “Jihad yang paling utama adalah kalimat yang benar di hadapan penguasa/pemimpin yang zhalim”[9].

Cuma perlu diingatkan di sini bahwa cara yang benar untuk menasehati penguasa/pemerintah adalah dengan menyampaikan nasehat tersebut secara sembunyi-sembunyi dan langsung kepada penguasa yang bersangkutan, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits ini: “…kalimat yang benar di hadapan penguasa/pemimpin yang zhalim”. Jadi bukannya di sampaikan di hadapan orang umum yang sama sekali tidak berkepentingan dengan nasehat tersebut, karena ini merupakan perbuatan ghibah (menggunjing) yang tercela dalam agama Islam, yaitu menyebutkan keburukan saudara sesama muslim di belakangnya[10].

Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang ingin menasehati seorang penguasa, maka janganlah dia menyampaikan (nasehat tersebut) secara terang-terangan (di depan orang umum), akan tetapi hendaknya dia mengambil tangannya dan menyampaikannya secara tersembunyi, kalau diterima (nasehat) darinya maka itulah (yang diharapkan), kalau tidak (diterima) maka dia telah menunaikan kewajibannya”[11].

 

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 16 Ramadhan 1433 H

 Abdullah bin Taslim al-Buthoni

 

 

 


[1] (2/108).

[2] Dinukil oleh Ibnu Hajar dalam “al-Gara-ibul multaqathah min musnadil firdaus” (no. 419 – Disertasi S2).

[3] Kitab “al-Kamil fi dhu’afaa-ir rijaal” (1/302).

[4] Kitab “al-Majruuhiin minal muhadditsiin” (1/126).

[5] Kitab “Miizaanul i’tidaal” (1/415).

[6] Kitab “al-Fawa-idul majmuu’ah fil ahaadiitsil maudhuu’ah” (hal 210, no. 13).

[7] Kitab “Tadzkiratul maudhuu’aat” (hal. 183).

[8] HSR Muslim (no. 49).

[9] HR Ahmad (3/19, 3/61 dan 4/315), Abu Dawud (2/527), at-Tirmidzi (4/471), an-Nasa-i (7/161), Ibnu Majah (2/1329) dan al-Hakim (4/551), dinyatakan shahih oleh imam al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani karena jalur periwayatannya banyak dan saling menguatkan, (lihat “ash-Shahiihah” no. 491).

[10] Sebagaimana yang dijelaskan dalam sabda Rasulullah r HSR Mualim (no. 2589).

[11] HR Ahmad (3/403), al-Hakim (3/329) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab “as-Sunnah” (no. 1096 – Zhilaalul jannah), dinyatakan shahih oleh imam al-Hakim dan syaikh al-Albani.

Keutamaan Amalan Hati

بسم الله الرحمن الرحيم

     عَنْ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ  قال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ  يَقُولُ: «أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ» متفق عليه.

     Dari an-Nu’man bin Basyir beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia”. Continue reading