Agungnya Istighatsah Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (1/2): Pengertian, Hukum dan Dalil-dalil Tentang Istighatsah

بسم الله الرحمن الرحيم

Berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dua bentuk ibadah yang sangat dekat dengan keseharian manusia, khususnya hamba-hamba Allah yang shaleh dan dekat dengan-Nya. Merekalah orang-orang yang mampu merealisasikan penghambaan diri yang sebenarnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sempurna, yang tersimpul dalam firman-Nya,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Faaihah: 5).

Continue reading

Download Ebook: Poligami, Bukti Keadilan Hukum Allah

Pembaca setia manisnyaiman.com, silakan download ebook gratis berjudul Poligami, Bukti Keadilan Hukum Allah. Materi dalam ebook ini pernah dipublikasikan secara berseri di situs manisnyaiman.com. Silakan menyebarkan ebook ini selama untuk kepentingan dakwah.

Link download: Download Ebook Poligami, Bukti Keadilan Hukum Allah

Artikel www.manisnyaiman.com

Link terkait:

Sikap seorang mukmin terhadap syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala

Hukum poligami dalam Islam

Hikmah dan manfaat agung poligami

Arti sikap “adil” dalam poligami

Kecemburuan dan cara mengatasinya

Nasihat bagi yang berpoligami dan dipoligami

Anak Nakal, Bagaimana Mengatasinya? (2/3): Sebab Kenakalan Anak Menurut Syariat Islam

Sebab kenakalan anak menurut syariat Islam

Termasuk sebab utama yang memicu penyimpangan akhlak pada anak, bahkan pada semua manusia secara umum, adalah godaan setan yang telah bersumpah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyesatkan manusia dari jalan-Nya yang lurus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ. ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis (setan) berkata, ‘Karena Engkau telah menghukumi saya tersesat, sungguh saya akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat kepada-Mu).’” (QS. Al-A’raf: 16-17). Continue reading

Anak Nakal, Bagaimana Mengatasinya? (1/3): Fenomena Kenakalan Anak

بسم الله الرحمن الرحيم

Mendidik anak merupakan perkara yang mulia tapi gampang-gampang susah dilakukan, karena di satu sisi, setiap orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh dengan akhlak dan tingkah laku terpuji, tapi di sisi lain, mayoritas orang tua terlalu dikuasai rasa tidak tega untuk tidak menuruti semua keinginan sang anak, sampai pun dalam hal-hal yang akan merusak pembinaan akhlaknya. Continue reading

Poligami, Bukti Keadilan Hukum Allah (6/6): Nasihat bagi yang berpoligami dan dipoligami

Nasihat bagi yang berpoligami dan dipoligami[1]

  • Nasihat untuk suami yang berpoligami

– Bersikap adillah terhadap istri-istrimu dan hendaklah selalu bersikap adil dalam semua masalah, sampaipun dalam masalah yang tidak wajib hukumnya, dan janganlah kamu bersikap berat sebelah terhadap salah satu dari istri-istrimu.

– Berlaku adillah terhadap semua anakmu dari semua istrimu, usahakanlah untuk selalu mendekatkan hati mereka, misalnya dengan menganjurkan istri untuk menyusui anak dari istri yang lain, pahamkanlah kepada mereka bahwa mereka semua adalah saudara, dan jangan biarkan ada peluang bagi setan untuk merusak hubungan mereka. Continue reading

Poligami, Bukti Keadilan Hukum Allah (5/6): Kecemburuan dan cara mengatasinya

Kecemburuan dan cara mengatasinya

Cemburu adalah fitrah dan tabiat yang mesti ada dalam diri manusia, yang pada asalnya tidak tercela, selama tidak melampaui batas. Maka dalam hal ini, wajib bagi seorang muslim, terutama bagi seorang wanita muslimah yang dipoligami, untuk mengendalikan kecemburuannya. Karena kecemburuan yang melampaui batas bisa menjerumuskan seseorang ke dalam pelanggaran syariat Allah, seperti berburuk sangka, dusta, mencela[1], atau bahkan kekafiran, yaitu jika kecemburuan tersebut menyebabkannya membenci ketentuan hukum yang Allah syariatkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada ketentuan (syariat) yang diturunkan Allah sehingga Allah membinasakan amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 9). Continue reading

Poligami, Bukti Keadilan Hukum Allah (4/6): Arti sikap “adil” dalam poligami

Arti sikap “adil” dalam poligami

Allah Subhanahu wa Ta’ala merintahkan kepada semua manusia untuk selalu bersikap adil dalam semua keadaan, baik yang berhubungan dengan hak-Nya, maupun hak-hak sesama manusia, yaitu dengan mengikuti ketentuan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam semua itu, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan agamanya di atas keadilan yang sempurna.[1] Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. an-Nahl: 90). Continue reading

Poligami, Bukti Keadilan Hukum Allah (3/6): Hikmah dan manfaat agung poligami

Hikmah dan manfaat agung poligami

Karena poligami disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mempunyai nama al-Hakim, artinya Zat yang memiliki ketentuan hukum yang Mahaadil dan hikmah[1] yang Mahasempurna, maka hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mulia ini tentu memiliki banyak hikmah dan faidah yang agung, di antaranya: Continue reading

Poligami, Bukti Keadilan Hukum Allah (2/6): Hukum poligami dalam Islam

Hukum poligami dalam Islam

Hukum asal poligami dalam Islam berkisar antara ibaahah (mubah/ boleh dilakukan dan boleh tidak) atau istihbaab (dianjurkan).[1]

Adapun makna perintah dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat.” (QS. an-Nisaa’: 3).

Continue reading