Asy-Syaafi, Allah yang Maha Penyembuh (Bagian 1)

بسم الله الرحمن الرحيم

Dasar Penetapan

Nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Mahaagung ini disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih. Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu membacakan doa perlindungan kepada salah seorang (anggota) keluarga beliau (dengan) mengusapkan tangan kanan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau membaca (doa),

Continue reading

Hadits Palsu dan Bahayanya dalam Merusak Akidah Kaum Muslimin

بسم الله الرحمن الرحيم

Tersebarnya hadits-hadits palsu di tengah kaum muslimin termasuk musibah terbesar yang akan merusak agama dan keyakinan mereka. Karena mayoritas dari hadits-hadits tersebut mengandung perkara yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang lurus, bahkan di antaranya ada yang jelas-jelas berisi kekufuran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala[1].

Musibah ini lebih diperparah kerusakannya dengan kebodohan mayoritas kaum muslimin terhadap agama mereka, sehingga mereka mudah terpengaruh dan menerima semua ucapan yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan kepada mereka, tanpa berusaha mencari kejelasan tentang mana hadits yang shahih dan mana yang lemah bahkan palsu. Tentu saja ini akan berakibat fatal, karena nantinya kerusakan yang terdapat pada hadits-hadits palsu tersebut akan diterima dan diyakini oleh mereka sebagai kebenaran.
Continue reading

Orang yang Tidak Dilalaikan dengan Urusan Dunia

بسم الله الرحمن الرحيم

Muhammad bin Sirin[1] adalah imam Ahlus sunnah yang sangat terkenal dalam berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan sangat terpercaya dalam meriwayatkannya. Akan tetapi tahukah anda bahwa beliau juga disifati oleh para ulama di jamannya sebagai orang yang sangat wara’ (hati-hati dalam masalah halal dan haram) dan tekun dalam beribadah.

Imam adz-Dzahabi menukil dari Abu ‘Awanah Al-Yasykuri, beliau berkata, “Aku melihat Muhammad bin sirin di pasar, tidaklah seorangpun melihat beliau kecuali orang itu akan mengingat Allah[2].”

Subhanallah, betapa mulianya sifat imam besar ini. Betapa tekunnya beliau dalam beribadah dan berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga sewaktu berada di pasar dan sedang berjual-belipun hal tersebut tampak pada diri beliau.
Continue reading

Anak Angkat dan Statusnya dalam Islam

Mengadopsi anak adalah fenomena yang sering kita jumpai di masyarakat kita, entah karena orang tersebut tidak memiliki keturunan, atau karena ingin menolong orang lain, ataupun karena sebab-sebab yang lain.

Akan tetapi, karena ketidaktahuan banyak dari kaum muslimin tentang hukum-hukum yang berhubungan dengan ‘anak angkat’, maka masalah yang terjadi dalam hal ini cukup banyak dan memprihatinkan. Continue reading

Pilihan Allah Adalah yang Terbaik bagi Hambanya

بسم الله الرحمن الرحيم

Ridha dan Yakin Bahwa Pilihan Allah Ta’ala Adalah yang Terbaik bagi Hamba

Imam Adz-Dzahabi[1] dan Ibnu Katsir[2] menukil dalam biografi shahabat yang mulia dan cucu kesayangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhuma, bahwa pernah disampaikan kepada beliau radhiallahu ‘anhuma tentang ucapan shahabat Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, “Kemiskinan lebih aku sukai daripada kekayaan dan (kondisi) sakit lebih aku sukai daripada (kondisi) sehat.” Maka, al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar, adapun yang aku katakan adalah, “Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya, maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu (selain keadaan yang Allah Ta’ala pilihkan untuknya). Inilah batasan (sikap) selalu ridha (menerima) semua ketentuan takdir dalam semua keadaan (yang Allah Ta’ala) berlakukan (bagi hamba-Nya).” Continue reading

Kemuliaan Pembawa Hadits Nabi (Seri-1)

بسم الله الرحمن الرحيم

عن زيد بن ثابت رضي الله عنه قال: سمعتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقول: ((نَضَّرَ اللهُ امْرَءاً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثاً فَحَفِظَهُ – وفي لفظٍ: فَوَعَاها وَحَفِظَها – حَتَّى يُبَلِّغَهُ، فَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ إلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ

Dari Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Semoga Allah mencerahkan (mengelokkan rupa) orang yang mendengar hadits dariku, lalu dia menghafalnya – dalam lafadz riwayat lain: lalu dia memahami dan menghafalnya –, hingga (kemudian) dia menyampaikannya (kepada orang lain), terkadang orang yang membawa ilmu agama menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya, dan terkadang orang yang membawa ilmu agama tidak memahaminya.” (Hadits yang shahih dan mutawatir).
Continue reading

Loyalitas dalam Islam (Seri 2-Selesai)

Beberapa contoh perbuatan yang menunjukkan loyalitas kepada orang-orang kafir[1]

  • Menyerupai mereka dalam berpakaian, berbicara dan lain-lain.

Karena menyerupai mereka dalam hal-hal tersebut menunjukkan kecintaan kepada mereka. Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.”[2].

Maka diharamkan menyerupai orang-orang kafir dalam hal-hal yang merupakan kekhususan mereka (yang membedakan mereka dengan orang-orang muslim), berupa adat-istiadat, peribadatan, penampilan dan tingkah laku mereka, seperti mencukur jenggot dan memanjangkan kumis, berbicara dengan bahasa mereka tanpa ada keperluan, model pakaian, tata cara makan, minum dan sebagainya. Continue reading

Mengkritisi Keabsahan Hadits-hadits Kitab Ihya’ Ulumiddin

بسم الله الرحمن الرحيم

Kiranya tidak berlebihan kalau kita mengatakan bahwa kitab Ihya’ Ulumiddin adalah termasuk kitab berbahasa Arab yang paling populer di kalangan kaum muslimin di Indonesia, bahkan di seluruh dunia.

Kitab ini dianggap sebagai rujukan utama, sehingga seorang yang telah menamatkan pelajaran kitab ini dianggap telah mencapai kedudukan yang tinggi dalam pemahaman agama Islam.

Padahal, kiranya juga tidak berlebihan kalau kita katakan bahwa kitab ini termasuk kitab yang paling keras diperingatkan oleh para ulama untuk dijauhi, bahkan di antara mereka ada yang merekomendasikan agar kitab ini dimusnahkan! (Lihat kitab Siyaru A’laamin Nubala’, 19/327 dan 19/495-496).

Continue reading

Loyalitas dalam Islam (Seri 1)

بسم الله الرحمن الرحيم

Masalah al-wala’ (loyalitas/kecintaan) dan al-bara’ (berlepas diri/kebencian) adalah masalah yang sangat penting dan ditekankan kewajibannya dalam Islam, bahkan merupakan salah satu landasan keimanan yang agung, yang dengan melalaikannya akan menyebabkan rusaknya keimanan seseorang[1].

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, al-baraa’ah (sikap berlepas diri/kebencian) adalah kebalikan dari al-wilaayah (loyalitas/kecintaan), asal dari al-baraa’ah adalah kebencian dan asal dari al-wilaayah adalah kecintaan, yang demikian itu karena hakikat tauhid adalah (dengan) tidak mencintai selain Allah dan mencintai apa dicintai Allah karena-Nya, maka kita tidak (boleh) mencintai sesuatu kecuali karena Allah dan (juga) tidak membencinya kecuali karena-Nya”[2].

Continue reading